TENTANG PENCUCIAN KAKI PADA KHAMIS PUTIH

Belakangan ini ada banyak orang bertanya, mengapa dalam dua tahun ini, di perayaan Ekaristi hari Kamis Putih, Paus melakukan hal yang di luar kebiasaan: tahun lalu Paus membasuh kaki 12 orang penghuni penjara remaja, di antaranya 2 orang remaja putri, dan salah satunya bahkan non-Katolik. Lalu tahun ini, Paus juga membasuh kaki 12 orang di panti jompo dan cacat, beberapa di antaranya non-Katolik dan seorang wanita.

Lalu orang bertanya, apakah sebenarnya Paus boleh melakukan hal itu, adakah ketentuannya?

Untuk membahas tentang hal ini, pertama- tama perlu kita sadari terlebih dahulu bahwa kunjungan ke penjara dan ke panti jompo merupakan perbuatan yang baik dan diajarkan oleh Tuhan Yesus (lih. Mat 25:36-40). Maka di sini Paus nampaknya ingin menekankan misinya sebagai pelayan dan pembawa Kabar Gembira kepada segala bangsa. Namun tidak bisa dipungkiri, tindakan ini menimbulkan beberapa pertanyaan. Beberapa pertanyaan dan pembahasan di bawah ini, kami sarikan dari beberapa sumber, yaitu dari penjelasan apologist Katolik, Jimmy Akin, yang selengkapnya dapat dibaca di link ini, silakan klik, dan juga dari sumber lainnya, yaitu penjelasan ayat-ayat tentang pembasuhan kaki :

1. Apakah yang dikatakan dalam dokumen Gereja tentang pencucian kaki?

Terdapat dua dokumen kunci yang menyebutkan tentang pencucian kaki, demikian:

1. Dokumen yang menuliskan ketentuan perayaan yang terkait dengan Paskah, yang disebut Paschales Solemnitatis, yang dikeluarkan oleh Congregation of Divine Worship (Kongregasi Penyembahan Ilahi), 1988:

“51. Pencucian kaki dari para laki-laki dewasa yang terpilih, menurut tradisi, dilakukan pada hari ini [Kamis Putih], untuk menyatakan pelayanan dan cinta kasih Kristus, yang telah datang “bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani.”

Tradisi ini harus dipertahankan, dan pentingnya maknanya dijelaskan secara sepantasnya.”

2. Dokumen Roman Missal/ Missale Romawi:

10. Setelah Homili, ketika alasan pastoral menyarankan, pencucian kaki dilangsungkan.

Para laki-laki dewasa yang telah dipilih, diarahkan oleh para pelayan untuk duduk di kursi yang telah dipersiapkan di tempat yang layak. Lalu Imam (menanggalkan kasula jika perlu) mendatangi satu persatu, dan dengan bantuan para pelayan, menuangkan air kepada setiap kaki mereka dan mengeringkannya.

Sementara itu sejumlah antifon berikut ini atau lagu-lagu lain yang sesuai dinyanyikan. [...]

13. Setelah Pencucian Kaki, Imam mencuci dan mengeringkan tangannya, mengenakan kasulanya kembali dan kembali ke kursinya dan ia melanjutkan dengan Doa Umat.

Maka di sini dapat dilihat bahwa:

1. Teks memang mengatakan bahwa yang dibasuh/ dicuci kakinya adalah laki-laki. Istilah Latin yang digunakan adalah “viri“, yang artinya adalah laki-laki dewasa.

2. Ritus ini adalah optional , bukan keharusan melainkan disarankan (ketika alasan pastoral menyarankan).

3. Tidak disebutkan berapa banyak jumlah orang yang dicuci kakinya. Tidak dikatakan harus 12 orang.

4. Antifon yang disertakan di sana tidak menyebutkan “rasul”. Antifon tersebut menggunakan istilah yang lebih umum, yaitu “murid”, atau kalau tidak, tidak menyebutkan istilah apapun, hanya menunjukkan teladan Yesus untuk kita ataupun perintah-Nya untuk mengasihi satu sama lain.

2. Bagaimana keputusan Paus Fransiskus terkait dengan dokumen ini?

Keputusan Paus Fransiskus dalam hal ini memang tidak sesuai dengan apa yang ditentukan oleh teks dokumen. Dalam kunjungannya ke penjara remaja, Paus memutuskan untuk tidak membasuh laki-laki dewasa, namun remaja putra dan termasuk dua orang remaja putri. Namun fakta bahwa salah satu dari mereka adalah muslim, tidak bersangkutan dengan teks, sebab teks tidak menyebutkan apakah yang dibasuh kakinya harus Katolik. Adalah wajar jika orang menyimpulkan bahwa yang dibasuh kakinya semestinya Katolik, namun secara eksplisit memang tidak disebutkan.

Juga, dari point 1, kita ketahui bahwa hal pembasuhan kaki bukanlah merupakan bagian yang mutlak harus ada dalam liturgi perayaan Kamis Putih. Dikatakan di sana, adalah bilamana/ ketika alasan pastoral menyarankan (“where a pastoral reason suggest it“). Nampaknya, Paus Fransiskus memutuskan untuk melakukannya dengan cara yang berbeda dari para Paus pendahulunya, demi menyampaikan maksud pastoral untuk menjangkau kaum muda yang tersisih di penjara dan juga kaum manula, tanpa membeda-bedakan agamanya. Pada akhirnya Paus, sebagai wakil Kristus, berhak untuk menginterpretasikan teks dokumen ketentuan Gereja, sesuai dengan maksud utamanya.

3. Apakah Paus melakukan hal itu karena mengembalikan tradisi “Mandatum Pauperam?”

Gereja abad-abad awal telah mempunyai kebiasaan membasuh kaki pada perayaan Kamis Putih. Caremoniale episcoporum (ii, 24) menyerahkan kepada Uskup keputusan untuk membasuh kaki 13 orang miskin -yang kemudian dikenal sebagai tradisi Mandatum Pauperam- atau membasuh 13 orang yang ada di bawah kepemimpinannya, menurut kebiasaan Gereja setempat yang dipimpinnya. Tahun 694 di Sinoda Toledo semua uskup dan imam superior diharuskan melakukan pembasuhan kaki, orang-orang yang ada di bawah kepemimpinan mereka. Di abad ke-12, dimulai kebiasaan membasuh kaki 12 orang sub-diakon (Mandatum Fratrum) oleh Paus dalam perayaan Misa yang dipimpinnya, dan kemudian Paus membasuh kaki 13 orang miskin (Mandatum Frateram) setelah makan malam. Nampaknya di zaman itu terdapat dua jenis pembasuhan kaki pada hari Kamis Putih tersebut, untuk penjabaran selanjutnya, silakan klik di link ini.

Mungkinkah tradisi membasuh kaki kaum miskin/ tersisih ini yang ingin dilakukan oleh Paus? Mungkin saja. Hanya saja karena Paus memasukkan upacara pembasuhan kaki kaum tersisih ini ke dalam liturgi Kamis Putih, maka banyak orang mempertanyakannya. Namun di sini kita melihat secara obyektif, bahwa hal mencuci kaki para kaum tersisih itu bukan ide Paus yang baru ada saat ini. Hal itu sudah dilakukan sejak lama, hanya saja, dulu memang tidak dilakukan di dalam perayaan Ekaristi.

4. Jika Paus melakukan hal yang melampaui apa yang dikatakan oleh Missale Romawi, apakah boleh?

Ya, boleh saja. Paus tidak butuh meminta izin untuk membuat kekecualian tentang bagaimana suatu ketentuan gerejawi itu dipenuhi. Sebab Paus adalah pembuat hukum Gereja, maka ia merangkap sebagai legislator, interpreter dan executor/ pelaksana hukum tersebut, yang dapat memutuskan untuk melakukan sesuatu sesuai dengan pertimbangan kebijaksanaannya sendiri untuk menyampaikan pesan utama Injil, sesuai dengan keadaan Gereja pada saat tertentu.

Juru bicara kepausan, Fr. Thomas Rosica, mengatakan bahwa maksud Paus Fransiskus merayakan Misa Kamis Putih di penjara Roma (tahun 2013) adalah untuk menekankan esensi makna Injil di hari Kamis Putih, dan suatu tanda sederhana dan indah dari seorang bapa yang ingin merangkul semua yang terpinggirkan di masyarakat…. Itu hendaknya dipandang sebagai tanda sederhana dan spontan dari seorang Uskup Roma, untuk maksud menunjukkan kasih, pengampunan dan belas kasih.

Adalah hak Paus untuk memutuskan sesuai dengan keadaan Gereja di Roma, bagaimana ia hendak menyampaikan maksud utama pesan Injil di hari Kamis Putih tersebut.

5. Kalau Paus dapat melakukan hal itu, dapatkah imam yang lain melakukannya?

Secara teknis, tidak. Jika seorang Paus menilai bahwa sesuai dengan keadaan khusus dari perayaan yang dipimpinnya maka sebuah kekecualian dibuat, namun hal itu tidak menciptakan pola hukum yang memperbolehkan semua Uskup dan imam yang lain untuk melakukan hal yang sama.

Sebab tidak semua orang memiliki keadaan seperti Paus. Mereka tidak mempunyai keadaan pastoral dan otoritas hukum yang sama dengan Paus, maka wewenang merekapun berbeda dengan wewenang Paus dalam hal ini.

6. Bagaimana kita memahami ritus ini?

Umumnya orang berpandangan bahwa ritus pembasuhan kaki berhubungan dengan peringatan Yesus membasuh kaki ke-12 murid-Nya, dan karena itu, disebutkan sebagai alasan mengapa yang dibasuh kakinya adalah hanya laki-laki. Namun teks dokumen di atas (lihat no.1) memang tidak menyebutkan angka 12 orang. Kisah pencucian kaki diambil dari Injil Yohanes dan di perikop itu disebutkan istilah “murid-murid” dan bukan “rasul-rasul”, namun kalau Injil tersebut dibaca dalam kesatuan dengan ketiga Injil lainnya, dapat dimengerti bahwa peristiwa pembasuhan kaki pada saat Perjamuan Terakhir itu, memang dilakukan Yesus dengan ke 12 rasul-Nya. Sebab Injil Matius dan Markus menyebut bahwa di Perjamuan Terakhir itu Yesus makan bersama dengan ke-12 murid-Nya (lih. Mat 26:20; Mrk 14:17); dan Injil Lukas menyebutkan bahwa Yesus makan bersama dengan rasul-rasul-Nya (lih. Luk 22:14). Namun adalah fakta bahwa Yohanes memilih kata “murid-murid”, bukan “rasul-rasul” untuk mengisahkan peristiwa pembasuhan kaki dalam Injilnya; dan memang hanya Injil Yohanes yang mengisahkan tentang pembasuhan kaki ini. Maka kemudian Gereja melestarikannya upacara pembasuhan kaki untuk maksud yang lebih luas, dan tidak terbatas kepada para rasul. Sebagaimana dicatat dalam sejarah, ada pembasuhan kaki juga dilakukan kepada sejumlah kaum miskin. Bahkan upacara ini dilestarikan juga di zaman Abad Pertengahan oleh para raja dan ratu Katolik -seperti yang dilakukan oleh para Raja Inggris dan Ratu Isabella II dari Spanyol[1]- yang mencuci kaki para bawahannya/ para kaum miskin di kerajaan mereka. Namun tentu tidak pada saat perayaan Misa kudus.

Dengan demikian, nampaknya pembasuhan kaki memang memiliki arti yang lebih luas daripada mandat Kristus kepada para Rasul untuk mengenangkan peristiwa kurban Tubuh dan Darah Kristus dengan mengucap syukur/ berkat, memecah-mecah roti dan membagi-bagikan roti tersebut, yang terjadi oleh perkataan konsekrasi dalam perayaan Ekaristi. Sebab untuk hal yang kedua ini, Injil jelas menyebutkan “keduabelas murid” atau “rasul-rasul”, dan dengan demikian, meng-institusikan Ekaristi kepada kedua belas Rasul-Nya, yang kemudian diteruskan oleh mereka kepada para penerus mereka, yaitu para Uskup dan imam melalui tahbisan. Kepada merekalah Tuhan Yesus memberikan kuasa untuk menghadirkan kembali kurban Tubuh dan Darah-Nya (lih. Luk. 22:19).

