TENTANG PENUMPANGAN TANGAN

Menurut definisi dari Catholic Encyclopedia, (klik di sini untuk membaca teks selengkapnya) penumpangan tangan adalah suatu upacara simbolis yang dimaksudkan untuk menyampaikan kepada orang yang menerimanya, semacam kebaikan, persetujuan, keistimewaan (secara prinsip tentang hal rohani) atau untuk menugaskan kepadanya jabatan tertentu.

Penumpangan tangan dalam Perjanjian Lama

Hal penumpangan tangan ini sudah ada sejak zaman dahulu, dan dicatat dalam Kitab Suci sudah ada sejak Perjanjian Lama:

1. Untuk memberikan berkat: Yakub memberikan berkatnya kepada Efraim dan Manaseh dengan menumpangkan tangannya atas mereka (Kej 48:14).

2. Untuk memberikan tugas: Nabi Musa menumpangkan tanggannya atas Yosua agar ia meneruskan kepemimpinannya atas bangsa Israel (Bil 27:18,23).

3. Sebagai upacara religius memberikan tahbisan: Pentahbisan Harun dan anak-anaknya untuk menerima jabatan imam (Kel 29, Im 8).

4. Untuk menguduskan kurban: Dalam ritual Musa, sebelum kurban dipersembahkan, imam menumpangkan tangan atas kepala kurban tersebut (Im 8:18).

Penumpangan tangan dalam Perjanjian Baru

Penumpangan tangan ini juga dilakukan oleh Tuhan Yesus dan para Rasul:

1. Untuk menyembuhkan dan membangkitkan:

Tuhan Yesus menumpangkan tangan untuk menyembuhkan orang-orang sakit (Mat 9:18; Mrk 5:23, 6:5, 8:22-25; Luk 4:40, 13:13), dan membangkitkan anak perempuan Yairus (Mat 9:18).

Para Rasul menyembuhkan dengan menumpangkan tangan (lih. Kis 28:8).

2. Untuk mencurahkan Roh Kudus dan menyalurkan karunia-karunia Roh Kudus: Para Rasul menumpangkan tangan kepada jemaat, dan mereka menerima Roh Kudus dan karunia-karunia-Nya (lih. Kis 8:17,19; 19:6).

3. Untuk mendatangkan rahmat tahbisan: Para Rasul meletakkan tangannya atas murid Kristus yang tertentu untuk mengangkat mereka sebagai pembantu mereka melakukan tugas penggembalaan umat Tuhan (Kis 6:6; 13:3; 1Tim 4:14; 2Tim 1:6).

Penumpangan tangan dalam Gereja Katolik

Sampai sekarang, doa penumpangan tangan dalam Gereja Katolik tetap ada, baik dalam upacara liturgis, maupun non- liturgis.

1. Dalam upacara liturgis:

Doa penumpangan tangan memberikan rahmat sakramen, seperti dalam sakramen Tahbisan (untuk memberikan rahmat tahbisan); dalam sakramen Penguatan/ Krisma (untuk memberikan rahmat sakramen Krisma dan karunia Roh Kudus); dalam sakramen Pengurapan orang sakit (untuk memberikan rahmat penyembuhan rohani dan jasmani). Dalam tahbisan imam, penumpangan tangan dilakukan oleh uskup atas diakon yang oleh tahbisan itu diangkat menjadi imam. Dalam sakramen Krisma, penumpangan tangan dilakukan oleh Uskup, atau imam yang diberi kuasa oleh Uskup, untuk memberikan sakramen Krisma, yang maknanya adalah menyalurkan karunia Roh Kudus, agar yang menerimanya sanggup menjadi saksi-saksi Kristus, dan agar menjadi dewasa secara rohani. Penumpangan tangan dalam penerimaan sakramen Tahbisan dan Krisma ini (seperti halnya rahmat sakramen Baptis), memberikan efek meterai di jiwa.

Penumpangan tangan dalam upacara liturgis untuk memberikan rahmat sakramen ini tidak dilakukan oleh umat awam, melainkan oleh para tertahbis. Penumpangan tangan oleh kaum tertahbis ini menyampaikan rahmat Allah yang mempersatukan, menguduskan dan menyertai Gereja di sepanjang sejarah, dan dengan demikian menghubungkan kita dengan jalur apostolik yang dimiliki oleh Gereja Katolik.

2. Dalam upacara non-liturgis:

Penumpangan tangan yang dilakukan di luar upacara liturgis, tidak memberikan efek sakramen namun tetap menyampaikan berkat Tuhan:

Para imam dapat menumpangkan tangan untuk mendoakan anak-anak, umat yang sakit ataupun umat yang meminta berkat, dengan menumpangkan tangannya.

Orang tua dapat mendoakan anak-anaknya dengan menumpangkan tangannya, seperti yang dulu dilakukan oleh Yakub bagi anak-anaknya, Efraim dan Manaseh.

Terutama dalam komunitas Karismatik Katolik, doa penumpangan tangan juga dapat dilakukan, misalnya oleh para saudara/i yang bertindak sebagai bapa atau ibu rohani bagi anak-anak rohani mereka dalam komunitas tersebut.

Dasar bahwa sebagai sesama umat beriman kita dapat saling mendoakan (lih. Yak 5:16) dan menyampaikan berkat adalah karena melalui rahmat sakramen Baptis, kita memperoleh peran imamat bersama (lih. KGK 1268). Namun tetap perlu disadari bahwa penumpangan tangan oleh awam tidak sama artinya dan karena itu tidak dapat disamakan dengan penumpangan tangan oleh para tertahbis. Sekalipun tidak sama artinya, tidak berarti bahwa doa dari sesama awam tidak ada artinya, sebab melalui doa-doa tersebut, Allah tetap dapat berkarya dan memberikan berkat-Nya. Sebab Tuhan telah mengikatkan rahmat-Nya pada sakramen-sakramen, tetapi Ia sendiri tidak terikat pada sakramen-sakramen-Nya (lih. KGK 1257).

