PERKAHWINAN CAMPUR BEZA GEREJA

Pertanyaan:

Shalom Pak dan Bu….

Saya ada beberapa pertanyaan berkaitan “perkahwinan antara kristen katolik dan protestan”. Sudah lama saya fikirkan, mohon penjelasan ya.

a. Apakah boleh perkahwinan antara katolik dan protestan? Bagaimanakah cara perkahwinan tersebut?apakah boleh dilangsungkan di gereja katolik atau tidak?

b. Apakah syaratnya untuk melangsungkan perkahwinan di Gereja Katolik?

salam, Monica

Jawaban:

Shalom Monica,

Mengenai Perkawinan Campur ini, kita mengacu kepada Kitab Hukum Kanonik 1983, yaitu demikian:

KHK 1124 Perkawinan antara dua orang dibaptis, yang diantaranya satu dibaptis dalam Gereja Katolik atau diterima didalamnya setelah baptis dan tidak meninggalkannya dengan tindakan formal, sedangkan pihak yang lain menjadi anggota Gereja atau persekutuan gerejawi yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja katolik, tanpa izin jelas dari otoritas yang berwenang, dilarang.

KHK 1125 Izin semacam itu dapat diberikan oleh Ordinaris wilayah, jika terdapat alasan yang wajar dan masuk akal; izin itu jangan diberikan jika belum terpenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

pihak katolik menyatakan bersedia menjauhkan bahaya meninggalkan iman serta memberikan janji yang jujur bahwa ia akan berbuat segala sesuatu dengan sekuat tenaga, agar semua anaknya dibaptis dan dididik dalam Gereja katolik;

mengenai janji-janji yang harus dibuat oleh pihak katolik itu pihak yang lain hendaknya diberitahu pada waktunya, sedemikian sehingga jelas bahwa ia sungguh sadar akan janji dan kewajiban pihak katolik;

kedua pihak hendaknya diajar mengenai tujuan-tujuan dan ciri-ciri hakiki perkawinan, yang tidak boleh dikecualikan oleh seorang pun dari keduanya.

KHK 1127

§ 1 Mengenai tata peneguhan yang harus digunakan dalam perkawinan campur hendaknya ditepati ketentuan-ketentuan Kanon 1108; …..[di hadapan Ordinaris wilayah atau pastor paroki atau imam atau diakon, yang diberi delegasi oleh salah satu dari mereka itu, yang meneguhkannya, serta di hadapan dua orang saksi]

§ 2 Jika terdapat kesulitan-kesulitan besar untuk menaati tata peneguhan kanonik, Ordinaris wilayah dari pihak katolik berhak untuk memberikan dispensasi dari tata peneguhan kanonik itu dalam tiap-tiap kasus, tetapi setelah minta pendapat Ordinaris wilayah tempat perkawinan dirayakan, dan demi sahnya harus ada suatu bentuk publik perayaan; Konferensi para Uskup berhak menetapkan norma-norma, agar dispensasi tersebut diberikan dengan alasan yang disepakati bersama.

§ 3 Dilarang, baik sebelum maupun sesudah perayaan kanonik menurut norma § 1, mengadakan perayaan keagamaan lain bagi perkawinan itu dengan maksud untuk menyatakan atau memperbarui kesepakatan nikah; demikian pula jangan mengadakan perayaan keagamaan, dimana peneguh katolik dan pelayan tidak katolik menanyakan kesepakatan mempelai secara bersama-sama, dengan melakukan ritusnya sendiri-sendiri.

Maka dengan demikian, kita mengetahui bahwa walaupun sebenarnya perkawinan campur itu tidak diperbolehkan jika dilakukan tanpa ijin dari pihak otoritas Gereja, ijin dapat diberikan oleh Ordinaris wilayah kepada pasangan (Katolik dan Kristen non- Katolik) yang akan menikah asalkan pihak Katolik berjanji berjuang untuk tetap Katolik dan membaptis dan mendidik anak- anak secara Katolik; dan pihak yang non- Katolik mengetahui akan janji ini.

Maka untuk menjawab pertanyaan anda, jika perkawinan beda gereja ini tidak dapat dihindari, maka silakan anda menemui pastor paroki, dan ajukanlah permohonan ijin ke pihak Ordinaris. Jika ijin sudah diberikan, maka pasangan tersebut dapat menikah secara sah. Silakan anda mendiskusikannya dengan pastor paroki, untuk mengaturnya, agar sakramen perkawinan dapat diberikan di gereja Katolik.

Demikian semoga menjadi lebih jelas bagi anda.

Salam kasih dalam Kristus,

Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Posted in Perkahwinan | Leave a comment

KERANA BONDA MARIA ADALAH MANUSIA BIASA, BUKANKAH KITA TIDAK PERLU MENGHORMATINYA SECARA ISTIMEWA?

Bunda Maria memang adalah manusia biasa. Namun, meskipun manusia biasa, Bunda Maria adalah pribadi yang istimewa, sebab ia bekerja sama dengan rahmat Tuhan untuk mewujudkan rencana keselamatan-Nya bagi umat manusia. Jadi, Bunda Maria dipilih menjadi ibu Tuhan bukan karena jasanya, tetapi pertama- tama karena kehendak dan rahmat Tuhan, yang kemudian ditanggapi oleh Bunda Maria dengan ketaatannya, sehingga Kristus Sang Penyelamat dapat lahir sebagai manusia di dunia. Teladan ketaatan Bunda Maria, yang membuat rencana Allah terhadap seluruh umat manusia dapat terlaksana, itulah yang menjadikan Bunda Maria sebagai seorang yang istimewa dan patut kita hormati.

