PERSIAPKAN HATI MENJELANG DATANGNYA TUHAN!

Belum lama ini di TV sering diberitakan tentang adanya ‘kunjungan mendadak’ yang dilakukan oleh bapak gubernur DKI Jakarta, Bp. Jokowi, ke tempat-tempat tertentu di ibukota. Umumnya kunjungan dimaksudkan agar bapak gubernur mengetahui keadaan yang riil di lapangan, dan keadaan ini kemudian dievaluasi untuk dapat diperbaiki ataupun ditingkatkan, jika itu berkaitan dengan pelayanan kepada masyarakat. Menarik untuk disimak bahwa dalam kunjungan yang mendadak itu, adakalanya terlihat bahwa yang dikunjungi tidak siap, atau bahkan tidak ada di tempat.

Sesungguhnya, dari liputan sederhana ini kita dapat menarik suatu pelajaran tertentu. Sebab hal ‘kedatangan mendadak’ tersebut dapat terjadi dalam kehidupan rohani kita. Ya, Tuhan Yesus dapat datang kembali di saat yang tidak kita duga. Sudahkah kita siap menyambut kedatangan-Nya? Di akhir tahun liturgi, Gereja Katolik merenungkan tentang kematian dan akhir zaman yang mengarahkan pandangan kita akan kedatangan Kristus yang kedua kalinya bagi kita, sambil mempersiapkan hati untuk menyambut perayaan kedatangan Kristus yang diperingati setiap hari Natal.

Pengertian Adven

Kata “Adven” berasal dari kata Latin ‘adventus, advenio‘ (bahasa Yunani-nya parousia), artinya ‘kedatangan’. Maka fokus masa Adven adalah kedatangan Mesias, yaitu Yesus Kristus. Maka doa- doa penyembahan dan bacaan Kitab Suci tidak saja mempersiapkan kita secara rohani akan kedatangan-Nya (untuk memperingati kedatangan-Nya yang pertama) tetapi juga mempersiapkan kedatangan-Nya yang kedua. Itulah sebabnya bacaan Kitab Suci pada masa Adven diambil dari Perjanjian Lama yang mengharapkan kedatangan Mesias dan Perjanjian Baru yang mengisahkan kedatangan Kristus untuk menghakimi semua bangsa. Demikian juga, tentang Yohanes Pembaptis, sang perintis yang membuka jalan bagi kedatangan Kristus Sang Mesias.

Masa Adven adalah masa empat minggu sebelum hari Natal, ketika Gereja merayakan kedatangan Kristus yang pertama dan mengharapkan kedatangan-Nya yang kedua. Hari pertama Adven dapat jatuh antara tanggal 27 November sampai 3 Desember.

Makna masa Adven

Katekismus Gereja Katolik menjelaskan tentang makna masa Adven sebagai berikut:

KGK 524 Ketika Gereja merayakan liturgi Adven setiap tahunnya, ia menghadirkan kembali pengharapan di jaman dahulu akan kedatangan Mesias, sebab dengan mengambil bagian di dalam masa penantian yang panjang terhadap kedatangan pertama Sang Penyelamat, umat beriman memperbaharui kerinduan yang sungguh akan kedatangan-Nya yang kedua. Dengan merayakan kelahiran sang perintis [Yohanes Pembaptis] dan kematiannya, Gereja mempersatukan kehendaknya: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”(Yoh 3:30)

Dengan demikian masa Adven merupakan masa menantikan kelahiran Kristus/ penjelmaan-Nya menjadi manusia. Masa Adven ini bukan bagian dari masa Natal, tetapi merupakan persiapannya. Oleh karena itu, masa Adven merupakan masa pertobatan (menyerupai masa Prapaska), sebab memang pertobatan-lah yang diserukan oleh Yohanes Pembaptis agar kita dapat menyambut Kristus Sang Penyelamat. Ciri- ciri perayaan masa Adven adalah tenang dan sederhana, tidak semeriah masa biasa, sebab penekanannya adalah pertobatan yang diwarnai oleh pengharapan akan kedatangan Tuhan.

Budaya sekular di sekitar kita dan juga banyak gereja- gereja non- Katolik merayakan hari Natal yang berdiri sendiri, terlepas dari masa Adven dan masa oktaf Natal sampai Epifani. Namun sesungguhnya hari Natal tidak dimaksudkan sebagai hari yang berdiri sendiri, tetapi sebagai perayaan yang tidak terlepas dari penanggalan tahunan liturgis. Natal sebagai perayaan Inkarnasi Tuhan Yesus perlu dipersiapkan terlebih dahulu pada masa Adven. Sebab masa Adven merupakan masa peringatan akan penghiburan yang diberikan Tuhan dan kesempatan di mana kita menyesuaikan diri dengan kehendak Tuhan, seperti halnya ketika para patriarkh, para nabi dan raja menanti dengan penuh pengharapan akan janji Allah yang akan mengutus Putera-Nya menjadi manusia.

Latar belakang Kitab Suci

Perjanjian Baru menyatakan Yesus sebagai Mesias bangsa Yahudi, meskipun Yesus bukanlah Mesias yang diharapkan oleh kebanyakan orang Yahudi pada saat itu. Sebab bangsa Yahudi saat itu menantikan Mesias yang dapat mengusir bangsa Romawi yang menjajah mereka. Injil dengan jelas menyatakan bahwa Kristus tidak datang untuk mendirikan Kerajaan di dunia atau untuk membebaskan orang- orang Yahudi dari penjajahan Romawi; tetapi Ia mewartakan Kerajaan Surga bagi bangsa Yahudi dan bangsa non- Yahudi. Meskipun jemaat perdana mengakui bahwa Yesus telah berjaya di dalam Gereja-Nya namun mereka mengakui bahwa segala hal belum sepenuhnya takluk kepada-Nya, sehingga masih ada penggenapan Kerajaan-Nya di masa mendatang (lih. KGK 680). Oleh karena itu, para jemaat perdana menantikan dengan rindu kedatangan Kristus yang kedua dalam kemuliaan-Nya, untuk mencapai kemenangan sempurna kebaikan atas kejahatan, ketika Kristus akan mengadili semua orang, baik yang hidup dan yang mati (lih. KGK 681, 682) dengan keadilan dan kasih yang sempurna. Maka bacaan Kitab Suci inilah yang mendasari masa Adven.