Konsili Vatikan II, Lumen Gentium 12, mengajarkan bahwa tidak hanya melalui sakramen-sakramen Roh Kudus menyucikan Gereja-Nya:

“Selain itu, tidak hanya melalui sakramen- sakramen dan pelayanan Gereja saja, bahwa Roh Kudus menyucikan dan membimbing Umat Allah dan menghiasinya dengan kebajikan- kebajikan, melainkan, Ia juga “membagi-bagikan” kurnia-kurnia-Nya “kepada masing-masing menurut kehendak-Nya” (1Kor 12:11). Di kalangan umat dari segala lapisan Ia membagi-bagikan rahmat istimewa pula, yang menjadikan mereka cakap dan bersedia untuk menerima pelbagai karya atau tugas, yang berguna untuk membaharui Gereja serta meneruskan pembangunannya, menurut ayat berikut : “Kepada setiap orang dianugerahkan pernyataan Roh demi kepentingan bersama” (1Kor 12:7). Karisma-karisma itu, entah yang amat istimewa, entah yang lebih sederhana dan tersebar lebih luas, hendaknya diterima dengan rasa syukur dan gembira, sebab karunia- karunia tersebut sangat sesuai dan berguna untuk menanggapi kebutuhan-kebutuhan Gereja. Namun kurnia-kurnia yang luar biasa janganlah dikejar-kejar begitu saja; jangan pula terlalu banyak hasil yang pasti diharapkan daripadanya untuk karya kerasulan. Adapun keputusan tentang tulennya karisma-karisma itu, begitu pula tentang penggunaannya secara layak/ teratur, termasuk dalam wewenang mereka yang bertugas memimpin dalam Gereja. Terutama mereka itulah yang berfungsi, bukan untuk memadamkan Roh, melainkan untuk menguji segalanya dan mempertahankan apa yang baik (lih. 1Tes 5:12 dan 19-21).”

Posted in Liturgi | Leave a comment

APAKAH YANG MEMBATALKAN PERKAHWINAN MENURUT HUKUM KANONIK?

Secara umum Gereja Katolik selalu memandang perkawinan sebagai perkawinan yang sah, kecuali dapat dibuktikan kebalikannya. Menurut Gereja Katolik, ada tiga hal yang membatalkan perkawinan: I) halangan menikah; II) cacat konsensus; dan III) cacat forma kanonika. Jika ada satu atau lebih halangan/ cacat ini, yang terjadi sebelum perkawinan atau pada saat perkawinan diteguhkan, maka sebenarnya perkawinan tersebut sudah tidak memenuhi syarat untuk dapat disebut sebagai perkawinan yang sah sejak awal mula, sehingga jika yang bersangkutan memohon kepada pihak Tribunal Keuskupan, maka setelah melakukan penyelidikan seksama, atas dasar kesaksian para saksi dan bukti- bukti yang diajukan, pihak Tribunal dapat mengabulkan permohonan pembatalan perkawinan yang diajukan oleh pasangan tersebut. Sebaliknya, jika perkawinan tersebut sudah sah, maka perkawinan itu tidak dapat dibatalkan ataupun diceraikan, sebab demikianlah yang diajarkan oleh Sabda Tuhan (lih. Mat 19:5-6).

Berikut ini adalah penjabaran ketiga hal yang membatalkan perkawinan menurut hukum kanonik Gereja Katolik:

I. Macam- macam halangan menikah adalah (lih. Kitab Hukum Kanonik kann. 1083-1094): 1) kurangnya umur, 2) impotensi, 3) adanya ikatan perkawinan terdahulu, 4) disparitas cultus/ beda agama tanpa dispensasi, 5) tahbisan suci, 6) kaul kemurnian dalam tarekat religius, 7) penculikan dan penahanan, 8) kejahatan pembunuhan, 9) hubungan persaudaraan konsanguinitas, 10) hubungan semenda, 11) halangan kelayakan publik seperti konkubinat, 12) ada hubungan adopsi.

Selanjutnya tentang penjelasan tentang macam- macam halangan menikah, silakan klik di sini.

II. Cacat konsensus adalah (lih. Kitab Hukum Kanonik kann. kann 1095-1107): 1) Kekurangan kemampuan menggunakan akal sehat, 2) Cacat yang parah dalam hal pertimbangan (grave defect of discretion of judgement), 3) Ketidakmampuan mengambil kewajiban esensial perkawinan, 4) Ketidaktahuan (ignorance) akan hakekat perkawinan, 5) Salah orang, 6) Salah dalam hal kualitas pasangan, yang menjadi syarat utama, 7) Penipuan/ dolus, 8) Simulasi total/ hanya sandiwara untuk keperluan tertentu seperti untuk mendapat ijin tinggal/ kewarganegaraan tertentu, 9) Simulasi sebagian, seperti: Contra bonum polis: dengan maksud dari awal untuk tidak mau mempunyai keturunan; Contra bonum fidei: tidak bersedia setia/ mempertahankan hubungan perkawinan yang eksklusif hanya untuk pasangan; Contra bonum sacramenti: tidak menghendaki hubungan yang permanen/ selamanya; Contra bonum coniugum: tidak menginginkan kebaikan pasangan, contoh menikahi agar pasangan dijadikan pelacur, dst, 10) Menikah dengan syarat kondisi tertentu, 11) Menikah karena paksaan, 12) Menikah karena ketakutan yang sangat akan ancaman tertentu.