Bunda Maria dipilih Allah untuk mengandung di dalam rahimnya, Yesus Kristus, yang di dalam-Nya tinggal “seluruh kepenuhan ke-Allah-an secara jasmaniah” (Kol 2:9). Ke-eratan hubungan antara Allah dan manusia yang sedemikian, tidak pernah terjadi sebelumnya. Tidak ada satupun nabi ataupun tokoh dalam Kitab Suci yang pernah mengandung ‘kepenuhan ke-Allahan’ seperti yang terjadi pada Bunda Maria. Allah mengutus Kristus Putera-Nya dengan mempersiapkan tubuh bagi-Nya (lih. Ibr 10:5). Untuk itu, diperlukan kerjasama yang melibatkan kehendak bebas seorang perempuan -yaitu Perawan Maria- untuk mewujudkan rencana Allah itu, sehingga tanpa benih laki-laki namun oleh kuasa Roh Kudus, Tuhan Yesus dapat menjelma menjadi manusia. Dengan ketaatannya menerima Sabda Allah dalam Kabar Gembira malaikat, Perawan Maria menerima Sang Sabda itu di dalam hatinya dan di dalam tubuhnya, sehingga dengan demikian, ia memberikan Sang Sabda kepada dunia. Persatuan yang erat antara Perawan Maria dengan Kristus Sang Sabda Allah menjadikannya layak dihormati sebagai Bunda Allah dan Bunda Penebus.

Dengan perannya sebagai ibu yang mengandung, melahirkan dan membesarkan Yesus, Sang Putera Allah yang Tunggal yang menjelma menjadi manusia, Bunda Maria menempati tempat yang istimewa dalam sejarah keselamatan. Jadi jika umat Katolik menghormati Maria secara istimewa dibandingkan dengan para orang kudus lainnya, itu disebabkan karena: Allah terlebih dahulu menghormati Maria dengan memilihnya menjadi Bunda-Nya dan memenuhinya dengan rahmat (lih. Luk 1:28,35,43); serta karena Maria telah diberikan oleh Kristus untuk menjadi Bunda umat beriman (lih. Yoh 19:26-27). Sudah seharusnya, kita lebih menghormati ibu kita sendiri di antara semua perempuan di dunia; demikian juga adalah layak jika kita lebih menghormati Bunda Maria di antara semua orang kudus dan tokoh manusia lainnya dalam Kitab Suci. Namun demikian, penghormatan kepada Maria tidak pernah melebihi penghormatan kita terhadap Tuhan.

Dasar Kitab Suci:

Luk 1:28: Salam Maria, penuh rahmat

Luk 1:35: Roh Kudus menaungi Maria, sebab itu Anak yang dilahirkan Maria adalah Anak Allah

Luk 1:43: Maria adalah ibu Tuhan

Yoh 19:26-27: Maria diberikan oleh Tuhan Yesus menjadi ibu bagi murid- murid-Nya

Gal 4:4: Tuhan mengutus Putera-Nya, untuk dilahirkan oleh seorang perempuan

Dasar Magisterium Gereja:

Konsili Vatikan II (1962-1965), Konstitusi tentang Gereja, Lumen Gentium (LG):

“Sebab Perawan Maria, yang sesudah warta Malaikat menerima Sabda Allah dalam hati maupun tubuhnya, serta memberikan Hidup kepada dunia, diakui dan dihormati sebagai Bunda Allah dan Bunda Penebus yang sesungguhnya. Karena pahala Putera-Nya, dan dipersatukan dengan-Nya dalam ikatan yang erat dan tidak terputuskan, ia dianugerahi kurnia serta martabat yang amat luhur, yakni menjadi Bunda Putera Allah, maka juga menjadi Puteri Bapa yang terkasih dan kenisah Roh Kudus. Karena anugerah rahmat yang sangat istimewa itu ia jauh lebih unggul dari semua makhluk lainnya, baik di sorga maupun di bumi. Namun demikian, sebagai keturunan Adam, ia termasuk golongan semua orang yang harus diselamatkan. Bahkan “ia memang Bunda para anggota Kristus… karena dengan cinta kasih ia menyumbangkan kerjasamanya, supaya dalam Gereja lahirlah kaum beriman, yang menjadi anggota Kepala itu”. Oleh karena itu ia menerima salam sebagai anggota Gereja yang serba unggul dan sangat istimewa, pun juga sebagai pola-teladannya yang mengagumkan dalam iman dan cinta kasih. Menganut bimbingan Roh Kudus Gereja Katolik menghormatinya dengan penuh rasa kasih-sayang sebagai bundanya yang tercinta. (LG, 53)

Kitab-kitab Perjanjian Lama maupun Baru, begitu pula Tradisi yang terhormat, memperlihatkan peran Bunda Penyelamat dalam tata keselamatan dengan cara yang semakin jelas, dan seperti menyajikannya untuk kita renungkan. Ada pun Kitab-kitab Perjanjian Lama melukiskan sejarah keselamatan, yang lambat laun menyiapkan kedatangan Kristus di dunia. Naskah-naskah kuno itu, sebagaimana dibaca dalam Gereja dan dimengerti dalam terang pewahyuan lebih lanjut yang penuh, langkah demi langkah makin jelas mengutarakan citra seorang perempuan itu, Bunda Penebus. Dalam terang itu ia sudah dibayangkan secara profetis dalam janji yang diberikan kepada leluhur kita yang pertama, yang jatuh berdosa (lih. Kej 3:15). Ia adalah Perawan yang mengandung dan melahirkan seorang Anak laki- laki, yang akan diberi nama Imanuel (lih. Yes 7:14; bdk. Mi 5:2-3; Mat 1:22-23). Dialah yang unggul di tengah umat Tuhan yang rendah dan miskin, yang penuh kepercayaan mendambakan serta menerima keselamatan dari pada-Nya. Dengan dia, sang Puteri Sion yang amat mulia, dan setelah masa penantian yang panjang, genaplah masanya, dan mulailah tata keselamatan yang baru, ketika Putera Allah mengenakan kodrat manusia daripadanya, untuk membebaskan manusia dari dosa melalui rahasia-rahasia hidup-Nya dalam daging (LG, 55).