Sedangkan tentang pembasuhan kaki penekanannya tidak untuk menghadirkan kembali peristiwa itu, tetapi untuk memberikan teladan pelayanan dan kasih Kristus.

Maka tak mengherankan, jika Paschale Solemnitatis kemudian mengatakan:

“51. Pencucian kaki dari para laki-laki dewasa yang terpilih, menurut tradisi, dilakukan pada hari ini [Kamis Putih], untuk menyatakan pelayanan dan cinta kasih Kristus, yang telah datang “bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani.”

Tradisi ini harus dipertahankan, dan pentingnya maknanya dijelaskan secara sepantasnya.”

Karena maksud pencucian kaki ini adalah untuk menyatakan pelayanan dan cinta kasih Kristus, maka tidak ada kaitan langsung antara upacara pembasuhan kaki ini dengan tahbisan imam. Maka sekalipun dari 12 orang yang dibasuh oleh Paus itu ada wanitanya, tidak dapat dikatakan bahwa Paus setuju untuk menahbiskan wanita. Ketika ditanya perihal tahbisan wanita, Paus Fransiskus menjawab, “Sehubungan dengan tahbisan wanita, Gereja telah memutuskan dan mengatakan tidak. Paus Yohanes Paulus II telah mengatakan demikian, dengan rumusan yang definitif. Pintu itu sudah tertutup.” Paus Fransiskus mengacu kepada dokumen yang dituliskan oleh Paus Yohanes Paulus II, Ordinatio Sacerdotalis. Di sana Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa Gereja tidak berhak menahbiskan wanita, dan pandangan ini harus dipegang oleh semua, sebagai sesuatu yang definitif.

7. Kesimpulan

Pada akhirnya baik diingat bahwa ritus pembasuhan kaki adalah ritus optional, dan baru dimasukkan ke dalam bagian Misa pada tahun 1955 oleh Paus Pius XII. Maka walaupun memiliki sejarah yang panjang, namun detail pelaksanaannya memang mengalami perubahan dari masa ke masa. Namun karena tidak menjadi ritus yang mutlak, maka hal tersebut memungkinkan untuk disesuaikan oleh pihak Tahta Suci, jika kelak memang diputuskan demikian.

Jika hal pencucian kaki ini menimbulkan banyak pertanyaan baik dari kalangan umat maupun imam, tentunya ini akan ditanyakan kepada Kongregasi Penyembahan Ilahi, yang berwewenang untuk menjelaskannya lebih lanjut. Namun sejauh ini, sepanjang pengetahuan kami, belum ada pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh Kongregasi tersebut, selain dari ketentuan Paschales Solemnitatis, 51, seperti telah disebutkan di atas. Maka sebelum dikeluarkan penjelasan lebih lanjut, sebaiknya kita berpegang kepada ketentuan tersebut, namun tetap menghormati keputusan Paus yang pasti mempunyai pertimbangan tersendiri, jika ia memutuskan untuk melakukan kekecualian ataupun penyesuaian dari ketentuan itu.

Posted in Liturgi | Leave a comment

MENGAPA GEREJA KATOLIK MENENTANG “PERKAHWINAN HOMOSEKSUAL”?

Gereja Katolik mengajarkan bahwa perkawinan bukan merupakan hubungan ‘apa saja’ antara manusia. Perkawinan ditentukan oleh Allah Sang Pencipta dengan kodratnya tersendiri, dengan sifat-sifat dan maksudnya yang hakiki (lih. Gaudium et Spes 48). Maka perkawinan hanya dapat diadakan antara seorang pria dan seorang wanita, yang dengan saling memberikan diri yang sepantasnya dan eksklusif hanya antara mereka berdua, mengarah kepada persekutuan pribadi mereka. Dengan cara ini, mereka saling menyempurnakan dalam rangka bekerjasama dengan Tuhan di dalam penciptaan dan pengasuhan (upbringing) kehidupan-kehidupan manusia yang baru.

Berikut ini adalah ringkasan dari dokumen yang dikeluarkan oleh Kongrgasi Ajaran Iman tentang beberapa pertimbangan mengapa Gereja tidak menyetujui pengakuan legal/ hukum terhadap ‘perkawinan’ homoseksual (homosexual union), untuk teks selengkapnya, klik di sini:

1. Perkawinan ditentukan oleh Allah dengan kodrat, sifat dan esensi tertentu

Gereja Katolik mengajarkan bahwa perkawinan bukanlah hanya terbatas pada hubungan antara manusia, namun hubungan yang ditentukan oleh Sang Pencipta dengan kodrat tertentu, dengan sifat esensi dan maksud yang tertentu. (#2)

Perkawinan dimaksudkan Allah agar pasangan manusia itu -yaitu antara seorang laki-laki dan seorang perempuan- mengambil bagian dalam karya penciptaan Tuhan dan pendidikan/pengasuhan kehidupan baru. (#2)

2. Tiga elemen dasar perkawinan menurut rencana Tuhan

Tiga prinsip dasar tentang rencana Allah untuk perkawinan adalah (#3)

1. Manusia sebagai gambaran Allah, diciptakan “laki-laki dan perempuan” (Kej 1:27).

Pria dan wanita adalah sama sebagai pribadi dan saling melengkapi sebagai laki-laki dan perempuan. Seksualitas adalah sesuatu yang tidak hanya berhubungan dengan hal fisik dan biologi, tetapi telah diangkat ke tingkat ‘pribadi’, di mana kodrat dan roh disatukan.

2. Perkawinan ditetapkan oleh Tuhan sebagai bentuk kehidupan di mana sebuah persekutuan pribadi dinyatakan dengan melibatkan kemampuan seksual.

“Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” (Kej 2:24)

3. Tuhan telah menghendaki untuk memberikan kepada persatuan antara pria dan wanita sebuah partisipasi/ kerjasama yang istimewa di dalam karya penciptaan-Nya.

Oleh karena itu Allah memberkati pria dan wanita dengan perkataan, “Beranakcuculah dan bertambah banyak” (Kej 1:28). Dengan demikian, di dalam rencana Tuhan, kodrat perkawinan adalah saling melengkapi dalam hal seksual dan kemampuan berkembang biak. Persatuan homoseksual tidak dapat memberikan kontribusi yang layak terhadap prokreasi dan kelanjutan generasi umat manusia (survival of the human race).

Selanjutnya, persatuan perkawinan antara pria dan wanita telah diangkat oleh Kristus ke martabat sakramen. Gereja mengajarkan bahwa perkawinan Kristiani adalah tanda yang nyata akan perjanjian Kristus dan Gereja (lih. Ef 5:32). Makna Kristiani tentang perkawinan meneguhkan dan memperkuat persatuan perkawinan antara pria dan wanita.

3.Perbuatan homoseksual adalah perbuatan yang menyimpang

Kitab Suci mengecam perbuatan homoseksual (lih. Rm 1:24-27, 1Kor 6:10; 1Tim 1:10), karena secara mendasar perbuatan itu menyimpang. Ajaran Kitab Suci ini tentu tidak memperbolehkan kita untuk menyimpulkan bahwa mereka yang mengalami kecenderungan homoseksual ini bertanggungjawab untuk keadaan yang khusus ini, tetapi ajaran ini menyatakan bahwa tindakan-tindakan homoseksual secara mendasar menyimpang.” (CDF, Deklarasi, Persona Humana (29 Desember, 1975), 8). Ketetapan moral ini ditemukan di banyak tulisan Kristen di abad-abad awal[1] dan secara mutlak disetujui dan diterima oleh Tradisi Katolik. Perkawinan adalah kudus, sedangkan tindakan homoseksual menentang kodrat hukum moral. Tindakan-tindakan homoseksual “melawan hukum kodrat, karena kelanjutan kehidupan tidak mungkin terjadi waktu persetubuhan. Perbuatan itu tidak berasal dari satu kebutuhan benar untuk saling melengkapi secara afektif dan seksual. Bagaimanapun perbuatan itu tidak dapat dibenarkan.” (Katekismus Gereja Katolik 2357).

Namun demikian, menurut ajaran Gereja, mereka yang mempunyai kecenderungan homoseksual harus diterima dengan hormat, dengan belas kasih dan dengan sensitivitas. Setiap tanda diskriminasi yang tidak adil yang dikarenakan oleh kecenderungan tersebut harus dihindari. “Mereka harus dilayani dengan hormat, dengan kasih sayang dan dengan biiaksana. Orang jangan memojokkan mereka dengan salah satu cara yang tidak adil.” (KGK 2358). Mereka, seperti halnya semua umat beriman, dipanggil untuk hidup murni, namun kecenderungan homoseksual tetaplah menyimpang (KGK 2358) dan perbuatan homoseksual adalah dosa melawan kemurnian (KGK 2396). (#4) Dengan demikian, tidak ada dasar untuk mempertimbangkan persatuan homoseksual sebagai sesuatu yang mirip ataupun bahkan sedikit menyerupai gambaran rencana Tuhan untuk perkawinan dan keluarga.

4. Sikap Gereja: menolak perbuatan homoseksual, namun menolak diskriminasi terhadap kaum homoseksual

Sikap yang diajarkan Gereja adalah: menolak untuk menyetujui perbuatan-perbuatan homoseksual, namun juga menolak diskriminasi yang tidak adil terhadap mereka yang mempunyai kecenderungan homoseksual. (#5)

Gereja mengajarkan bahwa penghormatan kepada orang- orang yang homoseksual tidak dapat mengarah kepada menyetujui tindakan homoseksual atau kepada pengakuan persatuan homoseksual (homosexual union) secara hukum. Kesejahteraan umum mensyaratkan bahwa hukum mengenali, mendukung dan melindungi perkawinan sebagai dasar keluarga, unit terkecil dalam masyarakat. Pengakuan secara hukum akan persatuan homoseksual atau penempatan hal itu sejajar dengan perkawinan akan berarti tidak saja sebagai pengakuan akan tindakan/pola tingkah laku yang menyimpang tersebut, tetapi juga menghalangi nilai- nilai dasar yang menjadi warisan bersama umat manusia. Gereja tidak dapat gagal untuk mempertahankan nilai- nilai ini, demi kebaikan para pria dan wanita dan demi kebaikan masyarakat itu sendiri.

Di area di mana ‘perkawinan’ homoseksual dilegalkan, maka oposisi yang jelas merupakan tugas semua umat Katolik. Seorang Katolik harus menghindari kerjasama formal untuk pelaksanaan/ penerapan hukum itu, sedapat mungkin, juga menghindari kerjasama secara material, di tingkat penerapannya.

5. Hukum yang melegalkan ‘perkawinan’ homoseksual tidak sejalan dengan akal budi yang benar

Hukum yang melegalkan ‘perkawinan’ homoseksual tidak sejalan dengan akal budi yang benar/ adil, sebab hukum itu memberi jaminan hukum terhadap hubungan sesama jenis seperti kepada pria dan wanita yang menikah, dan dengan demikian mengaburkan nilai-nilai moral dasar tertentu dan memerosotkan makna perkawinan. (#6)

Kesatuan homoseksual kekurangan dalam hal biologis dan anthropologis bagi perkawinan, yang menjadi dasar, diberikannya jaminan pengakuan legal/ hukum. Sebab ‘perkawinan’ sesama jenis tidak dapat memberikan kontribusi yang selayaknya bagi pro-kreasi dan survival suatu suku bangsa manusia, sebab tidak ada kemungkinan meneruskan kehidupan baru. (#7)

Pengalaman menunjukkan dari ‘perkawinan’ ini, terjadi hambatan bagi perkembangan anak-anak yang ada dalam asuhan mereka, karena mereka kekurangan figur kebapaan atau figur keibuan. Memperbolehkan mereka mengadopsi anak-anak, sesungguhnya merupakan tindakan yang melukai anak-anak tersebut, sebab menjadi tidak kondusif bagi perkembangan anak-anak tersebut secara utuh. (#7)

6. Konsekuensi pengakuan hukum perkawinan homoseksual dapat berpengaruh negatif terhadap kepentingan bersama

Konsekuensi dari pengakuan hukum terhadap perkawinan homoseksual adalah perubahan definisi perkawinan yang dapat berpengaruh negatif terhadap kepentingan bersama, terhadap perkembangan kemasyarakatan yang layak. (#8)