III. Cacat forma kanonika adalah (lih. Kann 1108-1123): Pada dasarnya pernikahan diadakan berdasarkan cara kanonik Katolik, di depan otoritas Gereja Katolik dan dua orang saksi. Maka Pernikahan antara dua pihak yang dibaptis, yaitu satu pihak Katolik dan yang lain Kristen non- Katolik, memerlukan izin dari pihak Ordinaris Gereja Katolik (pihak keuskupan di mana perkawinan akan diteguhkan). Sedangkan pernikahan antara pihak yang dibaptis Katolik dengan pihak yang tidak dibaptis (non Katolik dan non- Kristen) memerlukan dispensasi dari pihak Ordinaris.

Lebih lanjut tentang topik Kasus-kasus Pembatalan Perkawinan Kanonik, silakan klik di sini.

Jika terdapat satu hal atau lebih dari hal-hal yang membatalkan perkawinan ini, maka salah satu pihak pasangan tersebut dapat mengajukan surat permohonan pembatalan perkawinan kepada pihak Tribunal Keuskupan. Pihak Tribunal Keuskupan akan memeriksa kasus tersebut, dan jika ditemukan bukti-bukti yang kuat dan para saksi, maka Tribunal dapat meluluskan permohonan tersebut. Baru jika sudah dikeluarkan surat persetujuan Tribunal, maka perkawinan tersebut dapat dinyatakan resmi tidak sah, dan dengan demikian kedua belah pihak berstatus bebas/ tidak lagi terikat perkawinan tersebut.

Posted in Perkahwinan | Leave a comment

Bagaimana mungkin Bunda Maria tetap perawan? 0

Iman Kristiani tidak meragukan bahwa Yesus menjelma menjadi manusia oleh kuasa Roh Kudus di dalam rahim Maria, tanpa keterlibatan benih dari laki- laki. Lahirnya Kristus dari seorang perawan, menjadi salah satu tanda ke-Allahan Yesus, sebab tidak pernah ada dalam sejarah manusia, seorang manusia lahir dari seorang perawan tanpa campur tangan benih laki- laki. Namun selanjutnya timbul pertanyaan apakah pada saat dan setelah melahirkan Bunda Maria tetap perawan?

Gereja Katolik mengajarkan bahwa Maria tetap perawan, sebelum, pada saat dan sesudah melahirkan Yesus. Walaupun tidak dinyatakan secara eksplisit dalam Kitab Suci, namun hal ini dapat diketahui setidaknya melalui beberapa prinsip ini:

1. Allah menguduskan secara istimewa hal- hal yang berkenaan dengan tempat kediaman-Nya. Allah menguduskan tabut Perjanjian Lama yang berisikan manna, kedua loh batu dan tongkat imam Harun (lih. Kel 25 -31, Ibr 9:4), terlebih lagi Ia pasti menguduskan Maria, yang adalah tabut Perjanjian yang Baru yang mengandung Yesus Sang Roti Hidup (Yoh 6:35), Firman yang menjadi daging (Yoh 1:14), dan Sang Imam Agung (Ibr 8:1). Kitab Daniel mengisahkan bahwa Allah menghukum mati Raja Belsyazar yang menggunakan perkakas dari bait suci Yerusalem untuk dipakai minum-minum dengan tamu-tamunya (lih. Dan 5); juga Allah menghukum Uza yang menyentuh tabut perjanjian (2 Sam 6:6-7). Di Perjanjian Lama Allah juga melarang hubungan suami istri untuk alasan- alasan tertentu, misalnya para imam dilarang berhubungan dengan istrinya pada masa mereka melayani di bait Allah. Musa juga melarang umat Israel untuk berhubungan dengan istri mereka, pada saat ia naik ke gunung Sinai untuk menerima sepuluh perintah Allah (Kel 19:15). Maka ada keharusan pantang di sini untuk maksud yang sangat suci.

Selanjutnya, Nabi Yehezkiel juga pernah bernubuat bahwa tak ada seorangpun yang dapat melewati gerbang yang dilalui oleh Tuhan untuk masuk ke dunia (lih. Yeh 44:2). Nubuat ini berkaitan dengan keperawanan Maria yang tetap selamanya, sebab Kristus datang ke dunia melalui rahim Maria sebagai gerbangnya. Dengan demikian, tidak mengherankan jika pada saat Allah memenuhi Maria dengan rahmat-Nya (lih. Luk 1:28) demi perannya sebagai ibu Yesus, Allah telah menguduskan Maria secara istimewa, sehingga Maria dapat mempersembahkan keseluruhan tubuh dan jiwanya secara total untuk Tuhan.

2. Maria telah mempunyai nazar/ kaul untuk tetap perawan seumur hidupnya. Hal ini diketahui dengan tanggapannya ketika menerima kabar gembira, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku tidak bersuami?” (“I know not man” (menurut Douay Rheims, terjemahan Vulgate- Mat 1:34)). Jika Maria tidak mempunyai kaul keperawanan, ungkapan ini menjadi aneh, karena pada kenyataannya ia sudah bertunangan dengan Yusuf. Istilah “know” dalam Kitab Suci tidak hanya berarti ‘mengetahui’ ataupun ‘mengenal’, tetapi dalam konteks suami istri, hal ini mengacu kepada hubungan suami istri, seperti halnya yang terjadi pada Adam dan Hawa: “And Adam knew Eve his wife; who conceived and brought forth Cain, saying: I have gotten a man through God.” (Kej 4:1) “Knew” di sini diterjemahkan oleh LAI dengan kata ‘bersetubuh’. Maka jika Maria mengatakan, “I know not man” artinya adalah ia tidak bersetubuh dengan laki- laki. Perkataan ini hanya masuk akal jika sejak semula Maria telah mempunyai kaul keperawanan, walaupun pada saat itu ia sudah bertunangan dengan Yusuf. Sebab jika Maria tidak mempunyai kaul keperawanan, sesungguhnya tidak ada yang aneh bagi seseorang yang sudah bertunangan menurut adat Yahudi untuk dapat mengandung dan melahirkan anak. Nazar/ kaul semacam ini dimungkinkan, seperti yang tertulis dalam Bil 30.