Adapun Bapa yang penuh belaskasihan menghendaki, supaya penjelmaan Sabda didahului oleh persetujuan dari pihak dia, yang telah ditetapkan menjadi Bunda-Nya. Dengan demikian, seperti dulu seorang perempuan mendatangkan maut, sekarang pun, seorang perempuanlah yang mendatangkan kehidupan. Itu secara amat istimewa berlaku tentang Bunda Yesus, yang telah melimpahkan kepada dunia Sang Hidup itu sendiri yang membaharui segalanya, dan yang oleh Allah dianugerahkan kurnia-kurnia yang layak bagi tugas seluhur itu. Maka tidak mengherankan, bahwa di antara para Bapa suci menjadi lazim untuk menyebut Bunda Allah suci seutuhnya dan tidak terkena oleh cemar dosa manapun juga, bagaikan makhluk yang diciptakan dan dibentuk baru oleh Roh Kudus. Perawan dari Nasaret itu sejak saat pertama dalam rahim dikaruniai dengan semarak kesucian yang istimewa. Atas titah Allah ia diberi salam oleh Malaikat pembawa Warta dan disebut “penuh rahmat” (Luk 1:28). Kepada utusan dari sorga itu ia menjawab: “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu” (Luk 1:38). Demikianlah Maria Puteri Adam menyetujui sabda ilahi, dan menjadi Bunda Yesus. Dengan sepenuh hati yang tak terhambat oleh dosa mana pun ia memeluk kehendak Allah yang menyelamatkan, dan membaktikan diri seutuhnya sebagai hamba Tuhan kepada Pribadi serta karya Putera-Nya, untuk di bawah Dia dan beserta Dia, berkat rahmat Allah yang mahakuasa, mengabdikan diri kepada misteri penebusan. Maka memang tepatlah pandangan para Bapa suci, bahwa Maria tidak secara pasif belaka digunakan oleh Allah, melainkan bekerja sama dengan penyelamatan umat manusia dengan iman serta kepatuhannya yang bebas. Sebab, seperti dikatakan oleh St. Ireneus, “dengan taat Maria menyebabkan keselamatan bagi dirinya maupun bagi segenap umat manusia”. Maka tidak sedikitlah para Bapa zaman kuno, yang dalam pewartaan mereka dengan rela hati menyatakan bersama St.Ireneus: “Ikatan yang disebabkan oleh ketidaktaatan Hawa telah diuraikan karena ketaatan Maria; apa yang diikat oleh perawan Hawa karena ia tidak percaya, telah dilepaskan oleh perawan Maria karena imannya”. Sambil membandingkannya dengan Hawa, mereka menyebut Maria “bunda mereka yang hidup”. Sering pula mereka menyatakan: “maut melalui Hawa, hidup melalui Maria” (LG, 56).

Katekismus Gereja Katolik 484, 488, 490:

KGK 484 Pewartaan kepada Maria membuka “kegenapan waktu” (Gal 4:4): Janji-janji terpenuhi, persiapan sudah selesai. Maria dipanggil supaya mengandung Dia, yang di dalam-Nya akan tinggal “seluruh kepenuhan ke-Allah-an secara jasmaniah” (Kol 2:9). Jawaban ilahi atas pertanyaan Maria: “Bagaimana mungkin hal itu terjadi karena aku belum bersuami?” (Luk 1:34) menunjukkan kekuasaan Roh: “Roh Kudus akan turun atasmu” (Luk 1:35).

KGK 488 “Tuhan telah mengutus Putera-Nya” (Gal 4:4). Tetapi supaya menyediakan “tubuh bagi-Nya” (Ibr 10:5), menurut kehendak-Nya haruslah satu makhluk bekerja sama dalam kebebasan. Untuk tugas menjadi ibu Putera-Nya, Allah telah memilih sejak kekal seorang puteri Israel, seorang puteri Yahudi dari Nasaret di Galilea, seorang perawan, yang “bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud: nama perawan itu Maria” (Luk 1:26-27). “Adapun Bapa yang penuh belas kasihan menghendaki, supaya penjelmaan Sabda didahului oleh persetujuan dari pihak dia, yang telah ditetapkan menjadi Bunda-Nya. Dengan demikian, seperti dulu seorang perempuan mendatangkan maut, sekarang pun seorang perempuanlah yang mendatangkan kehidupan” (LG 56, Bdk. LG 61).

KGK 490 Karena Maria dipilih menjadi bunda Penebus, “maka ia dianugerahi karunia-karunia yang layak untuk tugas yang sekian luhur” (LG 56). Waktu pewartaan, malaikat menyalaminya sebagai “penuh rahmat” (Luk 1:28). Supaya dapat memberikan persetujuan imannya kepada pernyataan panggilannya, ia harus dipenuhi seluruhnya oleh rahmat Allah.

Posted in Bunda Maria | Leave a comment

DILEMA HIDUP DUA ALAM

Renungan Hari Minggu Biasa Ke-29 (A)

Yes 45:1.4-6; 1Tes 1:1-5b; Mat 22:15-21

Menurut sahabat saya seorang peguam bela, kata-kata yang kita ucapkan di dalam mahkamah boleh membebaskan juga boleh menjerumuskan kita ke dalam penjara. Maka katanya, “Berhati-hatilah apabila memberi pengakuan atau jawaban terutama kepada orang-orang yang mahu mendakwa kita!” Betul juga kata pepatah, “Terlajak sampan boleh diundurkan, terlajak kata buruk padahnya.”