7. Pengakuan hukum perkawinan homoseksual tidak sama dengan pengakuan terhadap hak-hak sebagai warganegara

Tidaklah valid argumen yang mengatakan pengakuan hukum dari ‘perkawinan’ homoseksual adalah agar mereka diakui haknya sebagai warganegara. Sebab kenyataannya, mereka akan tetap dapat menggunakan hak-hak mereka menurut hukum sebagaimana para warganegara lainnya atas dasar otonomi pribadi. (#9)

8. Semua umat Katolik berkewajiban menentang pengakuan hukum terhadap perkawinan sesama jenis

Semua umat Katolik berkewajiban untuk menentang pengakuan legal/ hukum terhadap ‘perkawinan’ sesama jenis (homosexual union), dan tokoh politik Katolik berkewajiban untuk melakukannya dengan cara yang khusus sesuai dengan tanggungjawab mereka sebagai seorang tokoh politik. (#10)

9. Penghormatan kepada kaum homoseksual tidak dapat mengarah kepada persetujuan terhadap prilaku homoseksual ataupun pengakuan hukum terhadap perkawinan homoseksual

Gereja mengajarkan bahwa penghormatan kepada orang-orang yang mempunyai kecenderungan homoseksual tidak dapat mengarah kepada persetujuan terhadap prilaku homoseksual ataupun pengakuan legal/ hukum terhadap ‘perkawinan’ sesama jenis (homosexual union). Pengakuan hukum terhadap ‘perkawinan’ homoseksual atau menempatkan hubungan tersebut setingkat dengan perkawinan [heteroseksual], berarti tidak saja persetujuan terhadap prilaku yang menyimpang, dengan konsekuensi menjadikannya model bagi masyarakat sekarang, tetapi juga akan mengaburkan nilai-nilai dasar yang menjadi warisan bersama umat manusia. Gereja tidak dapat gagal untuk mempertahankan nilai-nilai ini, demi kebaikan para laki-laki maupun perempuan, dan demi kebaikan masyarakat itu sendiri. (#11)

Sumber:

Diterjemahkan dan disarikan dari dokumen CDF (Congregation for the Doctrine of the Faith, Considerations regarding Proposals to Give Legal Recognition to Unions between Homosexual Persons). Dokumen tersebut disetujui oleh Paus Yohanes Paulus II, pada audiensi tanggal 28 Maret 2003.

Posted in Perkahwinan | Leave a comment

APAKAH ERTI EENS (EXTRA ECCLESIAM NULLA SALUS)?

Terjemahan EENS (Extra Eccesiam nulla salus) adalah: di luar Gereja Katolik tidak ada keselamatan. Banyak orang salah paham dengan ajaran ini, dan menganggap Gereja Katolik ‘arogan‘ karena mengajarkan EENS. Namun sebenarnya kalau kita memahami alasannya, maka kita melihat bahwa Kristuslah yang sesungguhnya memberikan prinsip EENS ini, yaitu: (1) Gereja tidak pernah terlepas dari Kristus; (2) Ajaran iman dan baptisan yang diperlukan untuk keselamatan dipercayakan kepada Gereja; (3) Gereja menjadi sarana keselamatan.

Kristus menyatakan bahwa Dia adalah kepala dan Gereja adalah Tubuh mistik Kristus, serta Dia adalah mempelai pria dan Gereja adalah mempelai wanita (lih. Kol 1:18; Ef 5:22-33). Dengan demikian, kalau Kristus sendiri mendirikan Gereja di atas rasul Petrus (lih. Mat 16:16-19) dan Kristus sendiri mengajarkan monogami – satu pria dan satu wanita dalam perkawinan (lih. Ef 5:31; bdk. Why 21:9) – maka Gereja hanya mungkin satu dan tidak mungkin terpisahkan dari Kristus, sama seperti tubuh tidak terpisahkan dari kepalanya (lih. Ef 5:23).

Kristus mengajarkan perlunya iman dan Pembaptisan untuk keselamatan (lih. Mrk 16:16, Yoh 3:5, Mat 28:19). Dengan demikian Kristus menegaskan perlunya Gereja -yaitu Gereja yang didirikan oleh-Nya di atas Rasul Petrus- yang melaluinya kita memperoleh ajaran iman, baptisan dan mengambil bagian dalam kehidupan-Nya serta menjadi anggota-anggota Tubuh-Nya. Namun demikian, ajaran ini tidak untuk dipertentangkan dengan kehendak Allah untuk menyelamatkan semua umat manusia (lih. 1 Tim 2:4).

Kita melihat bahwa Kristus ingin menjadikan Gereja menjadi sarana keselamatan. Namun demikian, EENS ini juga harus dimengerti dengan benar, yaitu seperti yang dimengerti oleh Gereja: (a) kemungkinan yang nyata akan keselamatan di dalam Kristus untuk semua umat manusia; dan (b) pentingnya Gereja untuk keselamatan manusia (lih. Dominus Iesus 20). Selengkapnya tentang Deklarasi Dominus Iesus (http://katolisitas.org/3482/dominus-iesus) serta ringkasan penjelasannya di sini: http://katolisitas.org/3489/penjelasan-tentang-deklarasi-dominus-iesus.

Dua hal tersebut harus dimengerti secara seimbang, karena menekankan yang satu dan melupakan yang lain dapat menyebabkan pengertian yang salah. Di satu sisi, memang kita harus melihat bahwa Kristus menginginkan keselamatan bagi seluruh umat manusia (lih. 1Tim 2:4), namun di sisi yang lain, Kristus menghendaki agar keselamatan itu disampaikan kepada semua bangsa oleh Gereja-Nya (lih. Mat 28:1-20). Keselamatan itu diperoleh karena kasih karunia Allah, oleh iman (Ef 2:8) yang bekerja oleh kasih (Gal 5:6); sebab tanpa iman, tidak ada seorangpun yang dapat menyenangkan Allah (lih. Ibr 11:1). Iman yang menjadi syarat mutlak keselamatan ini adalah iman yang adikodrati, yaitu percaya akan adanya Tuhan, yang memberi upah bagi orang yang dengan tulus mencari Dia (lih. Ibr 11:6). Maka orang yang dengan tulus seturut hati nuraninya mencari Allah -yang bukan karena kesalahannya sendiri tidak sampai kepada pengenalan akan Kristus dan Gereja-Nya, namun hidup dalam kasih yang sempurna – dapat diselamatkan oleh jasa Kristus, karena orang tersebut juga tergabung dalam Gereja-Nya, dalam keinginan (lih. KGK 847; bdk. LG 16).

Namun demikian kita menyadari bahwa Gereja, sebagai Tubuh mistik Kristus – diperlukan untuk keselamatan, karena persatuannya dengan Kristus. Oleh karena itu, bagi orang yang mengetahui bahwa Gereja Katolik didirikan oleh Kristus dan diperlukan untuk keselamatan, namun tidak mau masuk atau tinggal di dalamnya, maka ia tidak dapat diselamatkan (lih. KGK 846; bdk. LG 14).

Maka Konsili Vatikan II tidak mengubah ajaran EENS (Di luar Gereja tidak ada keselematan) yang sudah berakar sejak abad- abad awal. Namun Konsili Vatikan II menyampaikan rumusan ajaran tersebut dengan kalimat yang berbeda, yaitu dengan kalimat positif, sebagaimana disebutkan dalam Katekismus Gereja Katolik:

“Di luar Gereja tidak ada keselamatan”

KGK 846 Bagaimana dapat dimengerti ungkapan ini yang sering kali diulangi oleh para bapa Gereja? Kalau dirumuskan secara positif, ia mengatakan bahwa seluruh keselamatan datang dari Kristus sebagai Kepala melalui Gereja, yang adalah Tubuh-Nya:

“Berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi, konsili mengajarkan, bahwa Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam Tubuh-Nya, yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan baptis, Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang melalui baptis bagaikan pintunya. Maka dari itu andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan” (Lumen Gentium 14).

KGK 847 Penegasan ini tidak berlaku untuk mereka, yang tanpa kesalahan sendiri tidak mengenal Kristus dan Gereja-Nya:

“Sebab mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendak-Nya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal” (Lumen Gentium 16; Bdk. DS 3866 – 3872).

KGK 848 “Meskipun Allah melalui jalan yang diketahui-Nya dapat menghantar manusia, yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil, kepada iman yang merupakan syarat mutlak untuk berkenan kepada-Nya, namun Gereja mempunyai keharusan sekaligus juga hak yang suci, untuk mewartakan Injil” (Ad Gentes 7) kepada semua manusia.

Ajaran tentang EENS inilah yang mendorong Gereja Katolik untuk melakukan karya-karya misi ke seluruh dunia.

Selanjutnya, yang terhubung dengan Gereja Katolik adalah: 1) Semua orang yang dipanggil ke dalam kesatuan katolik umat Allah; 2) Mereka yang tergabung sepenuhnya dalam serikat Gereja; 3) Mereka yang disebut Kristen walaupun tidak mengakui iman Katolik secara keseluruhan, atau tidak memelihara kesatuan di bawah kepemimpinan Paus sebagai penerus Rasul Petrus.

Selengkapnya, hal ini dijabarkan dalam Katekismus sebagai berikut:

KGK 836 “Jadi kepada kesatuan katolik Umat Allah itulah, yang melambangkan dan memajukan perdamaian semesta, semua orang dipanggil. Mereka termasuk kesatuan itu atau terarah kepadanya dengan aneka cara, baik kaum beriman katolik, umat lainnya yang beriman akan Kristus, maupun semua orang tanpa kecuali, yang karena rahmat Allah dipanggil kepada keselamatan” (LG 13).

KGK 837 Dimasukkan sepenuhnya ke dalam serikat Gereja mereka, yang mempunyai Roh Kristus, menerima baik seluruh tata susunan Gereja serta semua upaya keselamatan yang diadakan di dalamnya, dan dalam himpunannya yang kelihatan digabungkan dengan Kristus yang membimbingnya melalui Imam Agung dan para Uskup, dengan ikatan-ikatan ini, yakni: pengakuan iman, Sakramen-sakramen dan kepemimpinan gerejani serta persekutuan. Tetapi tidak diselamatkan orang, yang meskipun termasuk anggota Gereja namun tidak bertambah dalam cinta kasih; jadi yang dengan badan memang berada dalam pangkuan Gereja, melainkan tidak dengan hatinya” (LG 14).

KGK 838 “Gereja tahu, bahwa karena banyak alasan ia berhubungan dengan mereka, yang karena dibaptis mengemban nama Kristen, tetapi tidak mengakui ajaran iman seutuhnya atau tidak memelihara kesatuan persekutuan di bawah pengganti Petrus” (LG 15). “Siapa yang percaya kepada Kristus, dan menerima Pembaptisan dengan baik, berada dalam semacam persekutuan dengan Gereja Katolik, walaupun tidak sempurna” (UR 3). Persekutuan dengan Gereja-gereja Ortodoks begitu mendalam “bahwa mereka hanya kekurangan sedikit saja untuk sampai kepada kepenuhan yang membenarkan satu perayaan bersama Ekaristi Tuhan” (Paulus VI, Wejangan 14 Desember 1975 Bdk. UR 13-18).

Dasar dari Kitab Suci:

Mrk 16:16- Yesus mengajarkan syarat agar orang dapat diselamatkan, yaitu percaya dan dibaptis.

Mat 28: 19-20- Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk mewartakan Injil dan membaptis segala bangsa, dengan demikian menunjukkan peran Gereja sebagai sarana keselamatan.

Mat 16:16-19: Yesus mendirikan Gereja di atas rasul Petrus

Luk 10:16 – Yesus mengajarkan pentingnya mendengarkan utusan Kristus, yang diwakili oleh Gereja.

Ef 5; Ef 5:23 – Gereja adalah tubuh mistik Kristus dan mempelai wanita dengan Kristus sebagai kepala dan mempelai pria.

Yoh 3:5- Yesus mengajarkan pentingnya Baptisan untuk keselamatan.

