APA ERTINYA BERKAT PENUTUP DI AKHIR PERAYAAN EKARISTI?

Berkat Penutup dalam perayaan Ekaristi juga mencerminkan berkat di awal perayaan, dengan perkataan, “Tuhan bersamamu” dengan tanda salib. Tanda salib ini dibuat bersamaan dengan pada saat imam memberkati umat, atas nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Sejak abad-abad awal, berkat oleh imam di akhir perayaan liturgis telah dilaksanakan. Perkataan, “Ite Missa est” yang artinya “Pergilah, kamu diutus” atau diterjemahkan, “Pergilah, Misa telah selesai.”

Maka yang terpenting di sini bukanlah semata-mata berkat penutup itu sendiri, tetapi juga pengutusan, sehingga keseluruhan liturgi itu sendiri disebut “Misa”, yang diambil dari kata (“dismissal/ sending“), yang artinya adalah sebuah pengutusan. Demikianlah maka Katekismus menjelaskan bahwa perayaan Ekaristi disebut ‘Misa Kudus’, “karena liturgi, dimana misteri keselamatan dirayakan, berakhir dengan pengutusan umat beriman [missio], supaya mereka melaksanakan kehendak Allah dalam kehidupannya sehari-hari.” (KGK 1332). Pengutusan ini mengacu kepada perkataan Yesus sendiri, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” (Yoh 20:21) Dalam perayaan Ekaristi, kita telah mengambil bagian dalam Misteri sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus, dan kita telah menerima Kristus dalam Komuni kudus, yang menggabungkan kita ke dalam kehidupan-Nya dan misi-Nya.

Perkataan “Pergilah, Misa telah selesai” (Ite Misa est) itu sendiri melambangkan kenaikan Kristus ke surga, dengan kedua malaikat yang mengutus para murid. Setelah kenaikan Yesus ke surga yang disaksikan oleh para murid-Nya, kedua malaikat itu mengutus para murid untuk kembali ke Yerusalem dan mewartakan Kristus.

Sedangkan berkat penutup di akhir Misa merupakan simbol dari turunnya Roh Kudus atas para Rasul di hari Pentakosta. Berkat yang diberikan dengan tanda salib mengingatkan kita akan rahmat Allah di hari Pentakosta, dan bermacam karunia dan buah Roh Kudus, yang dicurahkan kepada kita atas jasa Kristus melalui sengsara dan wafat-Nya di salib. Memang kita telah menerima Roh Kudus di saat Pembaptisan dan sakramen Krisma, namun Roh Kudus kembali dicurahkan atas kita untuk menguatkan jiwa kita menjalani kehidupan sehari-hari sepulangnya dari perayaan Misa Kudus ini. Maka kata berkat penutup bukanlah hanya semata menyatakan bahwa Misa telah selesai dan umat diberkati, namun merupakan pengutusan umat dengan misi untuk menyampaikan berkat yang baru saja mereka terima, yaitu Kristus, ke dalam dunia.

Jadi perkataan berkat penutup itu sendiri merupakan penutup rangkaian . Oleh karena itu tanggapan yang kita berikan adalah ucapan syukur yang tak terhingga yang keluar dari hati kita yang terdalam, “Syukur kepada Allah”. Sebab tiada kata yang dapat mewakili rasa terima kasih kita kepada Allah atas rahmat yang terbesar itu, selain ucapan syukur kepada-Nya. Ekaristi yang artinya adalah “ucapan syukur” ditutup dengan kata penutup yang merupakan ungkapan syukur kepada Allah.

Sumber:

Edward Sri (2011-01-04), A Biblical Walk Through The Mass: Understanding What We Say And Do In The Liturgy (pp. 147-148). Ascension Press. Kindle Edition.

Rev. Bernard C Loeher, Following Christ Through the Mass, (Detroit, Michigan, Sacred Heart Seminary, 1935), p. 79-83.

Posted in Liturgi | Leave a comment

PAUS BICARA APA SOAL KONDOM?

Pertanyaan:

Salam Inggrid & Stef,

Hari ini saya dikejutkan berita yang saya baca di situs detik.com(http://www.detikhealth.com/read/2010/11/21/100659/1498582/763/kondom-sebagai-penangkal-hiv-akhirnya-direstui-paus?993306755)

Benarkah Paus akhirnya merestui pemakaian kondom untuk menangkal HIV?

