APAKAH ORANG KATOLIK YANG MENIKAH DI LUAR GEREJA KATOLIK DAPAT MENERIMA KOMUNI?

Prinsip umumnya adalah: Kalau perkawinan tidak sah menurut ketentuan kanonik, maka pihak yang Katolik tersebut tidak dapat menerima Komuni, namun kalau perkawinan tersebut telah disahkan/ dibereskan secara kanonik, maka orang tersebut dapat kembali menerima Komuni dalam Gereja Katolik.

Memang menurut norma umumnya, seorang yang Katolik wajib menikah secara Katolik. Maka, jika salah satu dari pihak yang menikah (suami atau istri) Katolik, maka pasangan itu sesungguhnya terikat oleh hukum kanonik Gereja Katolik, sehingga menurut ketentuan umumnya, mereka harus menikah di Gereja Katolik.

1) Namun jika karena untuk alasan yang masuk akal, hal ini tidak dapat dilakukan, dan perkawinan tersebut hendak diberkati secara Kristen non-Katolik, maka pihak yang Katolik harus meminta izin kepada pihak Ordinaris -yaitu Keuskupan- agar walaupun diberkati di gereja non- Katolik, perkawinan tetap dapat dianggap sah oleh Gereja Katolik. Jika izin ini diperoleh, maka perkawinan itu sah secara kanonik, dan kelak pihak yang Katolik tetap diperkenankan untuk menerima Komuni di Gereja Katolik. Hal di atas dimungkinkan jika baptisan pasangan yang non-Katolik tersebut diakui oleh Gereja Katolik, artinya: gereja di mana ia dibaptis termasuk dalam daftar gereja-gereja PGI. Jika kondisi di atas terpenuhi, maka perkawinan tersebut adalah sakramen, yaitu merupakan tanda dan sarana keselamatan bagi pasangan tersebut, sehingga tidak terceraikan. Dasarnya adalah ajaran Katekismus Gereja Katolik dan Kitab Hukum Kanonik 1983:

KGK 1683 “Perjanjian Perkawinan, dengan mana pria dan wanita membentuk antar mereka kebersamaan seluruh hidup, dari sifat kodratinya terarah pada kesejahteraan suami-isteri serta pada kelahiran dan pendidikan anak; oleh Kristus Tuhan Perkawinan antara orang-orang yang dibaptis diangkat ke martabat Sakramen” (KHK kan. 1055 §1).

Perkawinan sebagai sakramen, itu maksudnya adalah bahwa Perkawinan itu menjadi sarana dan tanda kehadiran Kristus yang menyelamatkan. Jadi artinya, suami menjadi tanda kehadiran Kristus bagi istrinya, dan demikian pula istri bagi suaminya. Dengan demikian, perkawinan tersebut menjadi gambaran akan kasih Kristus (sebagai mempelai pria) kepada Gereja (sebagai mempelai wanita, lih. Ef 5:22-33). Nah kesatuan Kristus dan Gereja-Nya ini dirayakan secara istimewa dalam perayaan Ekaristi. Dalam perayaan Ekaristi-lah, pihak yang Katolik mengambil bagian dalam kasih kesatuan antara Kristus dan Gereja-Nya, dan dengan demikian memperbaharui kembali janji perkawinannya di hadapan Tuhan. Karena itu, salah satu syarat penerimaan Ekaristi bagi umat Katolik yang sudah menikah adalah: perkawinan mereka sudah sah menurut hukum Gereja. Ikatan perkawinan yang sah inilah yang diperbaharui dalam sakramen Ekaristi.

Dalam Ekshortasi Apostoliknya, Familiaris Consortio, Paus Yohanes Paulus II yang terberkati mengajarkan:

“Peran pengudusan dalam keluarga Kristiani mengambil dasar dari sakramen Baptis, dan diekspresikan secara tertinggi dalam Ekaristi, di mana perkawinan Kristiani secara mesra diikatkan…. Ekaristi adalah sumber perkawinan Kristiani. Kurban Ekaristi, menghadirkan perjanjian kasih antara Kristus dan Gereja-Nya, yang dimeteraikan oleh darah-Nya di kayu Salib. Di kurban Perjanjian Baru dan kekal ini, pasangan-pasangan Kristiani terhubung dengan sumber yang darinya perjanjian perkawinan mereka itu sendiri mengalir, disusun, dan senantiasa diperbaharui….” (Familiaris Consortio, 57)

2). Jika seorang Katolik memutuskan untuk menikah secara agama lain, maka perkawinannya itu cacat kanonik. Demikian pula, jika seorang Katolik menikah di gereja Kristen non-Katolik tanpa izin dari pihak otoritas Gereja Katolik, maka perkawinannya itu cacat kanonik. Artinya, perkawinan tersebut tidak dilakukan menurut ketentuan hukum Gereja, sehingga tidak memenuhi syarat untuk disebut sebagai perkawinan yang sah secara kanonik.