1Tim 2:4- Allah menghendaki semua orang diselamatkan

Ibr 11:6- Hanya dengan iman orang dapat berkenan kepada Allah, yaitu iman akan adanya Allah yang memberi upah pada orang yang sungguh mencari Dia

Dasar dari Tradisi Suci:

St. Ignatius dari Antiokhia (-67):

“Jangan tertipu, saudara-saudaraku: jika seseorang mengikuti seorang pembuat skisma, ia tidak memperoleh Kerajaan Allah; jika seseorang berjalan di dalam ajaran yang aneh ia tidak mengambil bagian di dalam kisah sengsara (Passio) Kristus. Maka, perhatikanlah, untuk menggunakan satu Ekaristi, sehingga apapun yang kamu lakukan, kamu lakukan sesuai kehendak-Nya: Sebab tubuh Tuhan Yesus Kristus adalah satu, dan satu piala dalam persatuan dengan darah-Nya; satu altar, sebagaimana satu uskup, dengan imam dan… para diakon.” (Letter to Philadelphians 3:3- 4:1)

“…Jika seseorang tidak berada di dalam tempat kudus (gereja), ia kekurangan roti Tuhan. Dan jika doa satu atau dua orang sangat besar kuasanya, betapa lebih lagi doa uskup dan seluruh Gereja. Barangsiapa yang gagal bergabung dalam penyembahanmu menunjukkan kesombongannya, dengan kenyataan bahwa ia menjadi seorang skismatik. Ada tertulis, “Tuhan menolak orang yang sombong”. Mari kita, dengan sungguh menghindari melawan uskup sehingga kita dapat tunduk kepada Tuhan.” (Letter to Ephesians, 3-5)

St. Yustinus Martir (100-165)

“Kami telah diajar bahwa Kristus…. adalah Sang “Logos” yang daripada-Nya semua umat manusia mengambil bagian (Yoh 1:9). Maka, mereka yang hidup menurut akal budi [dalam bahasa Yunani, logos]sesungguhnya adalah orang-orang Kristiani, meskipun mereka dianggap sebagai atheis, seperti orang-orang Yunani, Socrates, Heraclitus dan orang lainnya yang seperti mereka …. Mereka yang hidup sebelum Kristus tetapi tidak hidup menurut akal budi [logos] adalah orang-orang yang jahat dan musuh Kristus …., sedangkan mereka yang hidup saat itu dan saat ini menurut akal budi [logos] adalah orang-orang Kristiani. Orang-orang seperti ini dapat menjadi percaya diri dan tidak takut.” (First Apology 46 [A.D. 151]).

St. Irenaeus (130-202)

“Di dalam Gereja, Tuhan telah menempatkan para Rasul, nabi, pengajar dan setiap pekerjaan Roh. Tanpa-Nya [Roh Kudus] tak seorangpun dari mereka mengambil bagian, mereka yang tidak menyesuaikan diri dengan Gereja, menipu diri mereka sendiri tentang hidup dengan pikiran yang jahat, bahkan lebih buruk dengan cara bertindak. Di mana Gereja berada, di sanalah Roh Allah, di mana Roh Allah beradam di sanalah Gereja dengan semua rahmat.” (Against Heresies3:24:1 [A.D. 189])

“[Orang yang spiritual] harus juga menilai mereka yang menyebabkan skisma, yang kekurangan dalam kasih Tuhan, dan yang memperhatikan keuntungan mereka sendiri daripada kesatuan Gereja; dan yang demi alasan yang remeh, atau alasan yang terjadi pada mereka, memotong-motong dan membagi-bagi tubuh Kristus yang agung dan mulia dan di dalam mereka terdapat… orang-orang yang mengumbar perkataan tentang damai, sementara mereka menyebabkan perang, dan benar-benar menapis nyamuk namun menelan unta (Mat 23:24). Sebab mereka tidak dapat menghasilkan reformasi yang cukup penting untuk menggantikan kejahatan yang ditimbulkan akibat skisma … Pengetahuan yang benar adalah yang terdapat di dalam ajaran-ajaran para Rasul dan konstitusi yang kuno dari Gereja di seluruh dunia, dan pernyataan yang khas tentang tubuh Kristus menurut suksesi para Uskup, yang dengannya mereka telah menurunkan Gereja itu yang telah ada di setiap tempat [yaitu Gereja Katolik].” (ibid., 4:33:7–8)

Klemens dari Aleksandria (150-211)

“Sebelum kedatangan Tuhan, filosofi diperlukan untuk justifikasi orang-orang Yunani; sekarang itu berguna untuk kesalehan … sebab filosofi membawa orang-orang Yunani kepada Kristus sebagaimana hukum Taurat membawa orang-orang Yahudi [kepada Kristus](Miscellanies1:5 [A.D. 208]).

Origen (182-254)

“Tak pernah ada waktu di mana Tuhan tidak menghendaki manusia agar menjadi benar …. Sungguh, Ia selalu mengaruniakan orang-orang dengan akal budi dan kesempatan- kesempatan untuk melakukan kebajikan dan melakukan apa yang benar. Di setiap generasi kebijaksanaan Tuhan turun kepada jiwa-jiwa itu yang dipandang-Nya kudus dan membuat mereka menjadi para nabi dan sahabat-sahabat Allah” (Against Celsus 4:7 [A.D. 248]).

“Bahkan jika seseorang dari mereka [yang di luar Gereja]ingin diselamatkan, biarlah ia datang ke rumah ini, sehingga ia dapat memperoleh keselamatan. Biarlah ia datang ke rumah ini, yang di dalamnya darah Kristus adalah tanda penebusan…. biarlah tak seorangpun menipu dirinya sendiri: [sebab]di luar rumah ini, yaitu di luar Gereja, tak seorangpun diselamatkan. Sebab mereka yang pergi ke luar, ia bertanggungjawab terhadap kematiannya sendiri.” (Homiliae in Jesu Nave 3:5; PG 12:841-42).

St. Cyprian (-258):

“Bagaimana mungkin seorang yang tidak bersama dengan Mempelai Kristus dan di dalam Gereja-Nya dapat ada bersama dengan Kristus?” (Epistle 52:1).

“Salus extra ecclesiam non est” /Tidak ada keselamatan di luar Gereja) (Epistle 72:21).

“Tidak, meskipun mereka harus menderita wafat demi pengakuan Nama-Nya, kesalahan orang-orang tersebut [yang memisahkan diri]tidak terhapus bahkan oleh darah mereka; dosa berat yang tak terhapuskan dari skisma tidak dapat dihapuskan bahkan oleh kemartiran… Tak seorangpun dapat mengklaim nama martir, mereka yang telah mematahkan kasihnya kepada saudara-saudaranya. Ini adalah ajaran Rasul Paulus, “Jika aku menyerahkan tubuhku untuk dibakar, namun aku tidak memiliki kasih, aku sama sekali tidak berguna.” (The Unity of the Catholic Church, 14)

“Siapapun yang memisahkan diri dari Gereja …. terpisah dari janji-janji Gereja.; ia yang meninggalkan Gereja tidak akan memperoleh penghargaan dari Kristus…Ia tak dapat memiliki Tuhan sebagai Bapa-Nya, yang tidak mempunyai Gereja sebagai ibunya; …. Siapapun yang menghancurkan damai dan harmoni Kristus, bertindak melawan Kristus; barang siapa mengumpulkan di tempat lain di luar Gereja, mencerai beraikan Gereja Kristus…. Jika seseorang tidak menjaga kesatuan ini, ia tidak menjaga hukum Tuhan, ia telah kehilangan iman akan Bapa, Putera dan ia telah kehilangan hidupnya dan jiwanya” (The Unity of the Catholic Church, 6).

“Jangan mereka berpikir bahwa jalan keselamatan ada bagi mereka, jika mereka menolak untuk taat kepada para uskup dan imam, sebab Tuhan bersabda dalam kitab Ulangan, “Orang yang berlaku terlalu berani dengan tidak mendengarkan perkataan imam yang berdiri di sana sebagai pelayan TUHAN, Allahmu, ataupun perkataan hakim, maka orang itu harus mati.” (Ul 17:12) Dan benarlah, mereka mati oleh pedang… tetapi sekarang mereka yang sombong dan membangkang, dibunuh dengan pedang Roh, ketika mereka keluar dari Gereja. Sebab mereka tidak dapat hidup di luar, sebab hanya ada satu rumah Tuhan dan tidak ada keselamatan bagi setiap orang kecuali di dalam Gereja (Letters 61[4]:4 [A.D. 253]).

“Ketika kami berkata, “Apakah kamu percaya akan kehidupan kekal dan pengampunan dosa melalui Gereja yang kudus?” Kami bermaksud bahwa pengampunan dosa tidak diberikan kecuali di dalam Gereja (ibid., 69[70]:2 [A.D. 253]).

“Rasul Petrus sendiri, yang menunjukkan dan menjunjung tinggi kesatuan, telah memerintahkan dan mengingatkan kita bahwa kita tidak dapat diselamatkan kecuali dengan baptisan yang satu dari Gereja yang satu itu. Ia berkata bahwa di bahtera Nuh hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu. Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan (1 Pet 3:20-21). Di dalam kesimpulan yang begitu ringkas dan rohani, ia telah menentukan sakramen kesatuan! Di dalam baptisan dunia itu, di mana kejahatan di zaman kuno itu dibersihkan, orang yang tidak masuk dalam bahtera Nuh tidak dapat diselamatkan oleh air. Demikian pula tak ada orang yang diselamatkan oleh baptisan, yang tidak dibaptis di Gereja yang didirikan di dalam kesatuan dengan Tuhan menurut sakramen dari bahtera yang satu itu” (ibid., 73 [71]:11).

St. Hieronimus (347-420)

“Para bidat/ heretik mendatangkan hukuman atas mereka sendiri, sebab mereka dengan pilihan mereka sendiri menarik diri dari Gereja, penarikan diri yang, karena mereka sadari, mengandung hukuman. Antara heresi dan skisma, terdapat perbedaan: bahwa heresi melibatkan ajaran yang menyimpang, sedangkan skisma memisahkan seseorang dari Gereja karena ketidaksetujuan dengan Uskup. Namun demikian, tak ada skisma yang tidak melebihi heresi untuk men-justifikasi pemisahannya dari Gereja” (Commentary on Titus 3:10–11 [A.D. 386]).

St. Agustinus (354-431)

“Kasih yang dibicarakan oleh Rasul Paulus: “Kasih Tuhan dicurahkan kepada kita oleh Roh Kudus yang dikaruniakan kepada kita” (Rom 5:5) adalah kasih yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang terpisah dari persekutuan Gereja Katolik. Dan untuk alasan ini meskipun mereka dapat “berbicara dengan bahasa-bahasa manusia maupun malaikat” (1Kor 13:1-3), hal itu tak berguna baginya. Sebab orang yang tidak mengasihi kesatuan Gereja tidaklah memiliki kasih Tuhan…” (De Baptismo 3:10,13; CSEL 51:212)

“Seseorang tidak dapat memperoleh keselamatan, kecuali di dalam Gereja Katolik. Di luar Gereja Katolik ia dapat memperoleh apapun kecuali keselamatan. Ia dapat memperoleh kehormatan, sakramen-sakramen, ia dapat menyanyikan alleluia, ia dapat menjawab amen, ia dapat memiliki Injil, ia dapat berkhotbah tentang iman di dalam nama Allah Bapa dan Putera dan Roh Kudus, tetapi tidak ada tempat lain selain di dalam Gereja Katolik ia dapat menemukan keselamatan.” (Discourse to the People of the Church at Caesarea, 6)

“Kita percaya juga akan Gereja yang kudus, yaitu Gereja Katolik. Sebab para bidat/ heretik melanggar iman sendiri dengan pendapat yang salah tentang Tuhan; namun demikian, para skismatik, menarik diri dari kasih persaudaraan dengan pemisahan yang menantang, meskipun mereka percaya akan hal-hal yang sama dengan kita. Akibatnya, tidak ada heretik maupun skismatik yang termasuk dalam Gereja Katolik; heretik tidak termasuk, karena Gereja mengasihi Tuhan; dan skismatik tidak termasuk, karena Gereja mengasihi sesama.” (Faith and the Creed 10:21 [A.D. 393]).