Jawaban:

Shalom Aloysius, Budi, Ryan, Bernardus, Yulius, Daesy dan semua pembaca,

Baru- baru ini kita dikejutkan oleh berita wawancara Paus Benediktus XVI yang akan dimuat dalam buku Light of the World: The Pope, the Church and the Signs of the Times. Wawancara ini ‘heboh’, karena menyangkut topik tentang pemakaian kondom. Buku itu rencananya baru akan diluncurkan hari Selasa besok, namun ini beritanya sudah ‘dibocorkan’ oleh L’Osservatore Romano, dan kemudian berita ini menarik perhatian mass media yang lain seperti Reuters, Associated Press, BBC, dst. [Berikut ini adalah resensi yang saya sarikan dari tulisan Jimmy Akin, seorang apologist (silakan klik) dan Janet Smith, komentator Humanae Vitae yang cukup terkenal (silakan klik), tentang topik ini].

Macam- macam judul berita yang beredar sekarang di internet, seperti: Paus berkata bahwa penggunaan kondom diijinkan untuk menghindari penyebaran AIDS, atau Paus berkata: Kondom diperbolehkan untuk kasus kasus tertentu, atau Paus mengatakan bahwa kondom dapat dipergunakan dalam pertempuran melawan AIDS…. Ada banyak orang salah paham akan apa yang dikatakan oleh Paus Benediktus XVI, sehingga berpikir bahwa Paus telah mengubah ajaran Gereja Katolik dalam hal kondom ini. Benarkah demikian?

Pertama- tama sebelum kita membahas lebih lanjut, mari kita sadari bahwa buku itu disusun atas hasil wawancara. Jadi Paus tidak dalam keadaan melaksanakan kewenangan mengajar secara resmi secara definitif. Buku itu bukan surat ensiklik ataupun konstitusi apostolik, atau sejenisnya. Maka pernyataan di sana bukan pernyataan resmi dari Magisterium yang bersifat infallible melainkan merupakan pernyataan pribadinya sebagai Paus yang sedang diwawancara oleh seorang wartawan Peter Seewald. Bukan berarti bahwa apa yang dikatakan Paus itu salah, tetapi harus diakui secara obyektif bahwa yang disampaikan di dalam wawancara itu belum memenuhi syarat- syarat untuk dapat dikatakan sebagai pernyataan yang infallible. Untuk syarat- syarat pengajaran dapat disebut sebagai infallible, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

Menarik disimak adalah fakta bahwa kutipan yang diambil oleh mass media tersebut hanyalah sedikit cuplikan wawancara yang dilepaskan dari konteksnya, sehingga bisa menimbulkan salah paham. Maka supaya tidak salah paham, silakan membaca teks lengkapnya di sini silakan klik.

Seewald: . . . In Africa you stated that the Church’s traditional teaching has proven to be the only sure way to stop the spread of HIV. Critics, including critics from the Church’s own ranks, object that it is madness to forbid a high-risk population to use condoms.

Pope Benedict: . . . In my remarks I was not making a general statement about the condom issue, but merely said, and this is what caused such great offense, that we cannot solve the problem by distributing condoms. Much more needs to be done. We must stand close to the people, we must guide and help them; and we must do this both before and after they contract the disease.

As a matter of fact, you know, people can get condoms when they want them anyway. But this just goes to show that condoms alone do not resolve the question itself. More needs to happen. Meanwhile, the secular realm itself has developed the so-called ABC Theory: Abstinence-Be Faithful-Condom, where the condom is understood only as a last resort, when the other two points fail to work. This means that the sheer fixation on the condom implies a banalization of sexuality, which, after all, is precisely the dangerous source of the attitude of no longer seeing sexuality as the expression of love, but only a sort of drug that people administer to themselves. This is why the fight against the banalization of sexuality is also a part of the struggle to ensure that sexuality is treated as a positive value and to enable it to have a positive effect on the whole of man’s being.

Dari sini, Paus mau mengatakan setidak- tidaknya tiga hal:

1. Walaupun orang dapat mendapatkan kondom dengan mudahnya, kita tidak dapat menyelesaikan masalah [penyebaran AIDS]dengan memberikan kondom.

2. Bahkan pihak-pihak sekular yang memberikan semboyan ABC (Abstinence/ pantang- Be faithful- kesetiaan dalam perkawinan- C Condom/ kondom) mengakui bahwa kondom itu hanya jalan terakhir. Pantang dan kesetiaan kepada pasangan merupakan kedua cara yang terbaik.

3. Hanya memusatkan perhatian pada penggunaan kondom itu menunjukkan peremehan makna seksualitas, dalam arti seksualitas tidak lagi dianggap sebagai tindakan kasih melainkan pementingan diri sendiri. Agar seks mempunyai peran positif dalam hidup seseorang, maka harus dipahami makna seksualitas, dan pemusatan perhatian pada kondom perlu dihindari.