Di dalam Injil tadi kita mendengar Yesus, sang Mesias yang ditunggu-tunggu itu telah tiba. Kata-kata-Nya sungguh berkuasa untuk mengajar dan menyembuhkan. Dia membawa Khabar Gembira tentang pengampunan dan dunia baru. Tetapi semua itu bukan menggembirakan orang-orang Farisi malah menjadi ancaman pula terhadap kedudukan mereka. Mereka sibuk mencari kesalahan Yesus dan sentiasa mencari kesilapan kata-kata Yesus dan mencuba memerangkap-Nya. Mereka bertanya, “Guru… apakah diperbolehkan membayar cukai kepada Kaisar atau tidak?” mereka sengaja meletakkan Yesus di dalam keadaan serba salah dan berharap agar Yesus terperangkap melalui jawaban-Nya yang membahayakan kedudukan-Nya.

Seandainya Yesus menjawab ‘tidak,’ maka orang ramai akan menolaknya. Sebab pada waktu itu tidak ada orang yang suka membayar cukai kepada kuasa asing yang telah menjajah tanah mereka. Lebih-lebih lagi jika Yesus menyatakan ‘ya’, maka orang-orang Yahudi merasa dipermalukan kerana agama mereka mengatakan hanya Yahwe sahaja raja mereka.

Sebaliknya jika Yesus menjawab ‘tidak’, orang-orang Farisi akan melapurkan-Nya kepada kerajaan Romawi kerana menyuruh orang ramai tidak mahu membayar cukai. Dengan demikian tentera Romawi akan menangkap-Nya dan memasukkan-Nya ke dalam penjara.

Tetapi Yesus dengan bijaksana telah memberikan jawapan di luar jangkaan orang-orang Farisi sehingga mereka semua terdiam, “Berikanlah kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

Jawapan Kristus tersebut telah mengatasi perangkap orang-orang Farisi dan menyatakan suatu prinsip yang sangat asas. Dia menekankan bahawa kita sebagai warganegara duniawi dan syurgawi, iaitu dunia di mana kita boleh melihat badan dan segala benda-benda yang ada di sekeliling kita, dan dunia roh yang tidak kelihatan itu.

Maka dengan demikian, kita mempunyai peranan terhadap kedua-dua dunia tersebut – kepada manusia dan kepada Allah. Tugas kita terhadap manusia bukan hanya apa yang kita bayar kepada kerajaan dalam bentuk cukai, tetapi juga apa yang harus kita bayar kepada sesama kita. Ini semua termasuk juga apa yang harus dibayar oleh suami dan isteri, ibu bapa dan anak-anak, pekerja dan majikan, guru dan murid. Dalam hal ini boleh kita tambah tentang apa yang boleh dibayar oleh orang-orang kaya kepada orang-orang miskin, orang-orang yang berkuasa kepada orang-orang lemah dan orang-orang bijak pandai kepada orang yang jahil dalam segala hal.

Perkara sedemikian inipun perlu kita kaitkan dengan diri kita sendiri. Sebenarnya kitapun berhutang pada diri kita sendiri dan perlu dilunaskan dengan segera pula. Contohnya kita perlu menjaga kesihatan badan kita, menjaga minda dan emosi kita, meneruskan pembelajaran kita dari semasa ke semasa serta tidak lupa mengambil masa untuk berihat secukupnya.

Selain menyedari bahawa kita ini berada di dunia yang nyata, kitapun sebenarnya adalah merupakan warganegara dunia yang tidak kelihatan, iaitu dunia roh. Maka untuk itu kita wajib untuk memuji syukur, menyembah dan memuliakan Allah. Dengan kata lain, kita wajib menyembah Allah sebab Dia adalah maha baik dan sumber terhadap segala keberadaan kita dan apa yang kita miliki di dunia ini.

Namun dalam hal ini, kita pun sebenarnya wajib menjaga diri kita dalam hal kerohanian. Bahawa kita perlu selalu berdoa, membaca Alkitab serta menerima sakramen-sakramen untuk membangun kehidupan dalam roh. Dengan kata lain, kita perlu menjaga kehidupan dalaman kita, iaitu jiwa kita seimbang dengan apa yang kita lakukan terhadap kehidupan nyata kita, iaitu jasmani kita.

Jangan sampai kita membiarkan diri kita melakukan kesilapan yang sama yang pernah dilakukan oleh orang-orang Farisi itu tadi yang hanya mencari kesempatan untuk menjatuhkan Kristus sehingga mereka tidak memahami makna pesan-pesan Yesus yang berguna bagi mereka.

“Berikanlah kepada Kaisar yang menjadi hak Kaisar dan kepada Allah yang menjadi hak Allah” (ay 21). Pada zaman sekarang, dunia menghadapi masalah, “Berikanlah kepada Kaisar sebab terdapat banyak ‘kaisar-kaisar’ kecil, mempengeruhi suara hati kita yang mempunyai sifat dan jenama yang pelbagai pula. Contohnya parti-parti politik, persatuan-persatuan, kesatuan-kesatuan dan macam-macam lagi aktiviti duniawi yang menghendaki kita setia dan komited terhadap perjuangan dan ideologi mereka.

Semoga kita sentiasa sedar terhadap tanggung jawab kita untuk tidak terlalu berat sebelah kepada ‘kaisar’ tapi tetap sedar apa yang berguna bagi kehidupan rohani dan jasmani kita. Jiwa dan raga kita adalah milik Allah. Kita boleh bagi apa saja untuk ‘kaisar’ tapi jangan sampai kita memberi kepadanya yang sangat berharga bagi kita, iaitu kesetiaan kita kepada Allah Bapa di syurga sebab, “Apa gunanya seorang memperolehi seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Mt 16:26). (JL)

Cadangan soalan refleksi peribadi dan perkongsian KKD.

1 Apakah pengertian anda tentang Sabda Yesus ini: “Berikan kepada Kaisar yang menjadi hak Kaisar dan kepada Allah yang menjadi hak Allah” di zaman kita sekarang?

2 Apakah “Kaisar-Kaisar” kecil yang selalu menghantui hidup kita kini sehingga kita lupa pada Tuhan dan bagaimana mengatasinya?