Kitab Suci mengajarkan agar kita mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan. Persiapan diri yang dimaksud adalah ‘berjaga-jaga’, karena memang inilah yang diperintahkan oleh Kristus untuk menyambut kedatangan-Nya (lih. Mat 24:42. Mat 25:13; Mrk 13:33). ‘Berjaga- jaga’ di sini maksudnya adalah untuk mengarahkan pandangan kita kepada hal- hal surgawi, dan bukan kepada hal- hal duniawi, pesta pora, dan dosa, seperti yang dilakukan orang banyak pada jaman nabi Nuh (lih. Mat 24:37-39, Kej 6:5-13). Dengan demikian masa Adven merupakan masa pertobatan, di mana kita dipanggil Allah untuk kembali ke jalan Tuhan. Adven adalah kesempatan untuk menumpas gunung dan bukit kesombongan hati kita, maupun menimbun lembah kekecewaan dan luka-luka batin kita, agar semua yang berliku diluruskan dan yang berlekuk diratakan (lih. Luk 3:5-6) agar kita siap menyambut Kristus. Dengan demikian kita akan melihat keselamatan yang dari Tuhan.

Latar Belakang Sejarah

Referensi pertama tentang perayaan Adven terjadi pada abad ke-6. Sebelumnya, terdapat perayaan- perayaan dan puasa yang menyerupai masa Adven kita saat ini. St. Hilarius dari Poitiers (367) dan Konsili Saragossa di Spanyol (380) menjabarkan tentang tiga minggu masa puasa sebelum Epifani. Paus St. Leo Agung banyak berkhotbah tentang ‘masa puasa pada bulan kesepuluh (yaitu bulan Desember)’ sebelum hari Natal. Gelasian Sacramentary (750) memberikan bacaan liturgi bagi lima Minggu sebelum hari Natal, juga Rabu dan Jumat. Akhirnya Gereja Barat memutuskan untuk menentukan 4 Minggu pada masa Adven, yang dimulai dari akhir November atau awal Desember sampai hari Natal.

Gereja- gereja Timur juga melakukan puasa untuk menyambut Natal. Masa puasa ini lebih panjang dari masa Adven yang dirayakan oleh Gereja Barat, yaitu dimulai pada pertengahan bulan November. Maka Adven, atau masa puasa pada Gereja- gereja Timur ini dirayakan baik oleh Gereja Katolik, maupun gereja- gereja Orthodox.

Pada masa Reformasi, beberapa tokoh Protestan menolak masa peringatan/banyak hari perayaan dalam kalender liturgi Gereja, dan dengan ini memisahkan gereja mereka dari ritme perayaan liturgis yang dirayakan Gereja Katolik setiap tahunnya (kecuali gereja Lutheran yang kini mempunyai kalender liturgi yang kurang lebih sama dengan kalender liturgi Gereja Katolik). Namun demikian beberapa gereja Protestan mempertahankan masa Adven, seperti gereja Anglikan. Kemungkinan karena gerakan liturgis, ataupun sebagai reaksi akan perayaan Natal yang cenderung semakin dikomersialkan di kalangan dunia sekular, maka perayaan Adven sekarang ini menjadi semakin populer di kalangan gereja- gereja non- Katolik dan non- Orthodox. Gereja- gereja Lutheran, Anglikan, Methodis dan Presbytarians dan kelompok- kelompok evangelis telah memasukkan juga tema Adven ke dalam ibadah penyembahan mereka, walau dengan derajat yang berbeda- beda.

Mari menyiapkan hati

Maka, walaupun masa Adven tidak secara eksplisit tertulis dalam Kitab Suci, namun bukan berarti masa Adven ini tidak ada dasar Alkitabnya. Bahwa Allah selalu menginginkan umat-Nya untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan-Nya, itu bukan merupakan ‘ide baru’; tetapi memang sudah diajarkan dalam Kitab Suci. Perayaan Adven itu merupakan peringatan akan masa persiapan menyambut kelahiran Kristus dalam kedatangan-Nya yang pertama, dan penegasan masa penantian akan kedatangan Kristus yang kedua. Tidak ada yang salah jika kita mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Kristus, malah itu adalah keharusan, seperti diserukan oleh Yohanes Pembaptis, ataupun oleh Yesus sendiri, seperti telah dijabarkan di atas.

Kembali ke kisah kunjungan Bapak gubernur kepada pihak yang tidak siap dan tidak hadir pada saat dikunjungi. Walau liputan tidak melaporkan kejadian seluruhnya, namun dapat dimengerti jika pihak yang dikunjungi tersebut, jika diberi kesempatan kedua, tentu tidak akan mengulangi kesalahan ini. Mengapa? Karena memang selayaknya ia tidak bersikap demikian. Jika untuk kedatangan bapak gubernur saja, orang- orang layak mempersiapkan diri dengan sungguh- sungguh dalam banyak hal, apalagi kita dalam menyambut Kristus, Sang Raja di atas segala raja di bumi. Sudah sepantasnya kita sebagai umat Kristiani tidak memandang hari raya Natal sebagai hari yang berdiri sendiri, yang dapat dirayakan tanpa persiapan hati yang cukup sebelumnya. Jika kita mengamini Kristus sebagai Raja Semesta alam yang mengatasi semua pemimpin negara di dunia, tentulah Ia layak menerima penghormatan melebihi para pemimpin di dunia. Mari kita lakukan hal yang sama, mempersiapkan rumah hati kita sebaik mungkin untuk menyambut kedatangan Kristus Tuhan dan Juru Selamat kita!

Posted in Liturgi | Leave a comment

BOLEHKAH MENIKAHI PELACUR?

Pertanyaan:

Syalom Ibu Ingrid

Agama kita melarang seseorang berbuat zinah, tapi bagaimana kalau ada laki-laki Katolik menikahi seorang pelacur boleh tidak ?

Saya pernah baca juga di Alkitab saya lupa dimana : bahkan Tuhan menyuruh seorang nabinya untuk mengawini seorang pelacur,untuk melahirkan anak-anak pelacur.

Juga Simson bahkan ber-ulang2 berbuat zinah dengan pelacur,namun Allah masih menyertai hidupnya, bahkan se-akan2 itu adalah kehendak Tuhan untuk menghancurkan bangsa Filistin (seperti yang tertulis di kitab Hakim-hakim).