Ketiga hal ini merupakan latar belakang atas pernyataan yang ramai dikutip pers:

“There may be a basis in the case of some individuals, as perhaps when a male prostitute uses a condom, where this can be a first step in the direction of a moralization, a first assumption of responsibility, on the way toward recovering an awareness that not everything is allowed and that one cannot do whatever one wants. But it is not really the way to deal with the evil of HIV infection. That can really lie only in a humanization of sexuality.“

Maka ada dua hal di sini:

1. Bahasa yang digunakan merupakan kondisi khusus bernada pengandaian/ spekulasi, “There may be a basis in the case of some individuals”- bukan “there is a basis”. Jadi artinya bukan berarti bahwa semua kasus penggunaan kondom dibenarkan secara moral. Yang dikatakan Paus adalah, pada kasus tertentu (dalam hal ini pada kasus pelacur pria homoseksual), penggunaan kondom dapat menjadi langkah awal menuju kesadaran moral yang lebih baik, yaitu langkah pertama untuk mengambil tanggung jawab, untuk tidak menularkan penyakit kepada orang lain, atas kesadaran bahwa tidak semua hal boleh dilakukan.

Janet Smith mengatakan, “Paus hanya mengatakan bahwa untuk beberapa orang pelacur homoseksual, penggunaan kondom dapat mengindikasikan kebangkitan kesadaran moral; suatu kesadaran bahwa kesenangan seksual bukan nilai yang tertinggi, tetapi bahwa kita harus memperhatikan agar kita tidak membahayakan orang lain dengan pilihan- pilihan kita. Ia [Paus] tidak sedang membicarakan moralitas penggunaan kondom, tetapi tentang sesuatu yang mungkin benar tentang tahapan psikologis dari mereka yang menggunakannya. Jika para individual yang menggunakan kondom dengan maksud agar tidak membahayakan orang lain, maka mereka dapat akhirnya menyadari bahwa hubungan seksual antara sesama jenis adalah sesungguhnya berbahaya sebab tidak sesuai dengan kodrat manusia.”

Untuk selanjutnya, mari kita menunggu klarifikasi dari pihak Vatikan tentang pernyataan yang lebih jelas tentang ini.

2. Pada akhir komentarnya tentang penggunaan kondom pada pelacur pria tersebut, Paus kemudian menyatakan, “But it is not really the way to deal with the evil of HIV infection. That can really lie only in a humanization of sexuality.” Terjemahannya: “Tetapi ia [kondom]bukan benar- benar jalan untuk mengatasi kejahatan infeksi HIV. Itu dapat sungguh- sungguh bersandar atas pemanusiawian seksualitas.”

Maksud “pemanusiawian seksualitas” adalah kebenaran tentang seksualitas manusia, yaitu bahwa hubungan seks harus merupakan tindakan kasih yang setia antara seorang suami dan seorang istri dalam perkawinan. Ini adalah solusi yang nyata, bukan penggunaan kondom untuk kemudian bergonti- ganti pasangan, dengan mereka yang terinfeksi virus yang mematikan itu.

Setelah pernyataan ini, Seewald menanyakan pertanyaan lanjutan, dan sesungguhnya sangatlah janggal, atau bahkan dikatakan oleh Jimmy Akin, sebagai “truly criminal“, bahwa L’Osservatore Romano tidak mencetaknya:

Seewald: “Are you saying, then, that the Catholic Church is actually not opposed in principle to the use of condoms?” (Karena itu, apakah anda mengatakan, bahwa Gereja Katolik pada dasarnya secara prinsip tidak menentang penggunaan kondom?)

Paus Benediktus XVI: “She of course does not regard it as a real or moral solution, but, in this or that case, there can be nonetheless, in the intention of reducing the risk of infection, a first step in a movement toward a different way, a more human way, of living sexuality.” (Gereja Katolik tentu tidak menganggapnya [kondom]sebagai sebuah solusi yang nyata atau solusi moral, tetapi di dalam kasus ini atau itu, dapat terjadi, biar bagaimanapun, di dalam tujuannya untuk mengurangi resiko infeksi, sebuah langkah awal di dalam pergerakan menuju jalan yang lain, [yaitu]sebuah jalan yang lebih manusiawi tentang menjalani kehidupan seksual).

Maka di sini Paus tidak mengatakan bahwa penggunaan kondom dapat dibenarkan, tetapi hal itu dapat menunjukkan maksud tujuan khusus dan tujuan ini berada di dalam arah yang benar.