3. Keperawanan Maria juga melibatkan keperawanan Yusuf suaminya. Dikatakan bahwa Yusuf adalah ‘seorang yang tulus hati’ (Mat 1:19); ia juga adalah seorang yang takut akan Tuhan sehingga ia selalu taat akan kehendak Tuhan yang dinyatakan kepadanya lewat mimpi (lih. Mat 1: 24; 2:14). Maka, St. Hieronimus mengatakan bahwa St. Yusuf tidak akan berani mengganggu keperawanan Maria, karena mengetahui bahwa Roh Kuduslah yang telah menaungi Maria sehingga Kristus sang Putera Allah dapat menjelma menjadi manusia di dalam rahim Maria.

Kata ‘sampai’ di Mat 1:25, “Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki …,” tidak berarti bahwa setelah Maria melahirkan, maka Yusuf bersetubuh dengannya. Sebab kata ‘heos‘/ ‘sampai’ dalam bahasa Yunani tidak selalu mensyaratkan adanya perubahan kondisi setelah sesuatu itu terjadi. Hal ini terlihat di banyak ayat Kitab Suci, seperti pada Mat 28: 19-20, Yesus menyertai para murid sampai akhir zaman, namun tidak berarti bahwa setelah akhir zaman Yesus tak menyertai para murid-Nya. Demikian pula dengan ayat- ayat lainnya: Luk 1:80, Luk 20:43, 1 Kor 15:25, 1 Tim 4:13, 2 Sam 6:23.

4. Keperawanan Maria inilah yang semakin menunjukkan ke-Allahan Yesus. Adalah tidak mungkin, menurut St. Agustinus, bahwa Yesus yang datang dengan maksud untuk memulihkan manusia dari kerusakan dosa, dan melenyapkan segala penyakit dan kelemahan (Mat 4:23) malahan merusak keutuhan ibu-Nya sendiri pada saat kedatangan-Nya (St. Agustinus, Serm. 189, n.2; PL 38, 1005). Maka kedatangan Kristus ke dunia tidak mengganggu keperawanan ibu-Nya sama seperti ketika kebangkitan-Nya, Yesus juga tidak merusak pintu- pintu yang terkunci (Lih. Yoh 20:26, St. Augustine, Letters no. 137)

5. Fakta dalam Injil menyatakan bahwa tidak mungkin Maria mempunyai anak- anak lain selain Yesus. Pada saat Yesus hilang di bait Allah (Luk 2:41-51) tidak dikisahkan adanya ‘adik- adik’ Yesus. Sebab jika Yesus mempunyai adik- adik, maka kepada merekalah mestinya Yesus mempercayakan ibu-Nya sebelum wafat-Nya, dan bukan kepada Yohanes rasul-Nya (lih. Yoh 19:26-27).

Dasar Kitab Suci

Luk 1:34: “I know not man” (Douay Rheims, terjemahan Vulgate)/ “aku tidak bersuami”.

Yeh 44:2: Pintu yang dilewati Tuhan tidak dapat dilewati oleh orang lain.

Bil 30: Nazar seorang perempuan (termasuk untuk menjaga keperawanan).

Luk 2:41-51: Pada saat Yesus hilang di bait Allah tidak dikisahkan adanya ‘adik- adik’ Yesus

Yoh 19:26-27: Sebelum wafat-Nya, Yesus mempercayakan Maria ibu-Nya kepada rasul Yohanes, karena Ia tidak mempunyai adik- adik/ saudara kandung.

Dasar Tradisi Suci

St. Hippolytus (235): “Ia adalah tabut yang dibentuk dari kayu yang tidak dapat rusak. Sebab dengan ini ditandai bahwa Tabernakel-Nya dibebaskan dari kebusukan dan kerusakan.” (St. Hippolytus, Orations Inillud, Dominus pascit me)

Origen (244): “Bunda Perawan dari Putera Tunggal Allah ini disebut sebagai Maria, yang layak bagi Tuhan, yang tidak bernoda dari yang tidak bernoda, hanya satu- satunya.” (Origen, Homily 1)

Tertullian (213), “Dan sungguh, ada seorang perawan… yang melahirkan Kristus, supaya semua gelar kekudusan dapat dipenuhi di dalam diri orang tua Kristus, melalui seorang ibu yang adalah perawan dan istri dari satu orang suami.” (Tertullian, On Monogamy, 8).

St. Athanasius (293-373) menyebutkan Maria sebagai Perawan selamanya/ Ever Virgin. (St. Athanasius, Discourses Against the Arians, 2, 70, Jurgens, Vol.1, n. 767a).

St. Epifanus (374): Allah Putera …. telah lahir sempurna dari Maria yang suci dan tetap Perawan oleh Roh Kudus….” (St. Epiphanus, Well Anchored Man, 120).

St. Hieronimus (347- 420) tidak hanya menyebutkan keperawanan Maria, tetapi juga keperawanan Yusuf (lih. St. Jerome, The Perpetual Virginity of Blessed Mary, Chap 21).