Jika perkawinan tidak/ belum sah di hadapan Tuhan dan Gereja, maka makna yang seharusnya digambarkan dan diperbaharui dengan penerimaan Ekaristi itu, tidak ada. Karena jika ikatan perkawinan itu ternyata tidak/ belum sah di hadapan Tuhan, maka tidak ada ikatan yang bisa diperbaharui. Melangsungkan perkawinan tanpa mengikuti ketentuan Gereja, merupakan pelanggaran yang berat, sebab artinya, sebagai anggota keluarga besar Gereja Katolik, ia tidak mengindahkan ketentuan keluarganya sendiri dalam hal yang cukup penting dalam hidup, yaitu dalam hal perkawinannya. Pelanggaran ini termasuk dosa yang serius apalagi jika ia sampai pernah meninggalkan iman Katolik, demi melangsungkan perkawinan itu. Katekismus mengajarkan:

KGK 1385 Untuk menjawab undangan ini, kita harus mempersiapkan diri untuk saat yang begitu agung dan kudus. Santo Paulus mengajak supaya mengadakan pemeriksaan batin: “Barang siapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barang siapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya” (1 Kor 11:27-29) Siapa yang sadar akan sebuah dosa besar, harus menerima Sakramen Pengakuan sebelum ia menerima komuni.

Atas dasar inilah maka, orang Katolik yang menikah secara non- Katolik tidak dapat menerima Ekaristi, sebelum ia mengaku dosa dalam Sakramen Pengakuan dosa dan menjalankan penitensinya. Jika ia tetap menerima Komuni kudus, tanpa mengaku dosa sebelumnya, atau tanpa berkehendak untuk memperbaiki status perkawinannya di hadapan Tuhan, maka ia memakan roti/ meminum cawan Tuhan dengan tidak layak, dan karenanya berdosa terhadap Tubuh dan Darah Tuhan.

3) Maka, agar orang Katolik yang menikah di luar Gereja Katolik itu dapat menerima Komuni lagi, ia harus mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan Dosa dan mengadakan konvalidasi perkawinan. Silakan menghubungi pastor paroki, untuk mengadakan hal ini, setelah mendiskusikannya dengan pasangannya yang non- Katolik tersebut. Tentang hal konvalidasi Perkawinan, silakan klik di sini.

4) Namun, adakalanya konvalidasi perkawinan tidak dapat dilakukan, justru karena perkawinan yang sekarang tidak sah, sedangkan perkawinan terdahulu adalah yang sah: yaitu pasangan bercerai secara sipil, dan salah satu atau kedua-duanya menikah lagi dengan orang lain, sehingga artinya mereka hidup dalam ikatan perkawinan yang tidak sah di hadapan Tuhan. Maka dalam keadaan ini, mereka tidak diperkenankan untuk menerima Komuni kudus karena status dan kondisi hidupnya bertentangan dengan kesatuan kasih antara Kristus dengan Gereja-Nya -yang total dan setia seumur hidup- yang ditandai dengan Ekaristi/ Komuni kudus itu. Jika mereka diperbolehkan menerima Komuni, maka umat akan dibawa kepada kebingungan tentang ajaran Gereja tentang perkawinan yang tak terceraikan. Namun demikian, jika pasangan ini sungguh menyesal dan bertobat dari perbuatan mereka ini, mereka dapat mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan Dosa, yang dapat membuka jalan kepada penerimaan Ekaristi, asalkan mereka siap melaksanakan konsekuensinya, yaitu untuk tidak hidup sebagai suami istri dengan pasangan yang sekarang (live in perfect continence), artinya pantang melakukan tindakan- tindakan yang layak hanya bagi suami istri. (lih. Paus Yohanes Paulus II, Familiaris Consortio, 84). Dengan demikian, mereka melaksanakan perintah Tuhan yang memang menghendaki agar perkawinan bersifat monogam, dan yang sudah dipersatukan Allah tidak dapat diceraikan oleh manusia (lih. Mat 19:5-6).