“Mereka yang karena ketidaktahuannya, dibaptis di sana [di kelompok skismatik], dengan berpikir bahwa kelompok itu adalah gereja Kristus, melakukan kesalahan serius yang derajatnya lebih rendah jika dibandingkan dengan mereka [yang menyebabkan skisma]; namun demikian mereka juga terluka oleh sakrilegi skisma….” (De Baptismo 1:5,6; CSEL 51:152)

“Rasul Paulus mengatakan: “Seorang bidat yang sudah satu dua kali kaunasihati, hendaklah engkau jauhi.” (Tit 3:10). Tetapi mereka yang mempertahankan pandangan mereka, bagaimanapun salah dan menyimpangnya, namun tanpa berkeras dengan kehendak yang jahat, terutama mereka yang tidak memulai kesalahan [ajaran sesat]itu dengan praduga yang menentang ketentuan, tetapi yang menerimanya dari orang tua yang telah disesatkan dan telah menyimpang …. mereka yang mencari kebenaran dengan usaha yang sungguh-sungguh dan siap untuk dikoreksi ketika mereka telah menemukannya, tidak termasuk dalam golongan heretik/ bidat.” (Epistle 43:1; CSEL 34,2:85)

“Tetapi dapat terjadi beberapa dari orang-orang itu [yang sekarang terpisah]menjadi anggota kita di dalam rahasia pengetahuan Allah; adalah penting bahwa mereka harus kembali kepada kita. Betapa banyak mereka yang tidak menjadi anggota kita yang kelihatannya masih ‘di dalam’ dan betapa banyak orang yang menjadi anggota kita yang kelihatannya seperti ‘di luar’ kita. Dan mereka yang di dalam kita namun bukan anggota kita, ketika suatu kejadian terjadi, akan keluar; dan mereka yang menjadi anggota kita, tetapi sekarang berada ‘di luar’, ketika mereka memperoleh kesempatan, akan kembali.” (Enarr. in Psalms 106:14, CCL 40:1581)

“Saya tak ragu untuk meletakkan seorang katekumen Katolik, yang menyala dengan kasih ilahi, lebih tinggi dari seorang heretik yang sudah dibaptis. Bahkan di dalam Gereja Katolik sendiri, kita menempatkan katekumen yang baik lebih maju daripada orang yang sudah dibaptis namun jahat… Sebab Kornelius, bahkan sebelum baptisannya, telah dipenuhi dengan Roh Kudus (Kis 10:44-48), sedangkan Simon Magus, bahkan setelah baptisannya, menjadi sombong dengan roh yang najis” (Acts 8:13–19).” (ibid., 4:21[28]).

“Barangsiapa telah memisahkan diri dari Gereja Katolik, tak peduli betapa patut dipuji kehidupannya, tidak akan memperoleh hidup kekal ….sebab ia telah meninggalkan kesatuannya dengan Kristus” (Epistle 141).

Dasar dari Magisterium:

Paus St. Gregorius Agung (590-604), Moralia: “Kini Gereja universal yang kudus menyatakan bahwa Tuhan tidak dapat benar-benar disembah kecuali di dalam diri Gereja sendiri, sambil meneguhkan bahwa mereka semua yang tanpa Gereja tidak pernah dapat diselamatkan.”

Paus Sylvester II, Pernyataan Iman, 991: “Aku percaya bahwa di dalam Baptisan semua dosa diampuni, dosa asal maupun dosa pribadi, dan aku mengakui bahwa di luar Gereja Katolik tidak ada seorangpun diselamatkan.”

Paus Innocentius III, Konsili Lateran ke 4, 1215: “Hanya ada satu Gereja universal bagi umat beriman, yang di luarnya tak ada seorangpun diselamatkan.”

Paus Bonifasius VIII, Bulla Unam Sanctam, 1302: “Kami diharuskan karena iman kita untuk percaya dan melestarikan bahwa hanya ada satu Gereja Katolik yang kudus, dan [Gereja] itu bersifat apostolik. Ini kami percaya dengan teguh dan kami maklumkan tanpa kondisi persyaratan. Di luar Gereja ini tidak ada keselamatan dan penghapusan dosa…. [Gereja] yang menyatakan satu tubuh mistik yang kepalanya adalah Kristus, sungguh milik Kristus, sebagai Tuhan. Dan di dalam ini, “satu Tuhan, satu iman, satu baptisan (Ef 4:5). Tentulah Nabi Nuh mempunyai satu bahtera pada zaman air bah, yang melambangkan satu Gereja yang sempurna dalam satu ukuran dengan mempunyai seorang pengatur dan pembimbing, yaitu Nabi Nuh, yang di luarnya kita semua membaca, semua mahluk hidup dihancurkan …. Kami menyatakan, mengatakan, menetapkan, dan mengumumkan bahwa adalah mutlak penting bagi keselamatan setiap manusia untuk berada di bawah pengaturan Imam Agung Roma.”

Konsili Florence (1439): “Semua yang ada di luar Gereja Katolik … tidak dapat mengambil bagian di dalam kehidupan kekal …. kecuali mereka bergabung dengan Gereja Katolik sebelum hidup mereka berakhir…. tak seorangpun dapat diselamatkan, tak peduli berapa banyak ia memberi derma dan bahkan jika ia menumpahkan darahnya di dalam nama Kristus, kecuali ia tetap bertahan di dalam pangkuan dan kesatuan dalam Gereja Katolik.”

Paus Leo XII (1823-1829), surat ensiklik Ubi Primum: “Adalah tidak mungkin bagi Tuhan yang sangat benar –yang adalah Kebenaran itu sendiri, yang terbaik, Penyelenggara yang paling bijaksana, dan pemberi upah kepada orang-orang baik– untuk menyetujui semua sekte yang mengajarkan ajaran-ajaran sesat yang seringnya tidak konsisten satu sama lain dan saling bertentangan, dan untuk memberikan penghargaan kekal kepada anggota-anggotanya. Sebab kita mempunyai perkataan yang lebih pasti dari sang nabi, dan dengan menulis kepadamu, Kami membicarakan kebijaksanaan di antara yang sempurna; bukan kebijaksanaan dunia ini, tetapi kebijaksanaan Tuhan di dalam msiteri. Olehnya kami diajarkan dan oleh iman ilahi kami berpegang kepada satu Tuhan, satu iman, satu baptisan dan bahwa tidak ada nama lain di bawah kolong langit yang diberikan kepada manusia kecuali nama Yesus Kristus dari Nasareth yang di dalamnya kita diselamatkan. Inilah mengapa kami menyatakan bahwa tidak ada keselamatan di luar Gereja …. Sebab Gereja adalah tiang penopang dan dasar kebenaran. Dengan acuan kepada perkataan-perkataan St. Agustinus: “Jika seseorang ada di luar Gereja, ia tidak akan termasuk dalam bilangan anak-anak, dan tidak akan mempunyai Tuhan sebagai Bapa, sebab ia tidak mempunyai Gereja sebagai ibu.”

Paus Gregorius XVI (1831-1846), ensiklik Summo Jugiter Studio, 1832, “Kamu mengetahui betapa bersemangatnya para pendahulu Kami mengajarkan tentang artikel iman itu yang dengan beraninya orang-orang ini mengingkari, yaitu pentingnya iman Katolik dan kesatuan bagi keselamatan. Perkataan seorang murid para Rasul, St. Ignatius Martir, dalam suratnya kepada jemaan di Filadelfia menjadi relevan dalam hal ini. “Jangan sampai tertipu, saudaraku; jika seseorang mengikuti skismatik, ia tidak akan memperoleh warisan Kerajaan Allah.” Lebih lanjut St. Agustinus dan para uskup Afrika lainnya yang bertemu di Konsili Cirta tahun 412, menjelaskan hal yang sama dengan lebih panjang, “Barangsiapa telah memisahkan diri dari Gereja Katolik, tak peduli betapa patut dipuji kehidupannya, tidak akan memperoleh hidup kekal ….sebab ia telah meninggalkan kesatuannya dengan Kristus’ (Epistle 141)….. Kita patut memuji St. Gregorius Agung, yang memberi kesaksian bahwa ini adalah sungguh ajaran Gereja Katolik…: “Gereja universal yang kudus mengajarkan bahwa tidaklah mungkin untuk menyembah Tuhan dengan benar, kecuali di dalam Gereja, dan menyatakan bahwa semua yang di luar Gereja tidak akan diselamatkan.” (Moral in Job, 16.5). Akte-akte resmi Gereja memaklumkan dogma yang sama. Maka, di dalam dekrit iman yang dipublikasikan oleh Paus Innocentius III dan Sinoda Lateran IV, ….”Hanya ada satu Gereja universal orang beriman, yang di luarnya tak ada seoranpun diselamatkan.” Akhirnya, dogma yang sama disebutkan di dalam pernyataan iman… tak hanya yang digunakan oleh Gereja-gereja Latin (Credo Konsili Trente), tetapi yang juga digunakan oleh Gereja Ortodoks Yunani… dan yang digunakan oleh Gereja Katolik Timur …. Kami sangat prihatin tentang dogma yang serius dan telah dikenal ini, yang telah diserang dengan keberanian yang sedemikian mengagumkan, bahwa Kami tidak dapat menahan pena Kami untuk meneguhkan kembali kebenaran ini dengan banyak kesaksian.”

Paus Pius IX (1846-1878), Singulari Quadam, 1854: “Bukannya tanpa duka cita kami telah mengetahui bahwa kesalahan yang lain,…. telah diyakini oleh sebagian dunia Katolik, dan telah mengambil tempat kediaman di jiwa banyak umat Katolik, yang berpikir bahwa seseorang telah mempunyai pengharapan keselamatan kekal akan semua orang yang tidak pernah hidup di dalam Gereja Kristus yang sejati …. Tetapi sebagai tugas Apostolik Kami, kami mengharapkan agar kewaspadaan episkopal dibangkitkan, sehingga kamu akan bekerja keras semampumu, untuk mengenyahkan dari pikiran orang-orang yang tidak saleh dan pikiran yang sama fatalnya, yaitu bahwa jalan keselamatan kekal dapat ditemukan di agama manapun juga. Semoga kamu dapat membuktikan dengan kemampuan dan pengetahuan yang kamu sungguh kuasai, kepada orang-orang yang dipercayakan kepadamu, bahwa dogma iman Katolik tidaklah bertentangan dengan belas kasihan ilahi dan keadilan ilahi.”

“Sebab harus dipegang oleh iman bahwa di luar Gereja Roma yang Apostolik, tak seorangpun dapat diselamatkan; bahwa ini adalah satu-satunya bahtera keselamatan… tetapi, di sisi lain, juga perlu dipegang dengan yakin, bahwa mereka yang berkerja keras di dalam ketidaktahuan akan agama yang sejati, jika ketidaktahuan ini tidak terhindarkan (invincible), tidak akan dianggap bersalah tentang ini di mata Tuhan. Kini kenyataannya, siapa mau mengasumsikan begitu banyak menurut dirinya sendiri untuk menentukan batas-batas ketidaktahuan itu, oleh karena kodrat dan keberagaman bangsa, daerah, sikap batin, dan tentang begitu banyak hal lainnya? Sebab kenyataannya, ketika dibebaskan dari belenggu kesementaraan dunia, “kita akan melihat Tuhan sebagaimana adanya Ia” (1 Yoh 3:2), kita akan dengan sempurna memahami betapa dekat dan indahnya ikatan belas kasihan dan keadilan ilahi disatukan; tetapi selama kita berada di dunia, terbeban oleh tubuh yang fana yang menumpulkan jiwa, biarlah kita memegang dengan sangat teguh bahwa sesuai dengan ajaran Katolik, terdapat “satu Tuhan, satu iman, satu baptisan” (Ef 4:5); adalah bertentangan dengan hukum untuk melanjutkan penyelidikan lebih jauh.”

“Tapi, seperti tuntutan jalan cinta kasih, marilah kita terus mengajukan doa-doa agar semua bangsa di manapun dapat menerima Kristus; dan mari kita mengarahkan perhatian kepada keselamatan bersama bagi manusia sesuai dengan kekuatan kita, “sebab tangan Tuhan tidak terlalu pendek” (Yes 9:1) dan karunia-karunia rahmat ilagi tidak akan kurang bagi mereka yang dengan tulus mengharapkan dan memohon agar disegarkan oleh terang ini.”