St. Agustinus dan St. Ambrosius (415), mengajarkan keperawanan Maria sebelum, pada saat dan sesudah melahirkan Yesus Kristus, sehingga Maria adalah perawan selamanya (Lih. St. Augustine, Sermons, 186, Heresies, 56; Jurgens, vol.3, n. 1518 dan 1974d).

“Dengan kuasa Roh Kudus yang sama, Yesus lahir tanpa merusak keperawanan Bunda Maria, seperti halnya setelah kebangkitan-Nya, Dia dapat datang ke dalam ruang tempat para murid-Nya berdoa, tanpa merusak semua pintu yang terkunci (Lih. Yoh 20:26).” (St. Augustine, Letters no. 137)

Selanjutnya, St. Agustinus mengajarkan, “It is not right that He who came to heal corruption should by His advent violate integrity.” (Adalah tidak mungkin bahwa Ia yang datang untuk menyembuhkan korupsi/kerusakan, malah merusak keutuhan pada awal kedatangan-Nya.” (St. Agustinus, Serm. 189, n.2; PL 38, 1005)

St. Agustinus mengartikan ayat yang disampaikan oleh Bunda Maria, “karena aku tidak bersuami (I know not man)” (Luk 1:34, Douay Rheims Bible) adalah suatu ungkapan kaul Bunda Maria untuk hidup selibat sepanjang hidupnya.

St. Petrus Kristologus (406- 450): “Sang Perawan mengandung, Sang Perawan melahirkan anaknya, dan ia tetap perawan” (St. Petrus Kristologus, Sermon 117).

Paus St. Leo Agung (440-461) :“a Virgin conceived, a Virgin bare and a Virgin she remained.- [Ia adalah seorang Perawan yang mengandung, Perawan melahirkan, dan ia tetap Perawan.” (Pope St. Leo the Great, On the Feast of the Nativity, Sermon 22:2).

St. Yohanes Damaskinus (676- 749) juga mengatakan hal yang serupa: "Ia yang tetap Perawan, bahkan tetap perawan setelah kelahiran [Kristus] tak pernah sampai akhir hidupnya berhubungan dengan seorang pria… Sebab meskipun dikatakan Ia [Kristus] sebagai yang ‘sulung’…. arti kata ‘sulung’ adalah ia yang lahir pertama kali, dan tidak menunjuk kepada kelahiran anak- anak berikutnya.” (St. Yohanes Damascene, Orthodox Faith, 4:14 ).

Dasar Magisterium Gereja

Konsili Konstantinopel II (553) dan Sinode Lateran (649):

Maria adalah Perawan, sebelum pada saat dan sesudah kelahiran Yesus Kristus (De fide).

Konsili Konstantinopel II (553) menyebutkan Bunda Maria sebagai, “kudus, mulia, dan tetap-Perawan Maria”.

Sinode Lateran (649) di bawah Paus Martin I mengatakan:

“Ia [Maria] mengandung tanpa benih laki-laki, [melainkan]dari Roh Kudus, melahirkan tanpa merusak keperawanannya, dan keperawanannya tetap tidak terganggu setelah melahirkan.” (D256)

Keperawanan Maria termasuk 1) keperawanan hati, 2) kemerdekaan dari hasrat seksual yang tak teratur dan 3) integritas fisik. Namun doktrin Gereja secara prinsip mengacu kepada keperawanan tubuh/ fisik Maria. (lih. Dr. Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma, Ibid., p.204)

Maka dogma Maria tetap Perawan mencakup tiga hal, yaitu keperawanan sebelum, pada saat dan setelah melahirkan Kristus:

1) Maria mengandung dari Roh Kudus, tanpa campur tangan manusia (De fide)

Ini sesuai dengan kabar gembira yang disampaikan oleh malaikat Gabriel (lih. Luk 1: 35). Maria mengandung dari Roh Kudus dinyatakan dalam Syahadat Aku Percaya, “Qui conceptus est de Spiritu Sancto.” (D 86, 256,993)

2) Maria melahirkan Putera-Nya tanpa merusak keperawanannya (De fide)

Keperawanan Maria pada saat melahirkan Yesus termasuk dalam gelar, “tetap perawan” yang diberikan kepada Maria oleh Konsili Konstantinopel (553) (D214, 218, 227). Doktrin ini diajarkan oleh Paus Leo I dalam Epistola Dogmatica ad Flavianum (Ep 28,2), disetujui oleh Konsili Kalsedon, dan diajarkan dalam Sinode Lateran (649). Prinsipnya adalah ajaran dari St. Agustinus (Enchiridion 34) yang mengajarkan dengan analogi- Yesus keluar dari kubur tanpa merusaknya, Ia masuk ke dalam ruangan terkunci tanpa membukanya, menembusnya sinar matahari dari gelas, lahirnya Sabda dari pangkuan Allah Bapa, keluarnya pikiran manusia dari jiwanya.

3) Setelah melahirkan Yesus, Maria tetap perawan (De fide).

Konsili Konstantinopel (553) dan Sinode Lateran menyebutkan gelar “tetap perawan”(D 214, 218, 227). St. Agustinus dan para Bapa Gereja mengartikan ayat yang disampaikan oleh Bunda Maria, “karena aku tidak bersuami (I know not man)” (Luk 1:34, Douay Rheims Bible) adalah suatu ungkapan kaul Bunda Maria untuk hidup selibat sepanjang hidupnya.