Apakah sebab mereka hidup di zaman sebelum Yesus maka kawin dengan pelacur masih boleh, atau sampai sekarangpun seseorang masih boleh menikahi seorang pelacur,asal perempuan tsb menjadi seorang Katolik ?

Laras

Jawaban:

Shalom Laras,

1. Agama kita melarang zinah, tetapi bolehkah menikahi seorang pelacur?

YA, Kitab Suci melarang kita berbuat zinah (ada dalam perintah ke-6 dalam kesepuluh perintah Allah, Kel 20:14).

Nah, tentang bolehkah seorang pria menikahi wanita pelacur, nampaknya jawabannya tidak sesederhana itu. Sebab jika sang pelacur itu sudah bertobat, dan sang pria itu sudah mengetahui keadaan wanita tersebut apa adanya, namun tetap dapat menerimanya, maka sang pria itu dapat saja menikahinya. Jadi dalam hal ini, perkawinan dapat dilakukan saat sang wanita telah berhenti menjadi pelacur.

Pertanyaannya,bagaimana jika sang wanita belum bertobat dan masih menjadi seorang pelacur? Jika ini keadaannya, sesungguhnya ia tidak siap sama sekali untuk menikah; sebab pernikahan menurut ajaran iman Katolik mensyaratkan kesetiaan suami istri yang total dan tidak melibatkan pihak ketiga (PIL/ WIL). Kesetiaan antara seorang suami dan seorang istri tersebut merupakan syarat multak dalam perkawinan Katolik, karena perkawinan menjadi gambaran akan hubungan kasih setia antara Kristus dan Gereja-Nya yang adalah Mempelai-Nya (dan Mempelai ini hanya satu).

Katekismus Gereja Katolik (KGK) jelas mengajarkan:

KGK 1646 Dari kodratnya cinta Perkawinan menuntut kesetiaan yang tidak boleh diganggu gugat oleh suami isteri. Itu merupakan akibat dari penyerahan diri dalamnya suami isteri saling memberi diri. Cinta itu sifatnya definitif. Ia tidak bisa berlaku hanya “untuk sementara”. “Sebagaimana saling serah diri antara dua pribadi, begitu pula kesejahteraan anak-anak, menuntut kesetiaan suami isteri yang sepenuhnya, dan menjadikan tidak terceraikannya kesatuan mereka mutlak perlu” (Gaudium et Spes 48, 1).

KGK 1647 Alasan terdalam ditemukan di dalam kesetiaan Allah dalam perjanjian-Nya dan dalam kesetiaan Kristus kepada Gereja-Nya. Oleh Sakramen Perkawinan suami isteri disanggupkan untuk menghidupi kesetiaan ini dan untuk memberi kesaksian tentangnya. Oleh Sakramen, maka Perkawinan yang tak terceraikan itu mendapat satu arti baru yang lebih dalam.

2. Mengapa ada nabi- nabi Perjanjian Lama yang menikah dengan pelacur?

Kita harus selalu membaca Perjanjian Lama dalam terang Perjanjian Baru. Artinya Perjanjian Lama (PL) tidak terlepas dari Perjanjian Baru (PB), dan cara memahaminya, adalah dengan melihatnya dalam konteks keseluruhan Kitab Suci. Kisah- kisah dalam PL harus dilihat dalam konteks rencana keselamatan Allah, yang memang disingkapkan secara bertahap. Ini terlihat juga dalam hal perkawinan. Sejak awalnya Tuhan menentukan perkawinan adalah antara satu orang pria dan satu orang wanita, dan keduanya menjadi satu daging (Kej 2: 24). Namun pada masa berikutnya, pada jaman patriarkh dan para nabi, poligami belum secara eksplisit dilarang; perceraian dapat diberikan menurut hukum Musa, karena ketegaran hati orang- orang pada saat itu (lih. Mat 19:8). Oleh karena itu, Tuhan Yesus meluruskan ajaran tersebut sesuai dengan kehendak Allah sejak awal mula, yaitu tentang perkawinan antara seorang pria dan seorang wanita, yang sifatnya eksklusif, dan tak terceraikan.

Nah, pada jaman para nabi, tepatnya pada jaman hakim- hakim Israel, ada salah seorang hakim yang bernama Simson. Simson menjadi seorang nazir Allah dan melalui dia, Allah merencanakan penghancuran bangsa Filistin (lih. Hak 13:5).

Dikatakan dalam kitab Hakim- hakim bahwa Simson tertarik kepada seorang gadis Filistin di Timna dan kemudian menikahinya. Selanjutnya dikisahkan adanya perkara yang disebabkan oleh istri Simson dan juga oleh ayahnya, yang mengakibatkan Simson membalas perlakuan mereka; dan bagaimana Allah menyertai Simson sehingga dapat mengalahkan orang- orang Filistin (lih. Hak 14 dan 15). Nah, pada Hak 16: 1, memang dikatakan demikian, “Pada suatu kali, ketika Simson pergi ke Gaza, dilihatnya di sana seorang perempuan sundal, lalu menghampiri dia.” Di ayat itu disebut ‘perempuan sundal’/ atau bahasa aslinya za?na?h. Namun kata ini selain dapat diartikan sebagai perempuan sundal/ harlot dapat juga diartikan sebagai seorang perempuan pemilik penginapan/ innkeeper, sebab kata za?na?h tersebut dapat mengacu kepada dua arti tersebut (menurut Haddock’s Commentary on Sacred Scripture).

Jadi ayat ini tidak dapat dijadikan dasar bahwa Allah menyuruh/ setuju dengan Simson untuk menikahi pelacur. Selanjutnya, seperti kita ketahui Simson jatuh cinta kepada seorang perempuan, yang bernama Delila yang kisah lengkapnya dapat kita baca di Hak 16 dan 17.

Ini berbeda dengan kisah Nabi Hosea, yang memang diperintahkan oleh Allah untuk menikahi seorang za?na?h/ perempuan sundal, demi memberi pengajaran kepada bangsa Israel yang telah bersundal hebat dan berpaling dari Tuhan karena berhala- berhala mereka (lih. Hos 1:2). Maka perkawinan Nabi Hosea dengan Gomer ini tidaklah untuk diinterpretasikan terpisah dari maksud Allah untuk mengajar umat-Nya, yaitu walaupun umat-Nya tidak setia, Allah tetap setia. Oleh sebab itu Allah mengutus nabinya, Nabi Hosea, untuk menampakkan kasih setia Allah kepada umat-Nya, sama seperti Ia memerintahkan Hosea untuk tetap setia kepada Gomer istrinya.