Cadangan aktiviti minggu ini.

Kita perlu bijaksana dalam tuturkata dan apa yang kita fikirkan apabila kita berhadapan dengan persoalan kehidupan rohani dan jasmani kita. Fikir dan renungkan apakah selama iniTuhan kita lupakan apabila berhadapan dengan hal-hal duniawi – ekonomi, sosial dan politik? Apakah sikap kita berbeza apabila kita berada di kawasan gereja dengan sikap kita apabila berada di luar sana?

Posted in Spiritual Food | Leave a comment

TENTANG PERZINAHAN

Pertanyaan:

Shalom Katolisitas.

Dengan membaca ulasan ttg “apakah hidup bersama sebelum Pemberkatan Nikah” merupakan Dosa..

saya ingin masuk lebih dalam lagi dengan apa arti berjinah / perjinahan, dan bagaimana parameternya berdasarkan ajaran Gereja Katolik. mudah2an ulasan2 katolisitas bisa menjawab macam2 fenomena tentang pandangan terhadap arti perjinahan yang mana sering membuahkan perceraian/perpisahan bagi sebuah rumah tangga.

Salam sejahtera

Felix Sugiharto

Jawaban:

Shalom Felix Sugiarto,

Definisi perzinahan menurut ajaran Kristus dalam Kitab Suci, adalah:

“Setiap orang yang menceraikan isterinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah; dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat zinah.” (Luk 16:18, lih. Mrk 10:11)

“Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” (Mat 5:27-28)

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

KGK 2380 Perzinahan, artinya ketidaksetiaan suami isteri. Kalau dua orang, yang paling kurang seorang darinya telah kawin, mengadakan bersama hubungan seksual, walaupun hanya bersifat sementara, mereka melakukan perzinahan. Kristus malah mencela perzinahan di dalam roh Bdk. Mat 5:27-28.. Perintah keenam dan Perjanjian Baru secara absolut melarang perzinahan Bdk. Mat 5:32; 19:6; Mrk 10:11; 1 Kor 6:9-10.. Para nabi mengritiknya sebagai pelanggaran yang berat. Mereka memandang perzinahan sebagai gambaran penyembahan berhala yang berdosa Bdk.Hos 2:7;Yer 5:7; 13:27.

KGK 2381 Perzinahan adalah satu ketidakadilan. Siapa yang berzinah, ia tidak setia kepada kewajiban-kewajibannya. Ia menodai ikatan perkawinan yang adalah tanda perjanjian; ia juga menodai hak dari pihak yang menikah dengannya dan merusakkan lembaga perkawinan, dengan tidak memenuhi perjanjian, yang adalah dasarnya. Ia membahayakan martabat pembiakan manusiawi, serta kesejahteraan anak-anak, yang membutuhkan ikatan yang langgeng dari orang-tuanya.

Perzinahan ini merupakan perbuatan yang melanggar kesucian ikatan perkawinan dan makna luhur hubungan seksual antara seorang pria dan wanita. Jadi jika dijabarkan, Tuhan tidak berkenan dengan dosa perzinahan, karena:

1. Merupakan perbuatan ketidak-setiaan. Perkawinan Katolik dimaksudkan Allah untuk menjadi tanda yang mencerminkan kasih setia Allah kepada umat-Nya (selanjutnya tentang ini, klik di sini); sehingga pelanggaran terhadap kasih setia ini disamakan oleh Tuhan sebagai tindakan ‘berhala’, seperti ketika pada jaman PL umat Israel berkali- kali melanggar perjanjian dengan Allah dengan menyembah dewa/ allah-allah lain.

“Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah…” (Kol 3:5-6)

2. Merupakan perbuatan yang melanggar kesucian dan keluhuran hubungan seksual suami istri, yang harusnya melambangkan kesatuan antara Kristus dan mempelai-Nya yaitu Gereja-Nya (jemaat-Nya).

“Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.” (Ef 5:31-32, lih. Mat 19:5-6)

3. Merupakan perbuatan ketidak- adilan; sebab keadilan mensyaratkan pembagian sesuatu kepada pihak- pihak yang bersangkutan sesuai dengan haknya. Perzinahan melawan prinsip keadilan ini, sebab hubungan dilakukan oleh pasangan yang tidak berhak melakukannya. Selanjutnya, efeknyapun dapat membawa kehancuran dalam keluarga, yaitu pasangan yang dikhianati, dan anak- anaknya. Tidak ada seorangpun dari kita yang ingin dikhianati, sebab itu bertentangan dengan prinsip kasih dan keadilan, yang mengatakan:

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” (Mat 7:12)

4. Merupakan perbuatan dosa yang dapat menyebabkan pelanggaran/ dosa yang lain, seperti bersaksi dusta terhadap pasangan yang sesungguhnya, pemakaian alat kontrasepsi dan bahkan pembunuhan ataupun aborsi. Kisah perzinahan Raja Daud merupakan salah satu contohnya (lih. 2 Sam 11).

5. Merupakan perbuatan yang menjadi skandal/ batu sandungan, entah bagi umat seiman, maupun bagi mereka yang tidak seiman dengan kita dan ini ‘menyesatkan’ karena dapat mengakibatkan sikap merendahkan martabat perkawinan. Keluarga adalah Gereja yang terkecil, yang seharusnya membagikan terang kepada dunia sekitarnya, dan bukannya malah mengikuti arus dunia, yang seolah menyetujui/ tidak melarang perzinahan.

“Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya.” (Mat 18:7)

6. Merupakan perbuatan yang merusak diri sendiri dan berdosa terhadap tubuhnya sendiri yang seharusnya menjadi tempat kediaman Roh Kudus.