Paus Pius IX, Singulari Quidem, 1856: “Ajarkan bahwa sepertihalnya hanya ada satu Tuhan, satu Kristus dan satu Roh Kudus, maka hanya ada satu kebenaran yang diwahyukan secara ilahi. Hanya ada satu iman ilahi yang menjadi awal keselamatan bagi umat manusia dan dasar bagi semua justifikasi, iman yang olehnya orang benar hidup dan yang tanpanya tidak mungkin [seseorang]menyenangkan Tuhan dan masuk dalam komunitas anak-anak-Nya (Rom 1, Ibr 11, Konsili Trente, sesi 6, bab 8). Hanya ada satu Gereja yang sejati, kudus, Katolik, yaitu Gereja Roma yang Apostolik. Hanya ada satu Tahta yang didirikan di atas Petrus oleh sabda Tuhan (St. Cyprian, Epistle 43), yang di luarnya kita tidak dapat menemukan baik iman yang sejati ataupun keselamatan kekal. Ia yang tidak mempunyai Gereja sebagai ibu tidak dapat mempunyai Tuhan sebagai bapa dan siapapun yang mengabaikan Tahta Petrus yang di atasnya Gereja didirikan, salah percaya bahwa ia ada di dalam Gereja (ibid, On Unity of the Catholic Church)…. Di luar Gereja, tak seorangpun dapat berharap untuk hidup atau keselamatan, kecuali ia dibenarkan (excused) melalui ketidaktahuan yang di luar kendalinya.”

Paus Pius IX (1846-1878) Ensiklik Quanto conciamur moerore, 1863: “Dan di sini,…. Kami harus menyebutkan lagi dan mengecam kesalahan yang sangat berat di mana beberapa umat Katolik telah dengan salah memahami, yang percaya bahwa orang-orang yang hidup dalam kesesatan dan terpisah dari iman yang sejati dan kesatuan Katolik, dapat mencapai kehidupan kekal. Sungguh, ini jelas bertentangan dengan ajaran Katolik. Telah diketahui oleh Kami dan oleh kamu bahwa mereka yang berkerja keras di dalam ketidaktahuan yang tak terhindari (invincible ignorance) tentang agama kita yang tersuci dan yang dengan sungguh-sungguh menaati hukum kodrat dan ketentuannya yang diukirkan di dalam hati semua orang oleh Tuhan, dan yang siap sedia menaati Tuhan, yang hidup dalam kehidupan yang jujur dan lurus, dapat, dengan kuasa terang ilahi dan rahmat ilahi yang bekerja, memperoleh kehidupan kekal, sebab Tuhan yang dengan jelas melihat, menyelidiki, dan mengetahui pikiran-pikiran, jiwa, kebiasaan-kebiasaan semua manusia, oleh karena kebaikan-Nya dan belas kasih-Nya yang besar, tidak akan membuat seorangpun menderita untuk dihukum dengan siksa abadi, ia yang tidak bersalah karena dosa yang disengaja. Tetapi, dogma Katolik bahwa tak seorangpun dapat diselamatkan di luar Gereja Katolik telah dengan baik dikenal; dan juga bahwa mereka yang berkeras melawan otoritas dan ajaran-ajaran definitif Gereja yang sama, dan yang dengan keras kepala memisahkan diri mereka dari kesatuan dengan Gereja, dan dari Imam Agung Roma –penerus Rasul Petrus yang kepadanya ‘penjagaan pokok anggur telah dipercayakan oleh Sang Penyelamat’ (Konsili Kalsedon, Letter to Pope Leo I)– tidak dapat memperoleh keselamatan kekal. Perkataan Kristus cukup jelas, “Dan jika ia tidak mendengarkan jemaat, perlakukanlah ia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai’ (Mat 18:17); ‘Ia yang mendengarkan kamu, mendengarkan Aku, dan ia yang menolak kamu, ia menolak Aku dan ia yang menolak Aku, menolak Bapa yang mengutus Aku’ (Luk 10:16); ‘Ia yang percaya tidak akan dihukum (Mrk 16:16); ‘Ia yang tidak percaya telah berada di bawah hukuman (Yoh 3:18)’ ‘Ia yang tidak bersama Aku, ia melawan Aku; dan ia yang tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan’ (Luk 11:23). Rasul Paulus mengatakan bahwa orang-orang seperti ini adalah ‘sesat dan dengan dosanya menghukum dirinya sendiri (Tit 3:11); Pemimpin para Rasul menyebutnya sebagai “nabi-nabi palsu … yang memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, dan menyangkal Tuhan yang menebus mereka: dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka.” (2 Pet 2:1)

Konsili Vatikan I (1868-1870) – sebagaimana dikutip kembali dalam KGK 161: “Percaya akan Yesus Kristus dan akan Dia yang mengutus-Nya demi keselamatan kita adalah perlu supaya memperoleh keselamatan (Bdk. misalnya Mrk 16:16; Yoh 3:36; 6:40). “Karena tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah (Ibr 11:6) dan sampai kepada persekutuan anak-anak-Nya, maka tidak pernah seorang pun dibenarkan tanpa Dia, dan seorang pun tidak akan menerima kehidupan kekal, kalau ia tidak ‘bertahan sampai akhir’ (Mat 10:22; 24:13) dalam iman” (Konsili Vatikan I, Dei Filius 3, DS 3012, Bdk. Konsili Trente: DS 1532 )

Paus Leo XIII (1878-1903), Ensiklik Annum Ingressi Sumus: “Ini adalah pengajaran terakhir kami kepadamu; terimalah ini, ukirkanlah di dalam sanubarimu, semua dari kamu: oleh perintah Tuhan, keselamatan harus ditemukan tidak di manapun kecuali di dalam Gereja.”

Paus St. Pius X (1903-1914), Ensiklik Jucunda Sane: “Adalah tugas kami untuk mengingatkan setiap orang… sebagaiman dilakukan oleh Paus Gregorius di abad-abad lalu, kepentingan yang mutlek yang adalah milik kita, untuk berlindung di bawah Gereja ini untuk memperoleh keselamatan kekal kita.”

Paus Pius XI (1922-1939), Ensiklik Mortalium Animos: “Hanya Gereja Katolik yang melestarikan penyembahan yang sejati. Ini adalah mata air kebenaran, ini adalah rumah iman, ini adalah bait kediaman Allah; jika seseorang tidak masuk ke sini, atau pergi meninggalkannya, ia menjadi orang asing bagi harapan akan hidup ilahi dan keselamatan …. Selanjutnya, di dalam satu Gereja Kristus, tak seorangpun dapat atau tetap tinggal [di dalamnya], yang tidak menerima atau mengenali dan menaati otoritas dan keutamaan Petrus dan para penerusnya yang sah.”

Paus Pius XII, 1943, menjelaskan maksud pernyataan Paus Bonifasius VIII ini dalam surat ensikliknya Mystici Corporis, demikian: “Tapi kita tidak boleh berpikir bahwa Ia [Kristus] memerintah hanya secara tersembunyi atau hanya dengan cara yang luar biasa. Sebaliknya, Penebus kita juga memerintah Tubuh Mistik-Nya di dalam cara yang kelihatan dan normal melalui Wakil-Nya di dunia. Kamu mengetahui, saudara-saudaraku yang terhormat, bahwa setelah Ia sendiri memerintah “kawanan kecil” sepanjang perjalanan hidupnya di dunia, Kristus Tuhan kita, ketika hampir meninggalkan dunia ini dan kembali kepada Bapa, mempercayakan kepada Pimpinan para Rasul pemerintahan yang kelihatan akan keseluruhan komunitas yang telah didirikan-Nya. Karena Ia sepenuhnya bijaksana, Ia tidak dapat meninggalkan tubuh Gereja yang didirikan-Nya sebagai perkumpulan manusia tanpa kepala yang kelihatan (visible head). Tidak juga melawan ini, seseorang dapat berargumen bahwa keutamaan otoritas kepemimpinan yang didirikan di Gereja, memberikan kepada Tubuh Mistik Kristus dua buah kepala. Sebab keutamaan Petrus adalah hanya [sebagai]wakil Kristus; sehingga hanya ada satu Kepala pemimpin di dalam Tubuh ini, yaitu Kristus, yang tidak pernah berhenti untuk membimbing Gereja secara tidak kelihatan, meskipun pada saat yang sama Ia mengatur secara kelihatan, melalui dia yang menjadi wakil-Nya di dunia. Setelah Kenaikan-Nya yang mulia ke Surga, Gereja ini tidak hanya berdiri di atas Dia sendiri, tetapi di atas Petrus, juga, sebagai batu pondasi yang kelihatan. Bahwa Kristus dan wakil-Nya membentuk hanya satu Kepala adalah ajaran agung dari Pendahulu Kami yang kenangannya tetap hidup, Paus Bonifasius VIII dalam surat Apostoliknya Unam Sanctam, dan para penerusnya telah tidak berhenti mengulangi yang sama (Mystici Corporis 40).

Oleh karena itu, mereka berjalan di jalur kesalahan yang berbahaya, [yaitu mereka]yang percaya bahwa mereka dapat menerima Kristus sebagai Kepala Gereja, namun tidak melekat secara setia kepada Wakil-Nya di dunia. Mereka telah mengesampingkan kepala yang kelihatan, memecahkan ikatan-ikatan kesatuan yang kelihatan dan meninggalkan Tubuh Mistik Sang Penebus sedemikian samar-samar dan cacat, sehingga mereka yang mencari tempat pelabuhan keselamatan kekal tidak dapat melihatnya ataupun menemukannya….” (Mystici Corporis 41)

“…. mereka yang tidak menjadi bagian dalam Tubuh Gereja Katolik yang kelihatan…. Kami memohon kepada setiap orang dari mereka untuk menanggapi gerakan-gerakan rahmat di dalam batin, dan untuk menarik diri dari keadaan tersebut, di mana mereka tidak dapat menjamin keselamatan mereka (lih. Pius XI, Iam Vos Omnes, 1868). Sebab meskipun oleh hasrat yang tak disadari dan kerinduan untuk memiliki hubungan tertentu dengan Tubuh Mistik Penebus, mereka tetap kurang dapat memperoleh banyaknya karunia dan pertolongan surgawi yang dapat diterima hanya di dalam Gereja Katolik.” (Mystici Corporis, 103)

Katekismus Gereja Katolik: KGK 846-848, 836-838 :

KGK 846 Bagaimana dapat dimengerti ungkapan ini yang sering kali diulangi oleh para bapa Gereja? Kalau dirumuskan secara positif, ia mengatakan bahwa seluruh keselamatan datang dari Kristus sebagai Kepala melalui Gereja, yang adalah Tubuh-Nya:

“Berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi, konsili mengajarkan, bahwa Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam Tubuh-Nya, yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan baptis, Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang melalui baptis bagaikan pintunya. Maka dari itu andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan” (Lumen Gentium 14).

KGK 847 Penegasan ini tidak berlaku untuk mereka, yang tanpa kesalahan sendiri tidak mengenal Kristus dan Gereja-Nya:

“Sebab mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendak-Nya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal” (Lumen Gentium 16; Bdk. DS 3866 – 3872).

KGK 848 “Meskipun Allah melalui jalan yang diketahui-Nya dapat menghantar manusia, yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil, kepada iman yang merupakan syarat mutlak untuk berkenan kepada-Nya, namun Gereja mempunyai keharusan sekaligus juga hak yang suci, untuk mewartakan Injil” (Ad Gentes 7) kepada semua manusia.

KGK 836 “Jadi kepada kesatuan katolik Umat Allah itulah, yang melambangkan dan memajukan perdamaian semesta, semua orang dipanggil. Mereka termasuk kesatuan itu atau terarah kepadanya dengan aneka cara, baik kaum beriman katolik, umat lainnya yang beriman akan Kristus, maupun semua orang tanpa kecuali, yang karena rahmat Allah dipanggil kepada keselamatan” (LG 13).

KGK 837 Dimasukkan sepenuhnya ke dalam serikat Gereja mereka, yang mempunyai Roh Kristus, menerima baik seluruh tata susunan Gereja serta semua upaya keselamatan yang diadakan di dalamnya, dan dalam himpunannya yang kelihatan digabungkan dengan Kristus yang membimbingnya melalui Imam Agung dan para Uskup, dengan ikatan-ikatan ini, yakni: pengakuan iman, Sakramen-sakramen dan kepemimpinan gerejani serta persekutuan. Tetapi tidak diselamatkan orang, yang meskipun termasuk anggota Gereja namun tidak bertambah dalam cinta kasih; jadi yang dengan badan memang berada dalam pangkuan Gereja, melainkan tidak dengan hatinya” (LG 14).