Namun walaupun tidak dapat menerima Komuni Kudus, pasangan tetap dapat memperoleh rahmat dari Tuhan dalam perayaan Ekaristi. Mereka tetap dapat menerima Kristus secara rohani, istilahnya di sini adalah Komuni Rohani (Spiritual Communion)

Posted in Perkahwinan | Leave a comment

MENGAPA BAYI PERLU DIBAPTIS PADAHAL DIA BELUM TAHU APA-APA?

Ada tiga alasan yang membuat Gereja Katolik membaptis para bayi, yaitu: (1) karena perintah Kristus, (2) baptisan diperlukan untuk keselamatan, (3) orang tua mempunyai tanggung jawab untuk membawa anak-anaknya ke dalam Kerajaan Sorga. Kristus mengatakan bahwa tidak boleh ada seorangpun yang menghalangi anak-anak datang kepada-Nya, karena mereka adalah empunya Kerajaan Sorga (lih. Mat 19:14; Mar 10:14; Luk 18:16). Kalau ada yang menghalangi atau menyesatkan anak-anak, maka akan memperoleh hukuman yang berat (lih. Mat 18:6). Selanjutnya, Alkitab mengatakan bahwa barang siapa percaya dan dibaptis, maka dia akan diselamatkan (lih. Yoh 3:3-5; Mrk 16:16), karena mendapatkan pengampunan dosa -termasuk dosa asal- dan karunia Roh Kudus (lih. Kis 2:38). Melalui Baptisan, seseorang disatukan dengan kematian Kristus untuk dibangkitkan bersama dengan Kristus; sehingga ia dapat mati terhadap dosa dan hidup baru bagi Allah di dalam Kristus (lih. Rom 6:3-4,11).

Jika Kristus menginginkan agar anak-anak datang kepada-Nya dan tidak boleh ada yang menghalangi mereka, serta baptisan diperlukan untuk keselamatan, maka orang tua harus memberi bayi mereka dibaptis. Dengan demikian, para orang tua melaksanakan amanat agung Kristus untuk pemuridan, pembaptisan dan pengajaran (lih. Mat 28:19-20), sehingga bayi/ anak- anak mereka dapat memperoleh keselamatan.

Apakah dengan Baptisan bayi, maka orang tua merenggut kebebasan bayi mereka? Tentu saja tidak. Dalam tatanan kodrat, sudah selayaknya orang tua memberi obat kepada bayi yang sakit tanpa persetujuan bayi itu. Kalau hal ini dianggap benar, maka menjadi benar juga bahwa untuk keselamatan bayi yang mereka kasihi, mereka membaptis bayi mereka tanpa persetujuan bayi mereka. Di jaman para rasul, para murid juga membaptis keluarga (yang berarti bisa termasuk anak-anak dan bayi), seperti pada pembaptisan keluarga Lydia (Kis 16:15), kepala penjara di Filipi (Kis 16:33) dan Stefanus (1 Kor 1:16).

Dasar Kitab Suci:

Mat 19:14; Mar 10:14; Luk 18:16: Jangan menghalangi anak- anak datang kepada Tuhan

Mat 18:6: Hukuman bagi mereka yang menyesatkan anak- anak

Yoh 3:3-5: Syarat masuk Kerajaan Allah: dilahirkan kembali dalam air dan Roh (dibaptis)

Mrk 16:16: Syarat untuk diselamatkan: percaya dan dibaptis

Kis 2:38: Syarat untuk pengampunan dosa dan menerima Roh Kudus: bertobat dan dibaptis

Mat 28:19-20: Pesan terakhir Yesus: pemuridan, pembaptisan, pewartaan Injil

Kis 16:15, 33: Pembaptisan bersama- sama seisi rumahnya

1Kor 1:16: Paulus membaptis keluarga Stefanus (termasuk anak- anaknya)

Dasar Tradisi Suci:

St. Irenaeus dari Lyons (120-180) dalam Adversus Haereses (Book II, Chapter 22)

“Ia [Yesus] datang untuk menyelamatkan melalui Diri-Nya sendiri; semua, kataku: para bayi, anak- anak, orang muda maupun tua, yang melalui-Nya dilahirkan kembali di dalam Tuhan. Oleh karena itu, Ia melampaui semua usia, menjadi seorang bayi bagi para bayi untuk menguduskan mereka; menjadi seorang kanak- kanak untuk anak- anak, menguduskan mereka yang pada usia anak- anak…. [sehingga]Ia dapat menjadi guru yang sempurna di dalam segala sesuatu, sempurna tidak hanya dalam menyatakan kebenaran, tetapi juga sempurna di dalam segala usia.” (Against Heresies 2:22:4 [A.D. 189]).