Janet Smith memberikan analogi demikian:

“Jika seseorang mau merampok bank dan terpaksa menggunakan sebuah pistol, adalah lebih baik bagi si perampok itu untuk menggunakan sebuah pistol yang tidak ada pelurunya. Itu akan mengurangi luka-luka kecelakaan yang fatal. Tetapi bukan merupakan tugas Gereja untuk menyuruh para calon perampok bank untuk merampok bank dengan lebih aman dan tentu bukan tugas Gereja untuk mendukung program- program untuk menyediakan pasokan senjata tanpa peluru tersebut kepada para calon perampok bank. Biar bagaimanapun, tujuan perampok bank untuk merampok bank tanpa melukai/ lebih aman bagi para pegawai dan pelanggan bank dapat mengindikasikan adanya elemen tanggung jawab moral, yang dapat merupakan langkah awal menuju pemahaman akhir bahwa tindakan merampok bank adalah tindakan yang salah secara moral.”

Maka sebenarnya yang menjadi fokus Paus Benediktus XVI dalam pembicaraannya ini adalah bukannya legalisasi penggunaan kondom, tetapi bahwa mereka yang melakukan hubungan seks dalam keadaan terinfeksi HIV perlu untuk bertumbuh di dalam moral discernment/ kesadaran moral. Karena itu Paus menekankan adanya “langkah awal” di dalam kesadaran itu. Gereja memang selalu berusaha agar semua orang dapat beralih dari tindakan- tindakan yang tidak bermoral, kepada tindakan kasih kepada Yesus, dalam kekudusan.

Pembicaraan Paus juga tidak untuk diartikan bahwa adalah baik secara moral bagi pelacur pria untuk menggunakan kondom. Paus juga tidak menyatakan ajaran Gereja tentang apakah penggunaan kondom itu mengurangi dosa homoseksual yang mengancam penularan HIV. Yang disampaikan di sana adalah tujuan untuk tidak membahayakan orang lain merupakan indikasi adanya pertumbuhan kesadaran tanggung jawab moral. Maka fokusnya di sini bukan kondom, tetapi pertobatan, atau lebih tepatnya, langkah pertama menuju pertobatan.

Juga menjadi tidak benar, jika seseorang menyangka bahwa Paus akan mendukung pembagian kondom kepada para pelacur pria. Tidak ada dalam wawancara yang mengatakan demikian. Gereja hanya bermaksud memanggil semua orang kepada pertobatan, perbuatan yang bermoral, pemahaman akan makna dan tujuan seksualitas, dan untuk membawa kita manusia kepada pengenalan akan Kristus, yang akan memberikan rahmat yang memampukan kita untuk hidup sesuai dengan makna dan tujuan seksualitas.

Apakah melalui wawancara ini Paus Benediktus XVI mengindikasikan bahwa pasangan suami istri dapat mengurangi kesalahan tindakan mereka dengan menggunakan kondom? Tidak, karena Paus dalam jawaban selanjutnya tetap mengatakan,”Gereja Katolik tentu tidak menganggapnya [kondom]sebagai sebuah solusi yang nyata atau solusi moral”. Di dalam jawabannya yang lebih lengkap, Paus tetap mengatakan program yang paling efektif untuk mengurangi penularan HIV adalah pantang hubungan seksual dan kesetiaan pada pasangan dalam perkawinan (abstinence and fidelity). Jika ada perubahan ataupun klarifikasi, tentunya pihak Vatikan akan mengeluarkan pernyataan resmi tentang hal ini.

Demikian yang dapat saya sampaikan sehubungan dengan banyaknya pertanyaan yang masuk, tentang wawancara Paus Benediktus XVI dengan Peter Seewald, seorang jurnalis Jerman yang mewawancarainya pada musim panas 2010 yang baru lalu.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,

Ingrid Listiati- katolisitas.org

Posted in Perkahwinan | Leave a comment

APAKAH DOA ROSARI ADALAH DOA PENGULANGAN YANG DILARANG ALKITAB?

Umat Kristen non-Katolik sering mengatakan bahwa doa rosario adalah doa yang tidak Alkitabiah dan sesat, karena bertele-tele (lih. Mat 6:7), yaitu dengan mengulang-ulang doa Salam Maria. Mat 6:7 mengajarkan agar kita tidak berdoa secara bertele-tele, atau dalam versi bahasa Inggris KJV dikatakan sebagai “vain repetition” atau pengulangan sia-sia (vain). Namun sesungguhnya, tidak semua doa yang diulang adalah salah, karena di dalam Kitab suci kita dapat menemukan bahwa ada begitu banyak pengulangan doa, seperti: (a) “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” (ada sekitar 41 ayat, 5 ayat di Mzm 118 dan 26 ayat di Mzm 136), (b) “…dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, …” (Why 4:8), (c) Tiga kali Yesus mengucapkan doa yang sama, “Ya Bapa-Ku, jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!” (Mat 26:39, 42, 44), (d) Dua orang buta berseru-seru perkataan yang sama, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.” (Mat 20:30-31). Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa tidak semua doa berulang itu salah, karena pengulangan doa pada contoh di atas bukanlah pengulangan kata-kata semata, namun doa yang didaraskan kepada Tuhan dengan dasar iman, pengharapan dan kasih.