Maka inti dari kitab Hosea tersebut adalah bahwa Allah memanggil bangsa pilihan-Nya untuk bertobat dari berhala mereka yang merupakan perbuatan sundal di hadapan Allah; sambil mengingatkan kepada mereka, bahwa jika mereka bertobat, Allah akan mengampuni mereka. Hal ini jelas disebutkan dalam Hos 14.

Dengan melihat makna ini, maka tidaklah benar jika seseorang menyimpulkan bahwa secara umum Allah memperbolehkan atau bahkan menyuruh seseorang menikah dengan pelacur. Karena yang terjadi pada kasus Hosea itu adalah kasus yang khusus, dan sungguh menuntut pengorbanan dan kelapangan hati dari pihak Nabi Hosea. Namun secara umum untuk semua orang, Allah tidak menghendaki hal tersebut. Ini terlihat bahwa Allah dengan jelas melarang perzinahan (lihat perintah 6 dan 9 dari kesepuluh perintah Allah, Kel 20: 14, 17).

3. Jadi, bolehkah kawin dengan pelacur?

Dengan melihat uraian di atas, maka menikahi pelacur yang belum bertobat bukanlah tindakan yang sesuai dengan perintah Tuhan. Jadi masalahnya di sini bukan apakah sang pelacur itu Katolik atau tidak. Sebab jika ia seorang Katolik yang taat, pastilah ia mau meninggalkan kehidupannya yang lama sebagai seorang pelacur, untuk hidup baru bersama Yesus -dengan pekerjaan yang lebih sesuai dengan ajaran iman Kristiani. Artinya jika ia seorang Katolik yang baik, ia tidak lagi mau hidup dalam dosa dengan bekerja sebagai pelacur. Baik untuk diingat adalah perkataan Yesus kepada perempuan yang berzinah itu, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Yoh 8:11)

Demikian tanggapan saya, semoga berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,

Ingrid Listiati- katolisitas.org

Posted in Perkahwinan | Leave a comment

Mungkinkah Maria yang adalah manusia disebut Bunda Allah?

Apa jawab kita, kalau ada orang bertanya begini, “Maria kan manusia, bagaimana mungkin bisa disebut Bunda Allah…. yang bener aja kamu….” Sepertinya pertanyaan ini masuk akal, tapi jangan lupa, bahwa kita umat Katolik menyebut Maria Bunda Allah, karena ada alasannya. Alasannya itu juga sangat masuk akal, yaitu:

1) Bunda Maria melahirkan Yesus, yang sungguh adalah Allah, maka Maria disebut Bunda Allah

2) Yang dilahirkan oleh Bunda Maria adalah Seseorang, yaitu Kristus, dan bukan kodrat Kristus

3) Bunda Maria disebut Bunda Allah, untuk mendukung ajaran tentang kodrat Yesus yang sungguh Allah, walaupun Ia juga sungguh manusia.

Bunda Maria melahirkan Yesus, yang sungguh adalah Allah, maka Maria disebut Bunda Allah. Bahwa Maria adalah ibu Yesus adalah suatu fakta yang tidak mungkin disangkal, karena Kitab Suci menyatakannya, baik secara jelas maupun terselubung. Dalam Kitab Kejadian di Perjanjian Lama dinubuatkan adanya permusuhan antara ular -yaitu iblis- dengan ‘perempuan itu’, di mana keturunan perempuan itu akan meremukkan kepala si ular tersebut (lih. Kej 3:15). Para Bapa Gereja menafsirkan bahwa ‘perempuan itu’/ ‘the woman‘ adalah Maria, sebab keturunan yang meremukkan iblis itu adalah Kristus.. Nubuat ini lalu dilanjutkan oleh nabi Yesaya tentang kelahiran Sang Immanuel dari anak dara/ perawan – atau ‘virgin‘ dalam bahasa Inggris, atau almah dalam bahasa Ibrani (lih. Yes 7:14). Nubuat Perjanjian Lama ini kemudian mendapatkan penggenapannya dalam Perjanjian Baru, ketika Malaikat Gabriel mengatakan kepada Maria bahwa Anak yang akan dilahirkannya akan disebut kudus, Anak Allah (lih. Luk 1:35). Perkataan Malaikat ini diperkuat oleh kesaksian Elisabet, yang menyebut Maria sebagai “ibu Tuhanku” (Luk 1:43). Rasul Paulus juga mengajarkan bahwa Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan (lih. Gal 4:4). Maka, atas dasar ayat-ayat ini seharusnya kitapun tak meragukan bahwa Maria memang layak disebut Bunda Allah.

Yang dilahirkan oleh Bunda Maria adalah Seseorang, yaitu Kristus, dan bukan kodrat Kristus. Bukankah tidak sulit bagi kita untuk menerima bahwa yang dilahirkan oleh seorang ibu adalah seorang anak, atau beberapa orang anak? Jika kita dapat menerima hal ini, maka kita akan menerima juga bahwa yang dilahirkan oleh seorang ibu, adalah pribadi orang, bukanlah kodrat dari orang tersebut. Seorang ibu tidak melahirkan ‘kemanusiaan’ namun seorang manusia atau seorang pribadi. Seseorang itu bisa saja kemudian menjadi bupati, direktur perusahaan, dan prodiakon pada saat yang bersamaan. Namun, ibu yang melahirkan orang tersebut bukanlah ibu dari jabatan bupati, atau ibu dari jabatan direktur, atau ibu dari prodiakon. Ibu itu adalah ibu dari keseluruhan orang tersebut, yang dapat saja mempunyai beberapa tugas ataupun jabatan. Dengan prinsip yang sama, kita dapat menerima bahwa Bunda Maria adalah Bunda Allah, karena dia melahirkan Pribadi Yesus yang sungguh Allah – karena Yesus adalah Pribadi kedua dari Allah Trinitas.