“Siapa melakukan zinah tidak berakal budi; orang yang berbuat demikian merusak diri.”(Ams 6:32)

“Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? Akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan? Sekali-kali tidak! Atau tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia? Sebab, demikianlah kata nas: “Keduanya akan menjadi satu daging.” Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia. Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri. Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, –dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?” (1 Kor 6:15-19)

7. Merupakan perbuatan yang dapat mengakibatkan seseorang kehilangan keselamatannya, jika yang melakukannya tidak bertobat. Karena perzinahan adalah dosa berat yang melawan hukum Tuhan, maka perbuatan ini sungguh membawa resiko pihak- pihak yang terlibat di dalamnya kehilangan rahmat keselamatannya (Lih. Gal 5: 19-20). Perzinahan melibatkan obyek moral yang berat, dan umumnya dilakukan atas kesadaran dan pengetahuan yang penuh, dan dengan kehendak bebas; dan ketiga hal ini menjadikan perzinahan sebagai dosa berat (lih. KGK 1857), yang sungguh memisahkan seseorang dari Tuhan.

KGK 1855 Dosa berat merusakkan kasih di dalam hati manusia oleh satu pelanggaran berat melawan hukum Allah. Di dalamnya manusia memalingkan diri dari Allah, tujuan akhir dan kebahagiaannya dan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih rendah. …

Selanjutnya, mungkin relevan di sini kita mengetahui konteks ayat Mat 19:9, di mana Yesus mengatakan, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.” (Mat 19:9, Mat 5:32). Namun bukan berarti karena zinah maka seseorang dapat menceraikan pasangannya (istri/ suaminya) yang telah berbuat zinah. St. Clemens dari Alexandria (150-216), mengajarkan maksud ajaran Yesus pada ayat tersebut sebagai berikut: “Zinah di sini artinya adalah perkawinan antara mereka yang sudah pernah menikah namun bercerai, padahal pasangannya yang terdahulu itu belum meninggal.[15] (Jadi, dalam hal ini, Yesus mengakui perkawinan yang pertama sebagai yang sah, dan perkawinan kedua itulah yang harusnya diceraikan agar pihak yang pernah menikah secara sah dapat kembali kepada pasangan terdahulu).

Demikian yang dapat saya sampaikan mengenai perzinahan menurut ajaran Gereja Katolik. Semoga berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,

Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Posted in Perkahwinan | Leave a comment

MENGAPA UMAT KATOLIK MOHON DUKUNGAN DOA KEPADA ORANG-ORANG KUDUS YANG SUDAH MENINGGAL DUNIA?

Dalam 1 Tim 2:1-2 Rasul Paulus mengajarkan agar kita “menaikkan permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang”. Jadi yang melakukan doa syafaat/ pengantaraan bukan saja hanya Kristus dan Roh Kudus, namun kita semua diundang untuk berdoa syafaat, saling mendoakan satu sama lain. Para beriman atau semua orang kudus diajar untuk berdoa atau berdoa syafaat, dan ini diajarkan dalam 32 ayat yang lain dalam Perjanjian Baru. Namun tentu saja doa syafaat kita ini hanya dapat terjadi karena Pengantaraan Kristus yang satu-satunya (lih. 1 Tim 2:5) itu, dan tidak bisa terlepas dari Kristus. Gereja Katolik percaya bahwa Kristus berdoa syafaat bagi kita kepada Allah Bapa di dalam Roh Kudus, seperti secara sempurna terlihat dalam Perayaan Ekaristi. Perayaan Ekaristi diadakan di dalam nama Kristus, dan tidak pernah dinyatakan di dalam nama Maria atau dalam nama para kudus, baik Santa ataupun Santo.

Masalahnya, ada banyak orang menganggap bahwa para orang kudus (Santa/ Santo) yang sudah meninggal sudah tidak ada hubungannya dengan orang- orang yang masih hidup di dunia, karena mereka sudah “mati”, tidak bernafas. Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci mengajarkan bahwa para kudus yang sudah meninggal itu tidak mati, melainkan tetap hidup. Sebab yang mati hanya tubuhnya, tetapi jiwa orang- orang kudus tersebut tetap hidup bersama Tuhan, karena itulah yang dijanjikan oleh Kristus sendiri, khususnya dalam Yoh 11:25, Rom 8:11, Yoh 3: 16; Yoh 6:58 maupun Yoh 8:51. Maka “mati” di sini artinya bukan tidak bernafas, melainkan tidak hidup lagi di dunia. Dalam perikop Roti Hidup di Injil Yohanes, disebutkan bahwa orang-orang beriman yang di Surga tetap adalah orang-orang kudus yang hidup, karena Kristus, Sang Roti Hidup, telah memberi kehidupan kekal kepada mereka (lih. Yoh 6:54).

Maka, memohon dukungan doa dari para orang kudus berbeda dengan pemanggilan arwah orang mati yang dikecam di kitab Perjanjian Lama, yang bertujuan untuk meminta informasi ilahi dari jiwa- jiwa yang sudah meninggal. Pada saat Saul memohon kepada arwah Samuel (1 Sam 28), ia tidak memohon agar Samuel mendoakan dia -sebab jika demikian itu baik dan tidak dilarang- tetapi ia mencari informasi tentang hasil pertempuran yang akan terjadi, jadi semacam ramalan. Inilah yang dilarang Allah. Karena dengan ingin mengetahui ramalan, sebenarnya seseorang tidak lagi menghormati Allah Sang Penyelenggara Ilahi yang mengetahui segala sesuatu dan bahwa Allah menghendaki segala yang terbaik bagi umat-Nya.