Sejujurnya, banyak umat Kristen non-Katolik yang juga berdoa dengan pengulangan-pengulangan, seperti misalnya dalam doa spontan, diulangi perkataan, “ya Tuhan” atau “ampunilah kami“. Bahkan juga lagu yang sama diulang berkali-kali dalam doa pujian dan penyembahan. Kalau pengulangan doa spontan dan lagu pujian tersebut tidak dianggap sesat, mengapa doa rosario dianggap sesat?

Doa rosario tersusun dari beberapa doa, yaitu doa Aku Percaya (1x), Bapa Kami (6x), Kemuliaan (6x), Terpujilah (6x), Salam Maria (53x), di mana 50x doa Salam Maria adalah untuk merenungkan 5 peristiwa dalam kehidupan Tuhan Yesus Kristus. Kalau kita memahami makna doa rosario, maka kita juga memahami bahwa fokus doa ini bukanlah pada pengulangan doa Bapa Kami dan Salam Maria, namun kepada misteri Inkarnasi Kristus. Katekismus Gereja Katolik mengatakan bahwa rosario adalah ringkasan dari seluruh Injil (lih. KGK 971). Hal ini dapat kita lihat dari empat kelompok peristiwa, yaitu peristiwa-peristiwa gembira, terang, sedih dan mulia. Peristiwa gembira (yang didoakan pada hari Senin dan Sabtu) terdiri dari: Maria menerima Kabar Gembira, kunjungan ke Elizabet, kelahiran Kristus, Yesus dipersembahkan di bait Allah, Yesus ditemukan di bait Allah; Peristiwa terang (Kamis): Yesus dibaptis, mukjizat di Kana, Yesus mewartakan Kerajaan Allah, Transfigurasi, Perjamuan Terakhir; Peristiwa sedih (Selasa dan Jumat): Yesus di Taman Getsemani, Yesus didera, Yesus dimahkotai duri, Yesus memanggul salib-Nya, dan Yesus wafat; Peristiwa mulia (Rabu dan Minggu): Yesus bangkit, Yesus naik ke Sorga, Pentakosta, Maria diangkat ke Sorga, Maria menerima mahkota kehidupan di Sorga.

Dengan demikian, selama berdoa rosario, umat Katolik merenungkan kehidupan Yesus. Artinya, orang yang setia berdoa rosario setiap hari adalah orang yang merenungkan misteri kehidupan Kristus secara lengkap dua kali dalam seminggu. Bagaimana mungkin, hal merenungkan kehidupan Kristus dianggap sebagai pengulangan yang sia-sia? Bagaimana mungkin hal mengulangi doa Bapa Kami, doa yang diajarkan Yesus, dianggap sesat? Justru setiap saat, kita harus merenungkan kehidupan Kristus dan merenungkan doa Bapa Kami, sehingga Kristus dapat menuntun kehidupan kita. Jadi, apakah ada akibatnya, jika seseorang berdoa rosario secara sungguh-sungguh? Tentu ada, yaitu ia dibawa kepada kekudusan, seperti yang terjadi pada para Santa-santo di sepanjang sejarah Gereja. Dengan merenungkan peristiwa-peristiwa kehidupan Yesus dan menghubungkannya dengan kehidupan kita sendiri, kita dibentuk oleh Kristus untuk menjadi semakin serupa dengan Dia. Jadi, marilah kita, tanpa ragu, berdoa rosario, sehingga kita dapat bertumbuh dalam kekudusan, sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan (lih. 1 Tes 4:3).

Dasar Alkitab:

Mat 6:7: Doa yang sesat bukanlah doa pengulangan, namun pengulangan yang tidak berguna (vain repetition).

Mzm 118, Mzm 136: Contoh pengulangan doa: “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya“

Why 4:8: Pengulangan doa, “Kudus, kudus, kudus”

Mat 26:39,42,44: Yesus mengulangi doa, “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!“

Mat 20:30-31: Dua orang buta berseru berulang-ulang, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.“

Dasar Magisterium Gereja:

Paus Yohanes Paulus II, Surat Apostolik, Rosarium Virginis Mariae:

“Doa Rosario, meskipun jelas sifatnya Marian, namun pada intinya adalah doa yang Kristosentris -berpusat pada Kristus. Dalam kesungguhan elemen-elemennya, ia mengungkapkan kedalaman pesan Injil dalam keseluruhannya, yang tentangnya dapat dikatakan sebagai ringkasannya.” (RVM 1)

Pesan Paus Benediktus XVI untuk Hari nasional pertama dari Orang Muda Katolik dari Belanda, par.8:

“Pendarasan doa Rosario dapat menolongmu untuk belajar seni berdoa dengan kesederhanaan Maria dan kedalaman [iman]-nya.”