Bunda Maria disebut Bunda Allah, untuk mendukung ajaran tentang kodrat Yesus yang sungguh Allah, walaupun Ia juga sungguh manusia. Banyak orang menyangka bahwa gelar Bunda Allah itu terlalu berlebihan, dan dianggap terlalu meninggikan Maria. Maka umumnya pandangan ini kemudian mengatakan bahwa Maria itu hanya ibu dari Yesus manusia, namun bukan ibu dari Yesus Tuhan. Di sini terlihat bahwa anggapan itu memisahkan kedua kodrat Yesus. Ketidakmampuan untuk menangkap bahwa seorang ibu melahirkan seorang pribadi dan bukan kodrat, dapat berakibat fatal. Ini terjadi di abad ke-5, sewaktu Nestorius, seorang Uskup Agung Konstantinopel (428-431) mengajarkan bahwa Bunda Maria hanya melahirkan Yesus dalam kodrat-Nya sebagai manusia saja, sementara ke-Allahan Yesus masuk ke dalam Yesus manusia tersebut. Maka, Nestorius mengajarkan bahwa Yesus bukanlah Allah, namun hanya seorang manusia dengan Allah yang ada di dalamnya. Dengan kata lain, menurut Nestorius, di dalam Yesus ada Allah namun Yesus bukanlah Allah. Ajaran ini tidak sesuai dengan ajaran Kristiani yang mengajarkan bahwa Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Maka jika dikatakan bahwa Maria adalah Bunda Allah, itu adalah untuk menyatakan bahwa Maria adalah Bunda Yesus yang sungguh Allah -walaupun Yesus juga adalah sungguh manusia. Dengan demikian, dogma Maria Bunda Allah ada untuk mendukung dogma bahwa Yesus adalah sungguh Allah.

Dasar Kitab Suci:

Kej 3:15: “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Janji ini tentang ‘perempuan itu (the woman) dan keturunannya’ mengacu kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria, ibu yang melahirkan-Nya.

Luk 1:43: Elisabet menyebut Bunda Maria sebagai “ibu Tuhanku.” Elisabet juga menyebut Maria sebagai seseorang yang terberkati di antara wanita, oleh karena ia mengandung Yesus.

Yes 7:14; Mat 1:23: “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan mereka akan menamakan Dia Immanuel, yang berarti, “Allah menyertai kita.”

Luk 1:35: Kata malaikat itu, “….sebab anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.”

Mat 2:11: “Maka masuklah mereka … dan melihat Anak itu bersama dengan ibu-Nya.”

Gal 4:4: “tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.”

Dasar Tradisi Suci

St. Irenaeus (180): “Perawan Maria, yang taat kepada Sabda-Nya menerima dari Kabar Gembira malaikat bahwa ia akan melahirkan Tuhan.” (St. Irenaeus, Against Heresies, 5:19:1)

St. Petrus dari Aleksandria (260-311): “Kami mengakui kebangkitan orang mati, di mana Yesus Kristus Tuhan kita menjadi yang pertama; Ia mempunyai tubuh yang sungguh, bukan hanya kelihatan sebagai tubuh, tetapi tubuh yang diperoleh dari Maria Bunda Allah. (St. Petrus, Letter to All Non-Egyptian Bishops 12)

St. Sirilus dari Yerusalem (350): “Banyaklah saksi sejati tentang Kristus. Allah Bapa memberi kesaksian tentang Putera-Nya dari Surga, Roh Kudus turun dengan mengambil rupa seperti burung merpati: Penghulu malaikat memberikan kabar gembira kepada Maria: Perawan Bunda Allah memberikan kesaksian …..” (St. Cyril of Jerusalem, Catechetical Lectures, X:19 – c. A.D. 350)

St. Athanasius (365): “Sabda Allah Bapa di tempat yang Maha tinggi, …. adalah Ia yang dilahirkan di bawah ini, oleh Perawan Maria, Bunda Allah. (St. Athanasius, Incarnation of the Word, 8)

St. Epifanus (374): Ia [Kristus] membentuk manusia menjadi sempurna di dalam Diri-Nya sendiri, dari Maria Bunda Allah, melalui Roh Kudus.” (St. Epiphanus, The man well-anchored, 75)

St. Ambrosius (378): “Biarkan hidup Maria …. memancar seperti penampakan kemurnian dan cermin bentuk kebajikan…. Hal utama yang mendorong semangat dalam proses belajar adalah kebesaran sang guru. Apakah yang lebih besar daripada Bunda Tuhan? (St. Ambrose, On Virginity, 2:15)

St. Hieronimus (384): “Jadikan teladanmu, Maria yang terberkati, yang karena kemurniannya yang tak tertandingi menjadikannya Bunda Allah.” (St. Jerome, Epistle to Eustochium 22:19, 38)

St. Gregorius Naziansa (382) menyatakan, barangsiapa tidak percaya bahwa Bunda Maria adalah Bunda Allah, maka ia adalah orang asing bagi Allah. Sebab Bunda Maria bukan semata-mata saluran, melainkan Kristus sungguh-sungguh terbentuk di dalam rahim Maria secara ilahi -karena tanpa campur tangan manusia- namun juga secara manusiawi- karena mengikuti hukum alam manusia. (Lih. St. Gregory Nazianzus, To Cledonius, 101)

St. Yohanes Cassian (430): “….Kami akan membuktikan oleh kesaksian Ilahi bahwa Kristus adalah Allah dan bahwa Maria adalah Bunda Allah.” (John Cassian, The Incarnation of Christ, II:2)

St. Sirilus dari Aleksandria (444): “Bunda Maria, Bunda Allah…, bait Allah yang kudus yang di dalamnya Tuhan sendiri dikandung… Sebab jika Tuhan Yesus adalah Allah, bagaimanakah mungkin Bunda Maria yang mengandung-Nya tidak disebut sebagai Bunda Allah?” (St. Cyril of Alexandria, Epistle ro the Monks of Egypt, I)

St. Vincentius dari Lerins (450): “Semoga Tuhan melarang siapapun yang berusaha merampas dari Maria yang kudus, hak- hak istimewanya yaitu rahmat ilahi dan kemuliaannya. Sebab dengan keistimewaannya yang unik dari Tuhan, ia disebut sebagai Bunda Allah [Theotokos] yang sungguh dan yang sangat terberkati. Santa Maria adalah Bunda Allah, sebab di dalam rahimnya yang kudus digenapilah misteri yang karena kesatuan Pribadi yang unik dan satu- satunya, Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia, sehingga manusia itu adalah Tuhan dan di dalam Tuhan. (St. Vincent of Lerins, The Commonitoriy for the Antiquity and Universality of the Catholic Faith, 15)

Dasar Magisterium Gereja:

Konsili Efesus (431):”Jika seseorang tidak mengakui bahwa Immanuel adalah Tuhan sendiri dan oleh karena itu Perawan Suci Maria adalah Bunda Tuhan (Theotokos); dalam arti di dalam dagingnya ia [Maria] mengandung Sabda Allah yang menjelma menjadi daging [seperti tertulis bahwa "Sabda sudah menjadi daging"], terkutuklah ia.” (D113)

Konsili Vatikan II (1962-1965), Lumen Gentium:

“Sebab perawan Maria, yang sesudah warta Malaikat menerima Sabda Allah dalam hati maupun tubuhnya, serta memberikan Hidup kepada dunia, diakui dan dihormati sebagai Bunda Allah dan Bunda Penebus yang sesungguhnya.” (LG 53)

“Berkat rahmat Allah Maria diangkat di bawah Puteranya, di atas semua malaikat dan manusia, sebagai Bunda Allah yang tersuci, yang hadir pada misteri-misteri Kristus; dan tepatlah bahwa ia dihormati oleh Gereja dengan kebaktian yang istimewa. Memang sejak zaman kuno Santa Perawan dihormati dengan gelar “Bunda Allah”; ….bila Bunda dihormati, Puteranya pun … dikenal, dicintai dan dimuliakan sebagaimana harusnya, serta perintah-perintah-Nya dilaksanakan. (LG 66)

Katekismus Gereja Katolik 495, 509:

KGK 495 Dalam Injil-injil Maria dinamakan “Bunda Yesus” (Yoh 2:1; 19:25, Bdk. Mat 13:55 dll). Oleh dorongan Roh Kudus, maka sebelum kelahiran Puteranya ia sudah dihormati sebagai “Bunda Tuhan-ku” (Luk 1:43). la, yang dikandungnya melalui Roh Kudus sebagai manusia dan yang dengan sesungguhnya telah menjadi Puteranya menurut daging, sungguh benar Putera Bapa yang abadi, Pribadi kedua Tritunggal Maha kudus. Gereja mengakui bahwa Maria adalah sesungguhnya Bunda Allah [Theotokos, Yang melahirkan Allah] (Bdk. DS 251).

KGK 509 Maria sesungguhnya “Bunda Allah“, karena ia adalah Bunda Putera Allah abadi yang menjadi manusia, yang adalah Allah sendiri.

Pengajaran dari para pendiri gereja Protestan tentang Maria, Bunda Allah:

Pengajaran Martin Luther tentang Maria adalah Bunda Allah:

“Rasul Paulus (Gal 4:4) mengatakan, “Tuhan mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan.” Perkataan ini yang kupegang sebagai kebenaran, sungguh- sungguh menegaskan dengan teguh bahwa Maria adalah Bunda Allah.” (Martin Luther, Weimar edition of Martin Luther’s Works (translation by William J. Cole), 50, p. 592, line 5)

“Konsili tersebut [Efesus] tidak menyampaikan sesuatu yang baru tentang iman, tetapi telah memperkuat iman lama, melawan kesombongan baru Nestorius. Artikel iman ini- bahwa Maria adalah Bunda Allah- sudah ada di dalam Gereja sejak awal dan bukan merupakan kreasi baru dari Konsili, tetapi presentasi dari Injil dan Kitab Suci.” (Martin Luther, Weimar edition of Martin Luther’s Works, English translation by J. Pelikan (St. Louis: Concordia), vol 7, 572)

“Ia [Maria] layak disebut tidak saja sebagai Bunda Manusia, tetapi juga Bunda Allah … Adalah pasti bahwa Maria adalah Bunda dari Allah yang nyata dan sejati.” (Martin Luther, Weimar edition of Martin Luther’s Works, English translation by J. Pelikan (St. Louis: Concordia), vol 24, 107).

Pengajaran John Calvin, tentang Maria sebagai Bunda Allah:

“Elisabet memanggil Maria Bunda Allah, karena kesatuan kedua kodrat dalam pribadi Kristus adalah sedemikian sehingga manusia yang fana (mortal) yang ada dalam rahim Maria adalah juga pada saat yang sama Allah yang kekal.” (Calvini Opera (Braunshweig- Berlin, 1863-1900), volume 45, 35)

Posted in Bunda Maria | Leave a comment

MENGHAYATI MAKNA SALIB KRISTUS

Renungan Minggu – Pesta Salib Suci

Bil 21:4-9; Flp 2:6-11; Yoh 3:13-17

Hari ini Gereja merayakan Pesta Salib Suci. Kita diajak untuk mendalami makna salib Kristus. Dalam kitab Suci khususnya Perjanjian Baru, gagasan-gasasan Paulus banyak bercakap tentang Salib Kristus. Maka untuk mengetahui makna salib kristus ini kita perlu membaca dan mendalami gagasan-gagasan Paulus tentang Salib. Salib Kristus disebut juga Salib Suci kerana alasan-alasan yang berdasarkan gagasan Paulus itu sendiri. Kerana itu sebelum kita bercakap lebih banyak, sebaiknya kita melihat beberapa makna Salib Kristus menurut Paulus.

Salib Kristus bagi Paulus adalah Hikmat Allah. “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk kerana kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!”(Gal 3:13). Bagi orang-orang Yahudi waktu itu, salib adalah kutuk dan siapapun yang mati kerana disalibkan pasti dia adalah seorang yang terkutuk , seorang pemborontak atau penjahat (Ul 21:23). Paulus mengaitkan salib Kristus dengan upacara korban dan penebusan yang dilakukan untuk mendamaikan manusia dengan Allah. “ Kerana semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma kerana penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian kerana iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, kerana Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.”(Rm 3:23-25). Dengan pendamaian itu manusia diselamatkan, “Kerana seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di syurga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.”(Kol 1:9-10).