Selanjutnya, karena kita percaya bahwa kematian akan membawa kita kepada kehidupan bersama Kristus, di mana kita akan melihat Dia dalam keadaan yang sesungguhnya dan menjadi serupa dengan-Nya (lih. 1 Yoh 3:2), maka kita percaya, bahwa di Surga para kudus juga telah menjadi serupa dengan Kristus. Sebagai anggota Tubuh Kristus yang telah berjaya di Surga, para orang kudus itu akan melakukan juga apa yang dilakukan oleh Kristus Sang Kepala, yaitu mendoakan orang-orang lain yang masih berziarah di dunia (lih. Why 5:8; Why 8:3-4). Doa- doa para kudus ini sangat besar kuasanya karena mereka sudah dibenarkan oleh Kristus (lih. Yak 5:16). Para orang kudus itu bukan saingan Kristus, melainkan rekan sekerja Kristus (1 Kor 3:9). Dengan demikian, mereka juga adalah sahabat-sahabat kita, karena kita diikat oleh kasih Kristus menjadi satu Tubuh. Dalam satu kesatuan Tubuh Kristus ini, kita percaya bahwa “tidak ada suatu kuasa-pun yang mampu memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada di dalam Kristus Yesus Tuhan kita.” (Rom 8:38-39). Oleh karena itu, kita dapat memohon agar mereka mendoakan kita yang masih berziarah di dunia ini, sama seperti kita memohon dukungan doa dari sesama umat beriman yang masih hidup di dunia ini.

Dasar Alkitab:

1 Tim 2:1-2: Ajaran untuk menaikkan doa syafaat bagi semua orang

1 Tim 2:5: Yesus satu- satunya Pengantara kepada Bapa

Rom 8:11: Roh Kristus yang membangkitkan Kristus akan menghidupkan kita

Yoh 3: 16: Yang percaya pada Kristus beroleh hidup kekal

Yoh 6:54, 6:58: Yang makan Roti Hidup [dan minum darahNya]akan hidup selamanya

Yoh 8:51: Yang menuruti firman Kristus tidak akan mengalami maut

Yoh 6:54: Yang makan daging-Nya dan minum darah-Nya, mempunyai hidup kekal

Yoh 11:25-26: Yang percaya kepada Kristus akan hidup walaupun ia sudah mati

1 Yoh 3:2: Kelak kita akan menjadi sama seperti Kristus

Why 5:8; Why 8:3-4: Doa syafaat para tua-tua di surga

Yak 5:16: Doa orang benar besar kuasanya

1 Kor 3:9: Kita adalah kawan sekerja Kristus

Rom 8:38-39: Maut tidak memisahkan kita dari kasih Kristus

Dasar Tradisi Suci:

St. Klemens dari Aleksandria (150-215)

“Dengan cara ini, ia [seorang Kristen sejati]selalu murni dalam doa. Ia juga berdoa dalam kumpulan para malaikat, sebagai seorang berada di tingkatan malaikat, dan ia tak pernah beranjak dari perlindungan mereka; dan meskipun ia berdoa sendirian, ia telah berada di dalam paduan suara para kudus yang berdiri dengannya [dalam doa]” (St. Clement of Alexandria, The Stromata (Book VII), Miscellanies 7:12 [A.D. 208]).

Origen (185-254)

“Tetapi bukan Sang Imam Agung [Kristus] sendiri yang berdoa untuk mereka yang berdoa dengan tulus, tetapi juga para malaikat … demikian juga jiwa-jiwa para orang kudus yang telah meninggal dunia” (Origen, De Principiis (Book IV), Prayer 11 [A.D. 233]).

St. Siprianus dari Karthago (200-270)

“Mari kita mengingat satu sama lain dalam harmoni dan kesatuan suara. Mari kita, di kedua belah pihak [yang terpisah kematian]selalu berdoa bagi satu sama lain. Mari mengangkat beban-beban dan kesedihan dengan dengan saling mengasihi, sehingga jika salah seorang dari kita, dengan pergerakan perlindungan ilahi, telah pergi terlebih dahulu [wafat], kasih kita dapat terus berlanjut dalam hadirat Tuhan, dan doa-doa kita bagi saudara-saudari kita tidak berhenti dalam hadirat belas kasihan Allah Bapa” (St. Cyprian of Carthage, Epistle 7, Letters 56[60]:5 [A.D. 253]).

St. Efraim dari Syria (306-373)

“Kalian, para martir yang berjaya, yang bertahan dalam penganiayaan dengan suka cita demi Tuhan dan Sang Penyelamat, kalian yang mempunyai keberanian berbicara di hadapan Tuhan sendiri, kalian para orang kudus, berdoa syafaat-lah untuk kami, orang-orang yang lemah dan berdosa, sehingga rahmat Kristus dapat turun atas kami dan menerangi hati kami semua, sehingga kami dapat mengasihi Dia.” (St. Ephraim the Syrian, Commentary on Mark, The Nisibene Hymns, [A.D. 370]).

St. Basilius Agung (329-379)

“Atas perintah Putera Tunggal-Mu, kami berkomunikasi dengan kenangan para orang kudus-Mu …. oleh doa-doa dan permohonan mereka, berbelas kasihanlah kepada kami semua, dan bebaskanlah kami demi nama-Mu yang kudus.” (St. Basil the Great, Letter 243, Liturgy of St. Basil, [A.D. 373]).

St. Gregorius dari Nisa (325-386)

“[Efraim], engkau yang berdiri di hadapan altar ilahi [di Surga]… ingatlah kami semua, mohonkanlah bagi kami pengampunan dosa-dosa, dan penggenapan janji Kerajaan kekal” (St. Gregory of Nyssa, On the Baptism of Christ, Sermon on Ephraim the Syrian [A.D. 380]).