Katekismus Gereja Katolik 971, 2678, 2679, 2708:

KGK 971 Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia” (Luk 1:48). “Penghormatan Gereja untuk Perawan Maria tersuci termasuk dalam inti ibadat Kristen” (MC 56). “Tepatlah bahwa ia dihormati oleh Gereja dengan kebaktian istimewa. Memang sejak zaman kuno Santa Perawan dihormati dengan gelar “Bunda Allah”; dan dalam segala bahaya dan kebutuhan mereka, umat beriman sambil berdoa mencari perlindungannya… Kebaktian Umat Allah terhadap Maria… meskipun bersifat istimewa, namun secara hakiki berbeda dengan bakti sembah sujud, yang dipersembahkan kepada Sabda yang menjelma seperti juga kepada Bapa dan Roh Kudus, lagi pula sangat mendukungnya” (LG 66). Ia mendapat ungkapannya dalam pesta-pesta liturgi yang dikhususkan untuk Bunda Allah (Bdk. SC 103.) dan dalam doa marian – seperti doa rosario, yang merupakan “ringkasan seluruh Injil” (Bdk. MC 42.)

KGK 2678 Dalam kesalehan Barat selama Abad Pertengahan muncullah Doa Rosario sebagai pengganti populer untuk ibadat harian. Di dunia Timur, Litani Akathistos dan Paraklisis lebih mirip dengan ibadat harian dalam Gereja-gereja Bisantin, sementara tradisi Armenia, Koptik, dan Siria lebih mengutamakan himne dan lagu-lagu rakyat, untuk menghormati Bunda Allah. Tetapi tradisi doa pada hakikatnya tetap sama dalam Salam Maria, dalam theotokia, dalam himne santo Efraim, dan santo Gregorius dari Narek.

KGK 2679 Maria adalah pendoa sempurna dan citra Gereja. Kalau kita berdoa kepadanya, kita menyetujui bersama dia keputusan Bapa, yang mengutus Putera-Nya untuk menyelamatkan semua manusia. Sebagaimana murid yang dicintai Yesus, kita juga menerima Bunda Yesus yang telah menjadi Bunda semua orang yang hidup, ke dalam rumah kita (Bdk. Yoh 19:27.). Kita dapat berdoa dan memohon bersama dia. Doa Gereja seakan-akan didukung oleh doa Maria; ia disatukan dengan Maria dalam harapan (Bdk. LG 68-69.)

KGK 2708 Meditasi memakai pikiran, daya khayal, gerak perasaan dan kerinduan. Usaha ini penting untuk memperdalam kebenaran iman, untuk menggerakkan pertobatan hati dan memperkuat kehendak guna mengikuti Kristus. Doa Kristen terutama berusaha untuk bermeditasi tentang “misteri Kristus”, sebagaimana terjadi waktu pembacaan Kitab Suci, “lectio divina“, dan pada doa rosario. Bentuk renungan doa ini mempunyai nilai yang besar; tetapi doa Kristen harus mengejar lebih jauh lagi: pengenalan akan kasih Tuhan Yesus Kristus dan persatuan dengan Dia.

Posted in Bunda Maria | Leave a comment

CARILAH KERAJAAN ALLAH DAN KEBENARAN-NYA

Renungan Hari Minggu Biasa Ke-26 ( A )

Yeh 18:25-28; Flp 2:1-11; Mat 21:28-32

Mengikuti Yesus atau beriman kepada Yesus memang tidak mudah apa lagi jika melepaskan segalanya untuk Yesus pasti tidak ada jaminan dan masa depan yang cerah. Jika kita berfikiran duniawi, kita memang merasa mengikuti Yesus itu tidak ada jaminannya. Di zaman sekarang, budaya konsumerisme dan kebendaan mempengaruhi cara manusia berfikir. Budaya tersebut membuat manusia terlalu mengharapkan sesuatu dari apa yang dilakukannya. Atau dengan kata lain, apapun yang dilakukannya harus ada imbalannya. Jika beginilah cara kita berfikir, maka sudah tentu iman kita mudah tergoda, mudah tergoncang oleh godaan-godaan dan cabaran-cabaran yang sering kita hadapi setiap hari.