KGK 838 “Gereja tahu, bahwa karena banyak alasan ia berhubungan dengan mereka, yang karena dibaptis mengemban nama Kristen, tetapi tidak mengakui ajaran iman seutuhnya atau tidak memelihara kesatuan persekutuan di bawah pengganti Petrus” (LG 15). “Siapa yang percaya kepada Kristus, dan menerima Pembaptisan dengan baik, berada dalam semacam persekutuan dengan Gereja Katolik, walaupun tidak sempurna” (UR 3). Persekutuan dengan Gereja-gereja Ortodoks begitu mendalam “bahwa mereka hanya kekurangan sedikit saja untuk sampai kepada kepenuhan yang membenarkan satu perayaan bersama Ekaristi Tuhan” (Paulus VI, Wejangan 14 Desember 1975 Bdk. UR 13-18).

Konsili Vatikan II, Konstitusi tentang Gereja, Lumen Gentium: LG 14 dan 16, sebagaimana telah disampaikan di kutipan Katekismus di atas.

Konsili Vatikan II, Dekrit tentang Ekumenisme, Unitatis Redintegratio, 3, “Dalam satu dan satu-satunya Gereja Allah itu sejak awal mula telah timbul berbagai perpecahan, yang oleh Rasul dikecam dengan tajam sebagai hal yang layak di hukum. Dalam abad-abad sesudahnya timbullah pertentangan-pertentangan yang lebih luas lingkupnya, dan jemaat-jemaat yang cukup besar terpisahkan dari persekutuan sepenuhnya dengan Gereja Katolik, yang seringnya karena kesalahan orang- orang di kedua belah pihak. Tetapi mereka, yang sekarang lahir dan di besarkan dalam iman akan Kristus di jemaat-jemaat itu, tidak dapat dipersalahkan dan dianggap berdosa karena memisahkan diri. Gereja Katolik merangkul mereka dengan sikap bersaudara penuh hormat dan cinta kasih. Sebab mereka itu, yang beriman akan Kristus dan dibaptis secara sah, berada dalam suatu persekutuan dengan Gereja Katolik, meskipun persekutuan ini tidak sempurna. Perbedaan- perbedaan yang ada dalam derajat yang berbeda di antara mereka dan Gereja Katolik- baik perihal ajaran dan ada kalanya juga dalam tata-tertib, maupun mengenai tata-susunan Gereja, memang menciptakan banyak hambatan, kadang menjadi hambatan yang serius, terhadap persekutuan gerejawi yang penuh. Gerakan ekumenis bertujuan mengatasi hambatan-hambatan itu. Sungguhpun begitu, karena mereka dalam Baptis dibenarkan berdasarkan iman, mereka disaturagakan dalam Kristus. Oleh karena itu mereka memang dengan tepat menyandang nama Kristen, dan tepat pula oleh putera-puteri Gereja katolik diakui selaku saudara-saudari dalam Tuhan.Kecuali itu, dari unsur-unsur atau nilai-nilai, yang keseluruhannya ikut berperanan dalam pembangunan serta kehidupan Gereja sendiri, beberapa bahkan banyak sekali yang sangat berharga, yang dapat ditemukan diluar kawasan Gereja katolik yang kelihatan: Sabda Allah dalam Kitab suci, kehidupan rahmat, iman, harapan dan cinta kasih, begitu pula kurnia-kurnia Roh kudus lainnya yang bersifat batiniah dan unsur-unsur lahiriah. Itu semua bersumber pada Kristus dan mengantar kepada-Nya, dan memang selayaknya menjadi milik Gereja Kristus yang tunggal.Tidak sedikit pula upacara-upacara agama kristen, yang diselenggarakan oleh saudara-saudari yang tercerai dari kita. Upacara-upacara itu dengan pelbagai cara dan menurut bermacam-ragam situasi masing-masing gereja dan jemaat sudah jelas memang dapat menyalurkan hidup rahmat yang sesungguhnya, dan harus diakui dapat membuka pintu memasuki persekutuan keselamatan.Oleh karena itu Gereja-Gereja dan Jemaat-Jemaat yang terpisah, walaupun menurut pandangan kita diwarnai oleh kekurangan-kekurangan, sama sekali bukannya tidak berarti atau bernilai dalam misteri keselamatan. Sebab Roh Kristus tidak menolak untuk menggunakan mereka sebagai upaya-upaya keselamatan, yang kekuatannya bersumber pada kepenuhan rahmat serta kebenaran dalam arti yang sepenuhnya, yang dipercayakan kepada Gereja Katolik.Akan tetapi saudara-saudari yang tercerai dari kita, baik secara perorangan maupun sebagai komunitas dan Gereja, tidak menikmati kesatuan, yang oleh Yesus Kristus hendak dikurniakan kepada mereka semua, yang telah dilahirkan-Nya kembali dan dihidupkan-Nya untuk menjadi satu tubuh, bagi kehidupan yang serba baru, menurut kesaksian Kitab suci dan tradisi Gereja yang terhormat. Sebab hanya melalui Gereja Kristus yang Katoliklah, yakni upaya umum untuk keselamatan, dapat dicapai seluruh kepenuhan upaya-upaya penyelamatan. Sebab kita percaya, bahwa hanya kepada Dewan Para Rasul yang diketuai oleh Petruslah Tuhan telah mempercayakan segala harta Perjanjian Baru, untuk membentuk satu Tubuh kristus di dunia. Dalam tubuh itu harus disaturagakan sepenuhnya siapa saja, yang dengan suatu cara telah termasuk umat Allah. Selama berziarah di dunia, umat itu, meskipun dalam para anggotanya tetap tidak terluputkan dari dosa, berkembang dalam Kristus, dan secara halus dibimbing oleh Allah, menurut rencana-Nya yang penuh rahasia, sampai akhirnya penuh kegembiraan meraih seluruh kepenuhan kemuliaan kekal di kota Yerusalem sorgawi.”

Paus Yohanes Paulus II, dengan otoritas apostolik menyetujui Deklarasi Dominus Iesus, 2000, yang menyimpulkan:

“Di atas segalanya, haruslah diimani dengan teguhbahwa “Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam tubuh-Nya, yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan baptis (lih. Mrk 16:16; Yoh 3:5). Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang-orang melalui baptis bagaikan pintunya’. Ajaran ini harus tidak ditempatkan berlawanan dengan kehendak keselamatan Tuhan yang bersifat universal: Gereja yang satu adalah pengantara dan jalan keselamatan (cf. 1 Tim 2:4); “Adalah penting untuk menjaga dua kebenaran ini bersama-sama, yaitu, kemungkinan yang nyata akan keselamatan di dalam Kristus untuk semua umat manusia dan pentingnya Gereja untuk keselamatan ini.”Gereja adalah “sakramen keselamatan bagi semua orang”, karena, selalu bersatu secara misterius dengan Sang Juru Selamat Yesus Kristus, Kepalanya, dan tunduk kepada-Nya, ia mempunyai, di dalam rencana Tuhan, sebuah hubungan yang sangat diperlukan dengan keselamatan setiap manusia. Bagi mereka yang bukan merupakan anggota resmi dan yang kelihatan (visible) dari Gereja, “keselamatan di dalam Kristus dicapai dengan kebajikan rahmat, yang ketika mempunyai hubungan yang misterius dengan Gereja, tidak membuat mereka secara resmi bagian dari Gereja, tetapi [rahmat ini]menerangi mereka di dalam cara yang diakomodasikan dengan situasi rohani dan jasmani mereka. Rahmat ini datang dari Kristus; rahmat ini adalah hasil dari kurban-Nya dan disampaikan oleh Roh Kudus”; ia [rahmat ini]mempunyai sebuah hubungan dengan Gereja, yang “berasal dari perutusan Putera dan perutusan Roh Kudus menurut rencana Allah Bapa” (Dominus Iesus, 20)

Posted in Keselamatan | Leave a comment

MENGAPA DOA ROSARIO MENJADI SALAH SATU DOA FAVORIT UMAT KATOLIK?

Beberapa alasan mengapa doa rosario menjadi salah satu doa yang disukai oleh kita umat Katolik adalah karena: 1) doa ini sederhana, mendalam maknanya, dan besar kuasanya, 2) doa rosario menggabungkan kita dengan misteri Inkarnasi dan misteri Paska Kristus yang menyelamatkan, 3) doa rosario merupakan doa bersama Bunda Maria untuk mengkontemplasi-kan wajah Kristus 4) doa rosario merupakan doa yang membuahkan damai sejahtera dan kasih, 5) doa rosario merupakan doa keluarga dan doa Gereja.

Pertama- tama, doa rosario digemari karena kesederhanaannya, dan bahkan anak- anakpun dapat mendaraskannya, karena terdiri dari doa- doa yang umum dikenal semua umat Katolik, yaitu doa Aku percaya, Kemuliaan, Bapa Kami, dan Salam Maria. Di dalam kesederhanaan inilah terletak kedalaman maknanya, karena bagian utama dari doa rosario adalah permenungan peristiwa hidup Yesus sejak awal penjelmaan-Nya dalam rahim Bunda Maria, karya- karya-Nya, sampai dengan wafat, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga. Sedang doa Salam Maria yang melatarbelakangi permenungan tersebut, adalah doa yang Alkitabiah (lih. Luk 1:28, 42, 43). Doa rosario besar kuasanya, karena melibatkan pengantaraan doa Bunda Maria, seorang yang telah dibenarkan Allah di surga (lih. Yak 5:16). Melalui doa rosario kita berdoa bersama Bunda Maria dan memohon agar ia menghantar doa- doa kita kepada Tuhan Yesus.

Dengan merenungkan peristiwa hidup Yesus dalam doa rosario (Peristiwa Gembira, Terang, Sedih, Mulia), kita dibawa kepada penghayatan yang lebih mendalam tentang misteri keselamatan. Melalui rosario, kita seolah menapak tilas misteri keselamatan Kristus bersama dengan Bunda Maria, sehingga kita dapat memperoleh peningkatan pengetahuan akan maknanya sesuai dengan pertumbuhan rohani kita (lih. Surat apostolik Paus Yohanes Paulus II, Rosarium Virginis Mariae, 17). Kita masuk dalam kehidupan Kristus, bersama dengan Bunda Maria, yang telah terlebih dahulu tinggal dalam kesatuan dengan Dia.

Maka pada dasarnya doa rosario merupakan doa bersama Bunda Maria untuk mengkontemplasi-kan wajah Kristus. Artinya, kita memandang Kristus, sebagaimana Bunda Maria memandang-Nya. Kita memandang-Nya dengan pandangan bertanya (lih. Luk 2:48); pandangan penuh iman akan campur tangan-Nya (lih. Yoh 2:5); pandangan duka cita di kaki salib-Nya, dan kesediaan untuk menerima Bunda Maria sebagai ibu bagi kita (lih. Yoh 19:25-27); pandangan suka cita pada saat kebangkitan-Nya dan saat menerima Roh Kudus (lih. Kis 1:14). Dengan doa kontemplasi ini, kita mengenang Kristus dan karya penebusan-Nya bagi kita manusia.

Buah doa kontemplasi akan Kristus, Sang Raja Damai, yang adalah “damai sejahtera kita” (Ef 2:14; lih. Paus Yohanes Paulus II, Ibid. 40) adalah damai itu sendiri. Karena itu, doa rosario secara kodrati adalah doa damai. Disebut sebagai doa damai, karena doa rosario menghasilkan buah- buah kasih. Sebab jika didoakan dengan permenungan yang sungguh tentang peristiwa- peristiwa hidup Yesus, doa rosario akan membawa kita kepada pertemuan dengan Kristus dalam misteri- misteri-Nya, sehingga kita terbantu untuk mengenali wajah Kristus di dalam sesama kita, terutama di dalam mereka yang sakit dan menderita (Ibid.). Kasih yang kita bagikan ini mendatangkan damai sejahtera bagi sesama yang kita sapa/ beri, maupun juga kepada diri kita sendiri yang memberikannya.

Karena doa rosario membuahkan damai dan kasih, maka doa rosario menjadi doa yang penting dalam keluarga dan Gereja. Keluarga yang mendoakan doa rosario akan bertumbuh dalam kasih kepada Kristus, dan karenanya persatuan kasih mereka diteguhkan dan senantiasa diperbaharui. Demikian pula doa rosario merupakan doa yang membangun kesatuan umat di dalam Gereja, sebab yang pusat permenungan dalam doa tersebut adalah Kristus, yang adalah Sang Kepala Gereja.