Konsili Vatikan II, Konsili tentang Gereja, Lumen Gentium:

Konsili Vatikan II mengajarkan: “Seperti telah diajarkan oleh St. Ambrosius, Bunda Allah itu pola Gereja, yakni dalam hal iman, cinta kasih dan persatuan sempurna dengan Kristus. Sebab dalam misteri Gereja, yang tepat juga disebut Bunda dan perawan, Santa Perawan Maria mempunyai tempat utama, serta secara ulung dan istimewa memberi teladan perawan maupun ibu.” (LG 63)

Katekismus Gereja Katolik 499, 500, 501

KGK 499 Pengertian imannya yang lebih dalam tentang keibuan Maria yang perawan, menghantar Gereja kepada pengakuan bahwa Maria dengan sesungguhnya tetap perawan (Bdk. DS 427), juga pada waktu kelahiran Putera Allah yang menjadi manusia (Bdk. DS 291; 294, 442; 503; 571; 1880). Oleh kelahiran-Nya “Puteranya tidak mengurangi keutuhan keperawanannya, melainkan justru menyucikannya” (LG 57). Liturgi Gereja menghormati Maria sebagai “yang selalu perawan” [Aeiparthenos] (Bdk. LG 52).

KGK 500 Kadang-kadang orang mengajukan keberatan bahwa di dalam Kitab Suci dibicarakan tentang saudara dan saudari Yesus (Bdk. Mrk 3:31-35; 6:3; 1 Kor 9:5; Gal 1:19). Gereja selalu menafsirkan teks-teks itu dalam arti, bahwa mereka bukanlah anak-anak lain dari Perawan Maria. Yakobus, dan Yosef yang disebut sebagai “saudara-saudara Yesus” (Mat 13:55), merupakan anak-anak seorang Maria yang lain (Bdk. Mat 27:56) yang adalah murid Yesus dan yang dinamakan “Maria yang lain” (Mat 28:1). Sesuai dengan cara ungkapan yang dikenal dalam Perjanjian Lama (Bdk. misalnya Kej 13:8; 14:16; 29:15), mereka itu sanak saudara Yesus yang dekat.

KGK 501 Yesus adalah putera Maria yang tunggal. Tetapi keibuan Maria yang rohani (Bdk. Yoh 19:26-27; Why 12:17). mencakup semua manusia, untuknya Yesus telah datang untuk menyelamatkannya: “Ia telah melahirkan putera, yang oleh Allah dijadikan ‘yang sulung di antara banyak saudara’ (Rm 8:29), yakni umat beriman. Maria bekerja sama dengan cinta kasih keibuannya untuk melahirkan dan mendidik mereka” (LG 63).

Ajaran para pemimpin gereja Protestan tentang Maria yang tetap perawan:

Martin Luther:

“Adalah artikel iman bahwa Maria adalah Bunda Tuhan dan tetap Perawan.” (Martin Luther, Weimar edition of Martin Luther’s Works (translation by William J. Cole), vol 11, 319-320)

“Setelah Maria “mengetahui bahwa ia adalah Bunda dari Allah Putera, ia tidak ingin untuk menjadi ibu dari anak manusia, tetapi ia tetap di dalam rahmat karunia itu.” (Martin Luther, Ibid., p. 320)

“Tidak diragukan lagi, tidak ada seorangpun yang begitu berkuasa yang, menggantungkan pada pemikirannya sendiri, tanpa Kitab Suci, akan beranggapan bahwa ia [Maria] tidak tetap perawan.” (Martin Luther, Ibid., p. 320)

“Kristus, Penyelamat kita, adalah buah yang nyata dan alamiah dari rahim Maria yang perawan … Ini adalah tanpa kerjasama seorang laki-laki, dan ia [Maria] tetap perawan setelah itu.” (Luther’s Works, eds. Jaroslav Pelikan (vols. 1-30) & Helmut T. Lehmann (vols. 31-55), St. Louis: Concordia Pub. House (vols. 1-30); Philadelphia: Fortress Press (vols. 31-55), 1955, v.22:23 / Sermons on John, chaps. 1-4 (1539)]

John Calvin:

“Helvidius telah menunjukkan dirinya sendiri sebagai seorang yang bebal, dengan mengatakan bahwa Maria mempunyai banyak anak- anak, sebab ada disebutkan dalam beberapa perikop tentang saudara- saudara Kristus.” (Harmony of Matthew, Mark & Luke, sec. 39 (Geneva, 1562), vol. 2 / From Calvin’s Commentaries, tr. William Pringle, Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1949, p.215; on Matthew 13:55}) Dengan demikian Calvin sendiri mengartikan “saudara- saudara” ini artinya saudara sepupu atau saudara bukan saudara kandung (relatives).

Ulrich Zwingli:

“Saya sangat menghargai Bunda Allah, Sang Perawan Maria yang tidak bernoda dan tetap perawan.” (E. Stakemeier, De Mariologia et Oecumenismo, K. Balic, ed. (Rome, 1962), 456).

“Kristus… dilahirkan dari Perawan yang paling tidak bernoda.” (Ibid.)

“Adalah layak bahwa Sang Anak yang kudus harus mempunyai seorang Bunda yang kudus.” (Ibid.)

“Saya percaya dengan teguh, bahwa Maria, menurut kata-kata Injil sebagai Perawan yang murni, melahirkan bagi kita Putera Allah dan saat melahirkan dan setelah melahirkan selamanya tetap Perawan yang murni, tak berubah.” (Zwingli Opera, Corpus Reformatorum, Berlin, 1905, v. 1, p. 424)

Posted in Bunda Maria | Leave a comment

TENTANG LEKTOR, PEMAZMUR, KOMENTATOR

Ketentuan tentang Lektor, pemazmur, pembaca doa umat, dan komentator menurut Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR):

Ketentuan tentang Lektor:

194. Dalam perarakan menuju altar, bila tidak ada diakon, lektor dapat membawa Kitab Injil (Evangeliarium) yang sedikit diangkat. Dalam hal seperti ini, lektor berjalan di depan imam, kalau tidak membawa Kitab Injil, ia berjalan bersama para pelayan yang lain.