Yesus pernah bersabda: “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat”( Mat 5:37 ). Keadaan zaman sekarang menuntut suatu ketegasan dari diri kita dalam menghadapi pelbagai macam godaan. Namun apa yang terjadi adalah mulut mengatakan ya tetapi hati tidak, sebaliknya jika mulut mengatakan tidak tetapi hatinya mengatakan ya. Iman seperti ini adalah iman yang tidak ada pendirian. Jika kita perhatikan dalam kehidupan sehari-hari, begitu banyak tindakan atau sikap yang menggambarkan iman yang tidak kokoh. Contoh paling sederhana, ketika seorang datang ke rumah kawannya dengan tujuan tertentu, ketika di rumah kawannya menawarkan makanan, tetapi ia ia tidak menerima. Ketika dalam perjalanan pulang dia menyesal kerana tidak menerima makanan dari kawannya itu. Coba kita renung, apakah dalam pelayanan, kita juga bersikap seperti itu? Sebagai seorang katekis, apakah anda pernah berfikir, apa yang saya dapat kalau menjadi katekis?. Mungkin tidak kurang juga umat yang berfikir tentang apa yang ia dapat ketika mengikuti ibadat sabda atau misa kudus, atau ketika mengikuti pelbaga pelayanan. Jika pelayanan kita arahkan supaya kita mendapat pujian, lebih baik jangan ikut melayani.

Memang pada masa sekarang kita merasa terancam terhimpit dan merasa tidak mendapat keadilan. Terdapat banyak tawaran yang diberikan kepada umat supaya tergoda meninggalkan imannya. Sewaktu Pembaptisan kita sudah mengatakan “Ya” kepada iman Kristiani dan mengatakan “Tidak ” terhadap segala macam bentuk muslihat godaan dari kuasa kegelapan. Sebetulnya dari semasa ke semasa umat harus mempertanggungjawabkan dengan penuh kesetiaan dan komitmen akan janji baptis tersebut. Kita adalah seperti dua orang anak yang disuruh oleh ayahnya berkerja di kebun anggur (Mat 21: 28-32). Kita umat-Nya yang sudah dibaptis menjadi anak-anak Allah yang setiap saat dipanggil oleh Allah untuk menyahut dan melaksanakan panggilan-Nya. Ada yang mengatakan Ya terhadap panggilan Tuhan tetapi kerana menghadapi banyak masalah, banyak cabaran, banyak masalah dan banyak godaan akhirnya ia tidak melaksanakan penggilan Tuhan seperti anak yang sulung mengatakan Ya akan arahan ayahnya tetapi tidak melaksanakan kerja di kebun anggur ayahnya (Mat 21:29).

Mengatakan Ya memang tidak susah tetapi kerana banyak cabaran dan godaan maka kita tidak melaksanakan tangungjawab kita dengan baik. Tanggungjawab atau panggilan itu entah dalam keluarga, sebagai pendidik, sebagai imam, sebagai pelayan, atau apapun tugas yang dipercayakan kepada kita. Penyebab utmanya adalah kerana iman kita tidak kokoh seperti biji yang jatuh di atas batu di tengah semak (Mat 13:5-8), dan seperti orang yang membangun rumah di atas pasir (Mat 7:16). Tidak ada alasan untuk tidak melaksanakan tenggungjawab dan panggilan umat beriman. Memang dunia sekarang penuh dengan cabaran dan godaan tetapi kita haruslah mengokohkan dan meneguhkan iman kita dengan cara melaksanakan perintah dan firman yang telah kita terima dari Tuhan. “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.”( Mat 7:24 ), “Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan kerana itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipa.”(Mat 13:23).

Mungkin kisah hidup Santo Wenseslaus berikut ini memberi inspirasi dan motivasi kepada kita dalam hal melaksanakan tanggungjawab dengan iman yang kokoh akan Kristus. Wenseslaus adalah seorang Raja muda. Beliau adalah raja Bohemia yang berjiwa Kristus dan membela masyarakat terutama masyarakat miskin. Sementara menjadi raja, Wenseslaus menghadapi banyak cabaran terutama para musuhnya yang dipimpin oleh ibunya sendiri iaitu Dragomira yang dikenal angkuh, gila hormat dan kuasa. Ibunya bermental kafir dan bersahabat dengan orang-orang kafir. Pada masa yang sama adik kandungnya Boleslaw juga menjadi musuhnya yang ketat. Raja Wenseslaus melaksanakan karyanya sebagai pemimpin rakyat dengan berasaskan ajaran Kristiani dan berlandaskan iman yang kokoh. Ia akrab dengan devosi terutama devosi Sakramen Mahakudus. Meskipun seorang raja tetapi ia sering menjadai putra altar ketika ada perayaan Ekaristi. Dia sering mengunjungi Gereja pada waktu malam untuk berdoa. Ia juga sering mengunjungi para tawanan untuk menghibur mereka,meringankan bebanab orang kemiskinan dan pada musim sejuk dia sering menghantar kayu api kepada keluarga-keluarga miskin di sekitarnya. Wenseslaus adalah seorang yang taat akan iman Kristiani, suci dan bijaksana. Bahkan sebelum menghembuskan nafas terakhirnya di tangan adiknya Boleslaw, ia berkata; “ adikku, semoga Tuhan mengampuni engkau”.