Dasar Kitab Suci

• Luk 1:28: Salam Maria, penuh rahmat (Hail, full of grace)

• Luk 1:42: Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuh-mu

• Luk 1:43: “Ibu Tuhan”

• Luk 1:48: segala keturunan akan menyebut aku [Maria] berbahagia

• Yak 5:16: Doa orang benar besar kuasanya.

Dasar Tradisi Suci

• St. Irenaeus: “[Perempuan] yang pertama [Hawa] terpengaruh untuk tidak taat kepada Tuhan, namun perempuan yang berikutnya [Maria]… taat kepada Tuhan, sehingga Perawan Maria dapat menjadi pembela bagi Hawa. Sebagaimana umat manusia tunduk kepada maut melalui perbuatan seorang perawan, maka umat manusia diselamatkan oleh [ketaatan]seorang perawan.” (St. Irenaeus, Against Heresies, V:19,1 (A.D. 180).

• Sub Tuum Praesidium: Di bawah belas kasihanmu kami berlindung, O Bunda Tuhan. Jangan menolak permohonan kami dalam kesesakan, tetapi bebaskanlah kami dari mara bahaya, [o engkau]yang suci dan terberkati.” (Sub Tuum Praesidium, dari Rylands Papyrus, Mesir, abad ke- 3)

• Theoteknos dari Livias: “Diangkat ke surga, ia [Maria], tetap menjadi tempat perlindungan bagi umat manusia, menjadi pendoa syafaat bagi kita di hadapan Putera-nya dan Allah Bapa.” (Theoteknos dari Livias, Assumption 29, sebelum 560 AD)

• Andreas dari Kreta: “Ia [Maria] bertindak sebagai mediatrix (pengantara) antara kebesaran Tuhan dan kerendahan manusia …. (Andreas dari Kreta, Homily 1 on Mary’s Nativity (ante A.D. 740).

• St. Anselmus: “Ibu Tuhan adalah ibu kita. Semoga bunda yang baik memohon bagi kita, semoga ia memohon dan memperoleh apa yang baik bagi kita.” (St. Anselmus, Oration 7, (sebelum 1109 AD)

Dasar Magisterium

• Katekismus Gereja Katolik 971, 2708:

KGK 971 “Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia” (Luk 1:48). “Penghormatan Gereja untuk Perawan Maria tersuci termasuk dalam inti ibadat Kristen” (MC 56). “Tepatlah bahwa ia dihormati oleh Gereja dengan kebaktian istimewa. Memang sejak zaman kuno santa Perawan dihormati dengan gelar “Bunda Allah”; dan dalam segala bahaya dan kebutuhan mereka umat beriman sambil berdoa mencari perlindungannya… Kebaktian Umat Allah terhadap Maria… meskipun bersifat istimewa, namun secara hakiki berbeda dengan bakti sembah sujud, yang dipersembahkan kepada Sabda yang menjelma seperti juga kepada Bapa dan Roh Kudus, lagi pula sangat mendukungnya” (LG 66). Ia mendapat ungkapannya dalam pesta-pesta liturgi yang dikhususkan untuk Bunda Allah (Bdk. SC 103). dan dalam doa Marian – seperti doa rosario, yang merupakan “ringkasan seluruh Injil” (Bdk. MC 42).

KGK 2708 Meditasi memakai pikiran, daya khayal, gerak perasaan dan kerinduan. Usaha ini penting untuk memperdalam kebenaran iman, untuk menggerakkan pertobatan hati dan memperkuat kehendak guna mengikuti Kristus. Doa Kristen terutama berusaha untuk bermeditasi tentang “misteri Kristus”, sebagaimana terjadi waktu pembacaan Kitab Suci, “lectio divina“, dan pada doa rosario. Bentuk renungan doa ini mempunyai nilai yang besar; tetapi doa Kristen harus mengejar lebih lagi: perkenalan Yesus Kristus penuh cinta dan persatuan dengan Dia.

• Paus Paulus VI:

“Tanpa kontemplasi [akan peristiwa- peristiwa hidup Yesus], doa rosario adalah sebuah tubuh tanpa jiwa, dan pendarasannya dapat beresiko menjadi pengulangan rumusan secara mekanis, yang melanggar peringatan Kristus: “…dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.” (Mat 6:7). Secara kodrati pendarasan doa rosario mensyaratkan ritme yang hening dan tahapan yang tetap hidup; membantu setiap orang untuk merenungkan misteri- misteri kehidupan Tuhan sebagaimana dilihat oleh dia [Maria] yang terdekat dengan-Nya. Dengan cara ini, kekayaan yang tak terpahami dari misteri- misteri ini akan terungkap.” (Paus Paulus VI, Ekshortasi Apostolik, Marialis Cultus, 47: AAS, 156).

• Paus Yohanes Paulus II:

“Tidak mungkin untuk menyebutkan semua nama para orang kudus yang menemukan di dalam doa rosario, sebuah jalan yang asli untuk bertumbuh di dalam kekudusan. Namun kita perlu menyebut St. Louis Marie Grignon de Monfort …., Padre Pio dari Pietrelcina…., Bartolo Longo yang terberkati…. (Paus Yohanes Paulus II, Rosarium Virginis Mariae, 8).

“Ketika di dalam doa rosario, kita memohon bersama Maria, tempat kediaman Roh Kudus (lih. Luk 1:35), ia berdoa syafaat bagi kita di hadapan Allah Bapa yang telah memenuhinya dengan rahmat, dan di hadapan Sang Putera yang lahir dari rahimnya, berdoa bersama kita dan untuk kita.” (Ibid., 16)

Posted in Bunda Maria | Leave a comment

BERSABAR DAN BERTIMBANG RASA

RENUNGAN HARI MINGGU BIASA KE – 16 ( A )

Keb 12:13,16-19; Rom 8:26-27; Mat 13:24-43

Menurut Datuk Bridget Menezes, pengarang buku Self-Enpowerment, apabila seseorang itu marah, sebahagian besar tenaganya akan terbuang dengan sia-sia. Sebab penyakit, terutama penyakit psikosomatik, penyakit jantung dan ‘nervous disorders’, adalah sangat berkaitan dengan minda kita yang marah.

Kemarahan juga mempunyai kuasa untuk memutuskan perhubungan dengan para sahabat kita yang terdekat. Ianya boleh menjadikan kawan dijadikan lawan untuk dikritik.

Kemarahan membuat pertimbangan dan imbangan minda kita terganggu sedemikian rupa sehingga ada orang yang sanggup membunuh. Memang akhirnya mereka menyesal, tetapi sudah terlambat.

Salah satu hal yang membuat orang marah adalah apabila ada kejahatan atau orang jahat tidak ditangani dengan segera atau dibiarkan begitu sahaja. Misalnya akhir-akhir ini ada pemimpin-pemimpin bukan kerajaan, dengan lancang mengapi-apikan isu-isu agama sehingga menimbulkan rasa kurang puas hati dari pelbagai pihak. Ramai orang kecewa dan marah kepada pihak-pihak yang seharusnya menanganinya tetapi tidak berbuat apa-apa dan diam seribu bahasa, seakan-akan melindungi orang-orang yang kita anggap samseng itu.

Kita sebagai pengikut Kristus, kadang-kadang mulai rasa ragu-ragu dan bertanya: “Tuhan, mengapa orang-orang jahat Kaubiarkan bermaharajalela? Kaubiarkan mereka disegani dan ditakuti pula? Mereka kaya, sihat dan memiliki segala yang terbaik. Sebaliknya, kami yang bersungguh-sungguh menjalani hidup yang baik, malah kelihatan seperti orang-orang yang dikalahkan, orang yang tidak ada kemajuan, lambat untuk mencapai kejayaan. Mengapa Tuhan!??”

Untuk menjawab persoalan misteri ini memang tidak mudah. Namun sedikit titik terang tentang kemusyiklan kita ini terjawab melalui perumpamaan tentang lalang di antara gandum, “Biarkan keduanya tumbuh bersama” (Mt 13:28), kata Yesus.

Tuntutan untuk mengadili dengan segera terhadap orang-orang yang dianggap berbahaya kepada masyarakat merupakan suatu cabaran serius di dalam Injil hari ini. Tetapi Yesus mempunyai pesan-Nya yang tersendiri. Dia mahu mengajarkan kita betapa jauh bezanya fikiran Tuhan dengan fikiran manusia. Dia mahu menegaskan bahawa Tuhan Allah kita sangat sabar terhadap orang-orang yang berdosa. Bahawa manusia sering tidak sabar dengan sesamanya, apa lagi dengan manusia yang dianggap jahat.

Kita suka bersikap tegas terhadap sesama kita yang kita anggap jahat, tetapi apakah kita akan bersikap tegas pula terhadap diri kita jika kita sendiri berbuat jahat, sebab kita pun tidak lepas dari berbuat kejahatan?

Tuhan menunda sampai masa menuai, itu merupakan khabar gembira bagi kita semua. Ini bererti Tuhan itu sabar dan suka memberi kesempatan demi kesempatan. Maka kita perlu mengambil peluang tersebut untuk memperbetulkan kehidupan kita dan membersihkan ‘rumput lalang’ yang tumbuh di sepanjang perjalanan hidup kita menuju kepada Allah Bapa.

Terdapat tiga pesan penting yang kita perolehi dari ajaran Yesus hari ini.

1. Kita harus bersyukur kepada Allah yang sabar dan sentiasa memberi kesempatan bertaubat bagi kita manusia. Di dalam perjalanan hidup kita masing-masing, pasti kita pernah menjadi ‘gandum’ namun tidak jarang juga pernah menjadi ‘lalang’ bagi sesama kita. Bayangkan, jika Tuhan tidak mahu bersabar dengan kita. Pasti kita semua mendapat hukuman pada saat kita berbuat dosa.

2. Kita jangan cepat menghakimi sesama kita, sebab hanya Tuhan yang berhak menghakimi kita kerana Dia mengenal kita sebelum kita dilahirkan di dunia ini (Lih Yer 1:5). Kita tidak dapat menyatakan secara pasti mengatakan dengan berani bahawa kita ini orang baik dan dia itu orang jahat. Walau bagaimana pun dalam proses pengadilan perlu segera dijalankan secara manusiawi, namun kita tetap percaya bahawa pengadilan Allah yang berlangsung secara adil dan mutlak.

3 Kita perlu mengambil kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita dengan segera dan sebaik mungkin. Tuhan memberikan kita masa yang cukup untuk memperbaiki jalan hidup kita yang tidak lurus dan dipenuhi dengan ‘lalang’. Maka sebaiknya kita bertumbuh seperti biji sesawi secara perlahan-lahan namun pasti, tanpa membuat mata sesama kita menjadi merah kerana terlalu menjolok mata dan terlalu melampau pula.

Kembali kita pada sifat suka marah itu tadi, maka adalah sangat penting bagi kita untuk menahan diri atau menghapus rasa kemarahan yang melampau sebab ianya bukan hanya memudaratkan mental dan fisikal kita tetapi juga menjejaskan perhubungan kita dengan sesama dan dengan Tuhan kita.

Apakah selama ini anda sangat marah pada seseorang? Apakah anda ingin menghukum orang tersebut atau mahu memberi dia suatu ‘pengajaran’ agar hati anda puas? Apapun, di dalam perselisihan faham, selalu ada penyelesaiannya. Jika anda betul-betul mahu menyelesaikannya, jadilah orang yang pertama mengambil langkah bijak ke arah perdamaian.

Sebagai pengikut Kristus, kita tidak berhak untuk menghakimi sesiapapun juga sebab hanya Allah yang berhak. Kita perlu bersabar sebab Allah sudah cukup bersabar dengan kita masing-masing. Dan yang paling penting untuk kita amalkan terhadap sesama kita adalah mengasihinya apa adanya, sebab “Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1Yoh 4:19). (JL)

Cadangan soalan untuk refleksi peribadi dan perkongsian KKD.

1 Apakah yang anda fahami perumpamaan lalang dan gandum dalam Injil minggu ini?

2 Menurut anda, apa yang harus kita lakukan agar tidak terlalu cepat mengadili orang lain?

Cadangan aktiviti minggu ini.

Sikap cepat marah dan cepat menghakimi memang tidak baik untuk kesihatan iman, minda dan jasmani kita. Amalkan sikap menerima sesama kita apa adanya sambil mengingat-ingati doa Yesus ketika Dia berada di kayu salib: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34).

 

 

Posted in Spiritual Food | Leave a comment