Salib Kristus dikaitkan dengan penebusan manusia dari kuasa dosa. Kuasa dosa adalah kekuatan yang membelengu manusia dan menghambakan manusia kepada kedosaan. Salib Kristus membebaskan umat beriman dari penghambaan teradap dosa, dan menjadikan hubungan manusia dengan Allah sebagai hubungan anak dengan Bapanya. “Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.Dan kerana kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!”(Gal 4:5-6). Salib dan kebangkitan. Salib dan wafat Yesus Kristus tidak dapat dipisahkan dari kebangkitan-Nya. Dalam 1 Kor 15, Paulus mengajar tentang inti iman Kristiani yang hakiki. Kebangkitan Kristus menjadai pembebasan dari kuasa dosa sekaligus kuasa kematian, “Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh kerana satu orang itu, iaitu Yesus Kristus. Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.” (Rm 5:17-19). Di dalam Kristus, Allah melakukan pembenaran terhadap manusia berdosa. Berkat korban Yesus Kristus di salib-Nya, manusia tidak sepantasnya berbuat dosa lagi. Manusia tidak lagi berada dibawah kuasa dosa tetapi kerana telah ada di bawah kasih karuniah Allah (Rm 6: 14). Masih banyak makna Salib Kristus menurut Paulus tetapi cukup memetik beberapa sahaja.

Salib adalah simbol dan tanda kemenangan Kristus atas kuasa maut. Sungguh yang terhina bagi manusia telah menjadi rahmat dan hikmat bagi Allah. Kita yang menerima berkat Salib Suci Kristus patut berbangga kerana bukan diri kita sendiri tetapi kerana Roh Kudus yang menjiwai Kristus sendiri ada dalam diri kita masing-masing. Roh itu selalu mengingatkan kita akan perintah-perintah Tuhan Yesus. Jika Yesus telah setia dengan tekun sampai wafat di salib-Nya, kita umat yang ditebusnya juga harus setia dan tekun memikul salib kehidupan kita. “Kerana begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”(Yoh 3:16) . Kerana kasih Allah yang tidak berkesudahan, dan berkat wafat Yesus di Kayu Salib Suci-Nya kita memperolehi hidup kekal. Bererti Allah telah mengampuni dosa manusia seluruhnya.

Kasih dan pengampunan Allah ini diumpamakan dalam Mat 18 :21-35 iaitu perumpamaan tentang pegawai yang tidak mengampuni orang. Raja berniat menghukum pegawai yang berhutang banyak, namun kerana pegawai tersebut minta belas kasihan, raja akhirnya menghapus seluruh hutangnya. Hutang pegawai itu tidak dapat dikira lagi namun raja telah mnghapuskannya. Demikian Allah, manusia telah berdosa berat tidak terkira lagi namun kerana kasih Allah, maka Allah mengampuni dan menghapus dosa menusia seluruhnya melalui pengorbanan Yesus Kristus di kayu Salib. Seharusnya pegawai tersebut menghapus hutang kawannya kerana hutangnya yang lebih banyak lebih dulu dihapus oleh raja. Demikian kita yang sudah ditebus oleh Kristus maka harus selalu siap untuk mengampuni sesama diantara kita. Mengampuni pula bukan sekali sahaja tetapi selama-lamanya mahu mengampuni. Mengapa harus mengampuni? Kerana kita lebih dahulu diampuni oleh Allah. Pengampunan dari Allah itu sungguh tidak terbatas. Besarnya pengampunan Allah tersebut tidak sebanding dengan dosa yang telah dilakukan manusia. Pengampunan dari Allah tersebut sememangnya memampukan kita untuk memaafkan dan mengampuni saudara-saudari dan sesama kita.

Berkat salib Kristus, kita dimampukan untuk mengampuni sesama. Allah memang berbelaskasihan dan maha penyayang, tetapi jika hati kita buta akan kebaikan Allah kita tidak dapat menikmati kebaikan Allah itu. Rahmat dari Allah sudah tersedia bagi kita, tetapi kita harus berusaha memperolehinya dengan cara memberikan rahmat kepada orang lain. Memang tidak mudah untuk mengasihi sesama apalagi kepada mereka yang kita benci, tetapi justeru itulah salib yang harus kita pikul sampai pada kesempurnaan. Salib itu harus kita pikul ke manapun kita pergi dan berada, ertinya kita harus dapat mengampuni sesama dengan setulus hati dimanapun kita berada dan bila-bila masa sahaja serta kepada siapapun. “Kita mengasihi, kerana Allah lebih dahulu mengasihi kita.”(1Yoh 4:19). (JL/pm)

Cadangan soal refleksi peribadi dan perkongsian KKD.

1. Apakah makna Salib Suci/Salib Kristus bagi anda?

2. Allah telah menebus dosa anda berkat Salib Kristus, apakah yang seharusnya anda lakukan terhadap sesame sebagai pengikut Kristus?

Cadangan aktiviti minggu ini.

Carilah kesempatan sekali atau dua kali di minggu ini, datang dan berlutut dihadapan Salib Kristus, merenungkan kebaikan Allah yang telah lebih dahulu mengampuni kita. Renungkan sejauh mana anda telah melakukan pengampunan terhadap sesamamu dalam keluarga, jiran, dan kawan-kawan yang lain?. Jika perlu datang kepada orang yang berbuat salah terhadapmu dan katakan bahawa anda mengampuninya dengan setulus hati.

Posted in Spiritual Food | Leave a comment

SURAT PASTORAL

SURAT PASTORAL

Rev. Fathers, para Religius Brothers dan Sisters, Seminarian, Komuniti Betania, Pengerusi dan Ahli-ahli TPK, MPP, MPM, KWK, KBK, KKD, Komiti, Komuniti dan Semua Umat.

Syukur dan puji Tuhan kerana perjalanan kita bersama dalam Yesus Kristus selaku umat-Nya dapat kita laksana dan perjuangkan walaupun berbagai-bagai cabaran kita hadapi. Kini kita sudahpun dalam bulan September. Masa berjalan terus dengan laju, akan tetapi apa yang penting ialah mengambil peduli apa yang dinasihatkan oleh Yesus kepada kita iaitu supaya kita sentiasa mengambil sikap “berjaga-jaga supaya kita tidak tertipu” (Mat 24:4). Memang banyak perkara yang boleh mempengaruhi dan membuat kita terpedaya sekiranya kita tidak sefikiran dengan Kristus dan tidak bersikap seperti Dia, (1Kor 2:16; Fil 2:5).