195. Sesampai di depan altar, lektor membungkuk khidmat bersama para pelayan yang lain. Seorang lektor yang membawa Kitab Injil langsung menuju altar dan meletakkan Kitab Injil di atasnya. Lalu ia pergi ke tempat duduknya di panti imam bersama para pelayan yang lain.

128. Sesudah doa pembuka (kolekta), semua duduk. Imam dapat menyampaikan pengantar singkat agar umat mendengarkan sabda Tuhan dengan baik. Kemudian, lektor pergi ke mimbar dan mewartakan bacaan pertama dari Buku Misa yang sudah tersedia di sana sejak sebelum misa. Umat mendengarkannya. Sesudah bacaan lektor berseru: Demikianlah sabda Tuhan, dan umat menjawab dengan seruan: Syukur kepada Allah.

Tepat sekali bila sesudah bacaan diadakan saat hening sejenak, supaya umat dapat merenungkan sebentar apa yang telah mereka dengar.

129. Sesudah bacaan, pemazmur atau lektor sendiri membawakan ayat-ayat mazmur tanggapan. Umat menanggapi dengan menyerukan/ melagukan ulangan.

196. Lektor memaklumkan bacaan-bacaan sebelum Injil dari mimbar. Kalau tidak ada pemazmur, lektor boleh juga membawakan mazmur tanggapan sesudah saat hening yang menyusul bacaan pertama.

130. Kalau sebelum Injil masih ada bacaan kedua, lektor mewartakannya dari mimbar. Umat mendengarkannya dan, sesudah bacaan, memberi tanggapan dengan seruan seperti di atas (no. 128). Tepat sekali bila sesudah bacaan diadakan saat hening sejenak.

197. Kalau tidak ada diakon, lektor boleh membawakan ujud-ujud doa umat, sesudah imam membukanya.

Ketentuan tentang Lektor yang dilantik:

99. Lektor dilantik untuk membawakan bacaan-bacaan dari Alkitab, kecuali Injil. Dapat juga ia membawakan ujud-ujud doa umat dan, kalau tidak ada pemazmur, ia dapat juga membawakan mazmur tanggapan. Dalam perayaan Ekaristi, ia harus menjalankan sendiri tugas khusus itu (bdk. no. 194-198), biarpun pada saat itu hadir juga pelayan-pelayan tertahbis.

Ketentuan tentang Pemazmur:

61. Sesudah bacaan pertama menyusul mazmur tanggapan yang merupakan unsur pokok dalam Liturgi Sabda. Mazmur Tanggapan memiliki makna liturgis serta pastoral yang penting karena menopang permenungan atas sabda Allah.

Mazmur tanggapan hendaknya diambil sesuai dengan bacaan yang bersangkutan dan biasanya diambil dari Buku Bacaan Misa (Lectionarium).

Dianjurkan bahwa mazmur tanggapan dilagukan, sekurang-kurangnya bagian ulangan yang dibawakan oleh umat. Pemazmur melagukan ayat-ayat mazmur dari mimbar atau tempat lain yang cocok….

102. Pemazmur bertugas membawakan mazmur atau kidung-kidung dari Alkitab di antara bacaan-bacaan. Supaya dapat menunaikan tugasnya dengan baik, ia harus menguasai cara melagukan mazmur, dan harus mempunyai suara yang lantang serta ucapan yang jelas.

Ketentuan tentang Komentator:

105, b. Komentator yang, kalau diperlukan, memberikan penjelasan dan petunjuk singkat kepada umat beriman, supaya mereka lebih siap merayakan Ekaristi dan memahaminya dengan lebih baik. Petunjuk-petunjuk itu harus disiapkan dengan baik, dirumuskan dengan singkat dan jelas. Dalam menjalankan tugas itu komentator berdiri di depan umat, di tempat yang kelihatan, tetapi tidak di mimbar.

Ketentuan tentang Busana Lektor dan pelayan awam yang lain:

339. Akolit, lektor, dan pelayan awam lain boleh menggunakan alba, atau busana lain yang disahkan oleh Konferensi Uskup untuk wilayah gerejawi yang bersangkutan.

Ketentuan tentang Mimbar:

309. … Sebaiknya tempat pewartaan sabda berupa mimbar (ambo) yang tetap, bukannya ‘standar’ yang dapat dipindah-pindahkan. Sesuai dengan bentuk dan ruang gereja masing-masing, hendaknya membar itu ditempatkan sedemikian rupa, sehingga pembaca dapat dilihat dan didengar dengan mudah oleh umat beriman.

Mimbar adalah tempat untuk membawakan bacaan-bacaan dan mazmur tanggapan serta Pujian Paskah. Juga homili dan doa umat dapat dibawakan di mimbar. Untuk menjaga keagungan mimbar, hendaknya hanya pelayan sabda yang melaksanakan tugas di sana….

Ketentuan tentang Doa Umat:

71. Imam selebranlah yang memimpin doa umat dari tempat duduknya. Secara singkat ia sendiri membukanya dengan mengajak umat berdoa, dan menutupnya dengan doa. Ujud-ujud yang dimaklumkan hendaknya dipertimbangkan dengan matang, digubah secara bebas tetapi sungguh cermat, singkat dan mengungkapkan doa seluruh jemaat.

Menurut ketentuan, ujud-ujud doa umat dibawakan dari mimbar atau tempat lain yang serasi, entah oleh diakon, solis, lektor, entah oleh seorang beriman awam lainnya…

138. … Doa umat yang dipimpin oleh imam dari tempat duduknya. Dengan tangan terkatup, imam mengajak umat mengambil bagian di dalamnya. Ujud-ujud doa umat dimaklumkan oleh diakon, solis, lektor, atau pelayan yang lain, dari mimbar atau dari tempat lain yang cocok. Umat berpartisipasi dalam doa dengan aklamasi sesudah tiap-tiap ujud. Sambil merentangkan tangan, imam mengakhiri rangkaian ujud-ujud itu dengan doa.