Jika kita menelusuri riwayat hidup Santo Wenseslaus, sangat banyak cabaran, godaan dan ancaman yang telah dihadapinya. Bagi orang biasa, pasti tidak mungkin dapat bertahan. Tetapi dengan iman yang kokoh kita pasti dapat menghadapi semua cabaran dan tantangan bahkan ancaman yang kita hadapi. Apa yang harus kita lakukan agar iman kita kokoh? Ikutilah apa yang dilakukan oleh Santo Wenseslaus, bertahan dan tetap setia pada iman Kristiani. Tetapi tidak cukup hanya bertahan, jika sudah mengatakan “Ya” harus melaksanakannya seperti biji yang jatuh di tanah yang subur “(Mat 13:23)”, dan membangun rumah di atas batu(Mat 7:24). Jangan takut, jangan khuatir, jangan angkuh dan jangan sombong, tetapi ingatlah akan kata-kata Yesus; “ Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu;”(Mat 20:26-27). Mungkin anda berfikir apa upahmu tetapi ingatlah akan kata Yesus; “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mat 6:33 ). (JL/pm)

Cadangan soalan pertanyaan refleksi peribadi dan perkongsian KKD.

1. Ketika menghadapi cabaran dan godaan, apakah saya menghindar atau menghadapinya? Apa yang saya lakukan?

2. Apakah yang saya lakukan demi perkembangan dan pertumbuhan iman yang kokoh?

Cadangan aktiviti minggu ini.

Renungi riwayat hidup Santo Wenceslaus, kemudian perhatikan keadaan setiap peribadi manusia di sekitar anda, masih banyak yang memerlukan pelbagai bantuan dan pelayanan dari kita. Tunjukkan pertanggungjawabanmu kepada iman akan Kristus yang telah anda “YA”kan dalam hidup anda dengan “memberikan hati untuk mengasihi dan mencintai serta menghulurkan tangan untuk melayani”.

Posted in Spiritual Food | Leave a comment

KETENTUAN CARA MENYAMBUT KOMUNI

Komuni dapat disambut dengan cara berlutut atau berdiri, di lidah ataupun di tangan. Instruksi VI tentang sejumlah hal yang perlu dilaksanakan ataupun dihindari berkaitan dengan Ekaristi kudus, Redemptionis Sacramentum, dan Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) menuliskan tentang penyambutan Komuni, demikian:

RS 90 “Ketika menyambut Komuni, umat hendaknya berlutut atau berdiri, sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh Konferensi Uskup” …. Tetapi jika Komuni disambut sambil berdiri, maka hendaklah umat memberi suatu tanda hormat sebelum menyambut Sakramen seturut ketetapan yang sama.

RS 91. …. Oleh karena itu setiap orang Katolik yang tidak terhalang oleh hukum, harus diperbolehkan menyambut Komuni. Maka tidak dapat dibenarkan jika Komuni ditolak kepada siapa pun di antara umat beriman hanya berdasarkan fakta misalnya bahwa orang yang bersangkutan mau menyambut Komuni sambil berlutut atau sambil berdiri.

RS 92 Walaupun tiap orang tetap selalu berhak menyambut komuni dengan lidah jika ia menginginkan demikian, namun kalau ada orang yang ingin menyambut komuni di tangan, di wilayah-wilayah di mana Konferensi Uskup setempat dengan recognitio oleh Tahta Apostolik yang telah mengizinkannya, maka hosti harus diberikan kepadanya. Akan tetapi harus dperhatikan baik-baik agar hosti dimakan oleh si penerima pada saat masih berada di hadapan petugas komuni, sebab orang tidak boleh menjauhkan diri sambil membawa Roti Ekaristi di tangan. Jika ada bahaya profanasi, maka hendaknya komuni suci tidak diberikan di tangan.”

RS 94 Umat tidak diizinkan mengambil sendiri- apalagi meneruskan kepada orang lain- Hosti Kudus atau Piala kudus.

RS 104 Umat yang menyambut, tidak diberi izin untuk mencelupkan sendiri hosti ke dalam piala; tidak boleh juga ia menerima hosti yang sudah dicelupkan itu pada tangannya…..

PUMR 160 Umat tidak diperkenankan mengambil sendiri roti kudus atau piala, apalagi saling memberikannya antar mereka. Umat menyambut entah sambil berlutut atau sambil berdiri, sesuai dengan ketentuan Konferensi Uskup…

Posted in Liturgi | Leave a comment