St. Gregorius dari Nazianza (325-389)

“Ya, saya diyakinkan bahwa doa syafaat [ayah saya]sekarang lebih berguna daripada pengajarannya di hari-hari terdahulu, sebab kini ia lebih dekat kepada Tuhan, bahwa ia telah menanggalkan keterbatasan tubuhnya, dan membebaskan pikirannya dari tanah liat yang dulu mengaburkannya, dan kini mengadakan pembicaraan yang terus terang dengan keterus-terangan pikiran yang utama dan murni …” (St. Gregory Nazianzen, Oration 18:4)

“Semoga engkau [Siprianus], dari atas memandang ke bawah dengan belas kasih kepada kami, dan membimbing perkataan dan hidup kami; dan menggembalakan kawanan yang kudus ini …. menyenangkan Allah Trinitas yang kudus, yang di hadapan-Nya engkau berdiri.” (St. Gregory Nazianzen, Oration 17, 24)

St. Yohanes Krisostomus (347-407 AD)

“Ketika kamu merasa bahwa Tuhan menyesahmu, jangan berlari kepada musuh-musuh-Nya …. tetapi kepada sahabat-sahabat-Nya, para martir, para orang kudus, dan mereka yang menyenangkan hati-Nya dan yang mempunyai kuasa yang besar [di dalam Tuhan].” (St. John Chrysostom, Orations 8:6, Homily 8 on Romans [A.D. 396])

“Ia yang mengenakan pakaian ungu [yaitu, seorang bangsawan] …. berdiri mengemis kepada para orang kudus untuk menjadi pelindungnya di hadapan Tuhan, dan ia yang memakai mahkota mengemis kepada sang pembuat tenda [Rasul Paulus] dan sang nelayan [Rasul Petrus] sebagai pelindungnya, meskipun mereka telah wafat.” (St. John Chrysostom, Homilies 26 on Second Corinthians [A.D. 392]).

St. Hieronimus, (347-420)

“Engkau mengatakan di alam bukumu bahwa ketika kita hidup kita dapat saling mendoakan, tetapi setelahnya ketika kita telah mati, tak ada doa seorangpun yang dapat didengar …. Tetapi jika para Rasul dan martir ketika masih tinggal di dalam tubuh dapat mendoakan orang lain, pada saat di mana mereka masih dapat memikirkan diri mereka sendiri, berapa lebih banyak-kah yang dapat mereka lakukan setelah mereka menerima mahkota, kemenangan dan kejayaan?” (St. Jerome, Against Vigilantius 6 [A.D. 406]).

St. Agustinus dari Hippo (354-430)

“Sebuah bangsa Kristen merayakan bersama dalam perayaan religius, kenangan para martir, baik untuk menekankan teladan mereka agar diikuti, maupun agar bangsa itu dapat mengambil bagian dalam jasa-jasa mereka dan dibantu oleh doa-doa mereka.” (St. Augustine of Hippo, The City of God (Book VIII), Against Faustus the Manichean [A.D. 400]).)

“Juga, jiwa-jiwa orang beriman yang telah wafat tidak terpisah dari Gereja, yang bahkan sekarang adalah Kerajaan Kristus. Jika tidak demikian, tidak akan ada kenangan akan mereka di altar Tuhan dalam komunikasi Tubuh Kristus.” (St. Augustine of Hippo, The City of God (Book XX), 9:2 [A.D. 419]).

“Di altar Tuhan kita tidak mengenang para martir dengan cara yang sama dengan yang kita lakukan terhadap mereka yang telah meninggal untuk mendoakan mereka, melainkan agar mereka [para martir itu]mendoakan kita sehingga kita dapat mengikuti jejak kaki mereka.” (St. Augustine of Hippo, Tractate/ Homilies on John, 84 (John 15:13) [A.D. 416]).

Dasar Magisterium Gereja:

Katekismus Gereja Katolik: 955, 956, 957:

KGK 955 “Persatuan mereka yang sedang dalam perjalanan dengan para saudara yang sudah beristirahat dalam damai Kristus, sama sekali tidak terputus. Bahkan menurut iman Gereja yang abadi diteguhkan karena saling berbagi harta rohani” (LG 49).

KGK 956 Doa syafaat para kudus. “Sebab karena para penghuni surga bersatu lebih erat dengan Kristus, mereka lebih meneguhkan seluruh Gereja dalam kesuciannya; mereka menambah keagungan ibadat kepada Allah, yang dilaksanakan oleh Gereja di dunia; dan dengan pelbagai cara mereka membawa sumbangan bagi penyempurnaan pembangunannya. Sebab mereka, yang telah ditampung di tanah air dan menetap pada Tuhan, karena Dia, bersama Dia, dan dalam Dia, tidak pernah berhenti menjadi pengantara kita di hadirat Bapa, sambil mempersembahkan pahala-pahala, yang telah mereka peroleh di dunia, melalui Pengantara tunggal antara Allah dan manusia yakni: Kristus Yesus. Demikianlah kelemahan kita amat banyak dibantu oleh perhatian mereka sebagai saudara” (LG 49).

“Jangan menangis, sesudah saya mati saya akan lebih berguna bagi kamu dan akan menyokong kamu secara lebih baik daripada selama saya hidup” (Dominikus, dalam sakratul maut kepada sama saudara seserikat, Bdk. Jordan dari Sachsen, lib. 93).

“Saya akan mengisi kehidupan saya di surga dengan melakukan yang baik di dunia” (Teresia dari Anak Yesus, verba).

KGK 957 Persekutuan dengan para orang kudus. “Kita merayakan kenangan para penghuni surga bukan hanya karena teladan mereka. Melainkan lebih supaya persatuan segenap Gereja dalam Roh diteguhkan dengan mengamalkan cinta kasih persaudaraan. Sebab seperti persekutuan kristiani antara para musafir mengantarkan kita untuk mendekati Kristus, begitu pula keikut-sertaan dengan para kudus menghubungkan kita dengan Kristus, yang bagaikan Sumber dan Kepala mengalirkan segala rahmat dan kehidupan Umat Allah sendiri” (LG 50).

“Kita menyembah Kristus karena Ia adalah Putera Allah. Tetapi para saksi iman, kita kasihi sebagai murid dan peniru Tuhan dan karena penyerahan diri yang tidak ada tandingannya kepada raja dan guru mereka. Semoga kita juga menjadi teman dan sesama murid mereka” (Polikarpus, Mart. 17).

Posted in Bunda Maria | Leave a comment