Mengikut Perancangan Pastoral Keuskupan, sepanjang tahun 2014 kita sama-sama mahu menilai dan memperbaiki lagi cara kepemimpinan dan pelayanan kita agar lebih bersifat hamba seperti yang ditunjukkan Yesus sendiri (Mat 20:25-28). Dalam cita-cita kita mahu “membentuk komuniti Umat Allah yang komited dan efektif melayani Kerajaan-Nya”, kita para pemimpin dan pelayan Umat perlu diresapi dan dikuasai oleh pemikiran dan sikap Yesus sendiri. Pemikiran dan sikap Yesus tentu hanya akan lahir dan ada pada kita jika kita berusaha secara konsisten menyatukan diri dengan peribadi Yesus tiap-tiap hari (Yoh 15:4-5). Dengan adanya kesatuan kita dengan Yesus maka kepemimpinan dan pelayanan kita akan dapat kita jalankan Bersatu dengan Dia, Bersama dengan Dia dan Sama Seperti Dia.

Iman kristiani kita pada masa kini mengalami banyak ancaman. Oleh itu janganlah kita sia-siakan Panggilan dan Perutusan yang dikurniakan oleh Tuhan kepada kita selaku seorang Paderi, Religius dan Awam. Jika sudah terjalin relasi cinta kasih dengan peribadi Yesus pasti Dia dan Umat yang dipercayakan kepada ita menjadi keutamaan kita walau apapun yang berlaku. Jika relasi cinta kasih dengan Yesus belum terjalin yang menjadi keutamaan tentulah hobi peribadi sendiri dan bila-bilapun kita sanggup membatalkan program-program pastoral kita kerana kepentingan kita sendiri. Pelayanan kita akan terasa membebankan dan tentu tidak ada kebahagiaan.

Sama-samalah kita mempertingkatkan kualiti kepemimpinan dan pelayanan kita. Sentiasa bangkitkan kuasa Roh Kudus yang ada pada agar kita sentiasa diberi inspirasi, kuasa, cinta kasih dan kebolehan mengawal diri (2Tim 1:6-7). Berfikirlah dan bersikaplah seperti Kristus agar orang dapat melihat, mendengar dan menyentuh Yesus melalui diri kita. Dalam memimpin dan melayani kita diharap akan dapat member inspirasi, menyatukan dan mendorong Umat yang dipercayakan kepada kita.

Berikut Beberapa Informasi Untuk Pengetahuan dan Tindakan Kita Bersama:

1. PUKAT 10: Temanya “Keluarga Berpusat kepada Kristus, Berbudaya Menyembah Tuhan, Memantapkan Iman dan Bertanggungjawab Sosial”. Para perwakilan umat dari setiap paroki dan Mission Keuskupan Keningau akan bersidang pada 25-27 September 2014, bertempat di RRKKT. Sangat diharapkan agar semua Paderi, para perwakilan Religius dan Awam akan mengambil berat penyertaan sepenuhnya sepanjang persidangan ini. Jika ada apa-apa kemuskilan sila hubungi Urusetia TPK, Sr Liliana Gubod: Tel/Fax 087-330551, H/p 016-8033713.

2. Pusat Pembentukan Pastoral Keuskupan Keningau (PPPKK)

Sukacita dimaklumkan bahawa Fr. Rudolf Joannes telah dilantik sebagai Pengarah PPPKK yang baru berkuatkuasa serta merta. Segala urusan berkaitan PPPKK haruslah melalui beliau dan bukan lagi melalui Fr. Justin Joannis, SJ. Harap maklum.

3. Fr. Dr. Charles Chiew telah bertolak ke Rome pada 11 September, untuk mengikuti kursus mengenai keluarga selama hamper satu tahun. Kita ucapkan syabas dan selamat belajar kepada Fr. Charles. Apabila selesai kursus nanti beliau akan kembali membantu kita Umat Keuskupan ini dengan kemahiran yang baru.

4. Tahniah dan Syabas kepada Komuniti Sister FSIC atas berkat dan rahmat Tuhan kepada mereka. Tahniah dan syabas kepada para Sister yang akan merayakan Jubli dalam hidup Religius, iaitu: Sr. Alphonsus Low, yang akan merayakan Golden Jubilee, Sr. Appolonia Gumpu, Sr. Dorothy Aron dan Sr. Cecilia Wong yang akan merayakan Silver Jubilee pada 5 Oktober 2014, bertempat di Paroki Stella Maris, Tg. Aru. Misa Kudus pada pukul 10.00 pagi.

5. Tamu Solidariti KSFX, Keningau

Tamu Solidariti ini merupakn Program Pastoral tahunan bagi Umat Paroki KSFX Keningau, dimana Umat diperingkat ZON, KUK, KKD, Komiti, Komuniti dan Keluarga akan mengungkapkan semangat kesatuan dan solidarity dengan menyumbang bahan-bahan jualan, membeli kupon, dsb bertujuan mencari dana untuk Paroki dan Keuskupan. Berilah sokongan terhadap aktiviti pastoral ini dengan membeli kupon-kupon serta dating beramai-ramai membeli sambil beramal pada 5hb Oktober 2014, bertempat di Dataran Keuskupan, Keningau bermula pukul 9.30 pagi.

6. Cabutan Tiket Bertuah

Cabutan Tiket Bertuah ini bertujuan untuk mencari Dana bagi persiapan dan pelaksanaan Jubli Perak Keuskupan Keningau yang akan jatuh pada bulan Mei 2018. Satu projek yang kita harap akan dapat dilaksanakan sempena Perayaan Jubli Perak Keuskupan Keningau, iaitu membina sebuah Shrine (Tempat Ziarah) di Nulu Sosopon terletak berdekatan dengan Kg. Agudon, Keningau. Tiket bertuah ini akan kita lancarkan pada 28 September ini, bertempat di Gereja Kepayan Baru sempena Perayaan Ulang Tahun KKD peringkat Paroki KSFX, Keningau. Saya sungguh berharap semua Umat akan menyokong projek ini. Harga sekeping tiket hanya RM30.00 dengan hadiah utama yang lumayan iaitu sebuah kereta L/Cruiser (wagon), Motorsikal dan banyak lagi. Membelilah dengan murah hatisambil memenangi hadiah. Tiket-tiket akan diedarkan di setiap Paroki dan Mission seluruh Keuskupan Keningau dengan harapan agar mendapat sokongan daripada anda semua.

“KELUARGA BERPUSAT KEPADA KRISTUS, BERBUDAYA MENYEMBAH TUHAN, MEMANTAPKAN IMAN DAN BERTANGGUNGJAWAB SOSIAL”

KEBAHAGIAAN ADALAH KEKITAAN

+Bishop Datuk Cornelius Piong

Posted in From The Bishop | Leave a comment