Posted in Liturgi | Leave a comment

BAGAIMANAKAH KEHIDUPAN SUAMI-ISTRI DI SYURGA?

Apa yang terjadi pada pasangan suami istri setelah mereka meninggal? Dua ribu tahun yang lalu, orang Saduki mempertanyakan hal yang sama, seperti yang tertulis di Mrk 12:19-25 dan Mat 22:23-30. Orang Saduki bertanya kalau seorang istri menikah dengan tujuh suami, karena suami-suami yang sebelumnya telah meninggal, maka siapakah yang menjadi suami dari istri tersebut pada hari kebangkitan? Yesus menjawab “Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan, melainkan hidup seperti malaikat di Sorga” (Mt 22:30; Mk 12:25). Dari sini, kita melihat bahwa pada waktu di Sorga, pasangan suami-istri tidaklah seperti pasangan suami-istri yang kita tahu di dunia ini.

1) Kita juga mengingat, dalam janji yang dilakukan pada waktu menerima Sakramen Perkawinan, suami istri berjanji untuk sehidup semati sampai maut memisahkan mereka. Maka secara prinsip, sakramen – termasuk Sakramen Perkawinan – membantu kita untuk lebih dekat dan bersatu dengan Kristus. Dalam Sakramen Perkawinan, suami istri berusaha untuk menguduskan satu sama lain, sehingga mereka dapat mencapai Surga. Mereka juga dipanggil untuk mendidik anak-anak, sehingga anak-anak mereka juga dapat masuk dalam Kerajaan Sorga. Sakramen Perkawinan menjadi gambaran dari persatuan antara Kristus dengan Gereja-Nya (lih. Ef. 5). Dengan demikian, pada waktu kita semua masuk dalam Kerajaan Surga, kita tidak lagi memerlukan Sakramen, karena kita telah berjumpa dan bersatu dengan Kristus sendiri, dalam persatuan yang lebih sempurna dan abadi. Sakramen sebagai cara (means) tidak diperlukan lagi pada waktu kita mencapai tujuan (end), yaitu Kerajaan Sorga. Dengan demikian, pasangan suami istri tidak lagi memerlukan Sakramen Perkawinan di Surga. Bagaimana bentuk hubungan suami istri di Surga, kita tidak pernah tahu secara persis, dan Yesus hanya mengatakan bahwa mereka tidak kawin dan tidak dikawinkan, namun hidup sebagaimana layaknya para malaikat. Ini berarti, suami istri tidak lagi melakukan hubungan jasmani, karena persatuan dan kebahagiaan jiwa adalah lebih utama daripada kebahagiaan badani.

2) Apa yang dipersatukan Allah memang tidak boleh diceraikan oleh manusia (lih. Mt 19:6). Namun, kalau kita melihat kodrat dari Sakramen Perkawinan yang menggambarkan Perkawinan Kudus antara Kristus dengan Gereja-Nya, maka hubungan suami istri di dunia yang terikat di dunia, tidaklah diceraikan oleh Allah, namun justru diangkat derajatnya, sehingga setiap individu mengalami persatuan abadi dengan Allah; dan dengan persatuan di dalam Allah ini, maka persatuan antara suami dan istri di Surga mencapai kesempurnaannya. Persatuan abadi dengan Allah di Sorga ini adalah sempurna dan abadi, jauh lebih indah dari persatuan suami istri di dunia ini.

3) Bagaimana jika salah pasangan tersebut terpisah, di mana yang satu masuk Sorga dan yang lain masuk neraka? Manusia mempunyai kodrat sebagai manusia, karena dia mempunyai jiwa dan tubuh di mana jiwanya bersifat spiritual (silakan melihat diskusi ini – silakan klik dan artikel ini – silakan klik). Persatuan jiwa dan badan tidaklah bersifat sementara, namun persatuan tersebut adalah kodrat manusia. Dengan demikian, manusia A hanya dapat menjadi manusia A kalau dia mempunyai persatuan antara badan A dan jiwa A. Pada waktu kedatangan Kristus yang kedua, maka seluruh jiwa-jiwa akan mendapatkan badannya kembali, sehingga terjadi persatuan antara badan dan jiwa, yang membentuk kodrat manusia seutuhnya, di mana setiap individu adalah unik dan berbeda dengan individu yang lain.

Dengan demikian, kalau pasangan suami istri yang terpisah selamanya [yang satu di Sorga dan yang lain di neraka], maka mereka tidak dapat bersatu lagi. Setelah Kebangkitan Badan di akhir zaman, bagi yang berada di neraka, ia berada di neraka jiwa dan badannya. Bagi yang berada di Surga, ia juga berada di surga jiwa dan badannya. Jiwa mereka tidak akan tertukar satu sama lain maupun bersatu di satu tubuh, mengingat persatuan jiwa dan badan adalah telah menjadi kodrat manusia yang unik, yang tidak dapat ditukar ataupun digabungkan. Karena neraka adalah keterpisahan abadi dengan Tuhan dan Surga adalah persatuan abadi dengan Tuhan, maka neraka dan Surga tidaklah mungkin terseberangi. Dengan demikian, jiwa dan badan dari manusia A tidak akan mungkin bersatu dengan jiwa dan badan dari manusia B, jika yang satu berada di surga dan yang lain di neraka.

Posted in Perkahwinan | Leave a comment