Hippolytus (170-236) dalam bukunya The Antichrist

“Pertama- tama, baptislah anak- anak, dan jika mereka dapat berbicara, biarkanlah mereka berbicara. Kalau tidak, biarlah para orang tua atau kerabat mereka berbicara atas nama mereka.” (The Apostolic Tradition 21:16 [A.D. 215]).

Origen (185-254) dalam De Principiis (Book IV)

“Gereja menerima dari para rasul, tradisi untuk memberikan Baptisan bahkan kepada para bayi. Para rasul, yang dipercayakan rahasia- rahasia sakramen- sakramen ilahi, mengetahui bahwa pada setiap orang terdapat dosa asal, yang harus dicuci/ dibersihkan melalui air dan Roh.” (Commentaries on Romans 5:9 [A.D. 248]).”Setiap jiwa yang dilahirkan dalam daging tertanam oleh kecederungan berbuat jahat dan dosa …. Di dalam Gereja, Baptisan diberikan untuk penghapusan dosa, dan sesuai dengan penerapan Gereja, Baptisan diberikan bahkan kepada bayi- bayi….”(Homilies on Leviticus 8:3 [A.D. 248]).

St. Cyprian dari Carthage (200-270) dalam Epistle 58

“Tentang apa yang berhubungan dengan kasus bayi- bayi: Kamu [Fidus] berkata bahwa mereka tidak harus dibaptis di hari kedua atau ketiga setelah kelahiran mereka, …., dan bahwa kamu tidak berpikir bahwa seseorang harus dibaptis dan disucikan di dalam waktu delapan hari setelah kelahirannya. Di dalam konsili kami nampaknya tidak demikian. Tidak seorangpun yang setuju kepada pandangan yang menurut pemikiranmu harus dilakukan. Sebaliknya, kami semua menilai bahwa belas kasihan dan rahmat Allah tidak boleh ditahan/ diingkari kepada siapapun yang dilahirkan.” (Letters 64:2 [A.D. 253]).”Jika, dalam kasus pendosa yang terparah, dan mereka yang pada mulanya banyak berdosa melawan Tuhan, ketika sesudahnya mereka menjadi percaya, penghapusan dosa mereka diberikan dan tak seorangpun yang dihalangi dari Pembaptisan dan rahmat, betapa lebih penting, bahwa seorang bayi tidak dihalangi, yang baru saja dilahirkan, dan belum berbuat dosa, kecuali bahwa karena dilahirkan di dalam daging seperti Adam, ia telah menerima akibat dari kematian [dosa asal]dari kelahirannya [sebagai manusia keturunan Adam]. Untuk alasan ini, ia [seorang bayi]lebih mudah untuk menerima penghapusan dosa, sebab dosanya yang diampuni adalah bukan dosanya sendiri, tetapi dosa orang lain [dosa asal akibat Adam]. (ibid., 64:5).

St. Gregorius Nazianzen (325-389) dalam Oration 40

“Apakah kamu mempunyai bayi? Jangan biarkan dosa mengambil kesempatan, melainkan biarlah bayi itu dikuduskan… Dari usianya yang masih muda, biarlah ia dikonsekrasikan oleh Roh Kudus….” (Oration on Holy Baptism 40:7 [A.D. 388]).

St. Yohanes Krisostomus (347-407) dalam Homily 47 tentang Kisah para rasul

“Baiklah,” beberapa orang akan berkata, “bagi mereka yang meminta Baptisan, tetapi apa yang kau katakan tentang mereka yang masih anak- anak, dan tidak sadar akan kekurangan ataupun akan rahmat? Apakah kami harus membaptis mereka juga?” ‘Tentu saja’ [jawab saya]… Lebih baik mereka dikuduskan [walaupun mereka]tidak menyadarinya, daripada mereka bertumbuh [menjadi besar]tidak bermeterai dan tidak menerima inisiasi.” (ibid.,40:28).”Kamu melihat begitu banyaknya keuntungan Baptisan, dan beberapa orang ebrpikir rahmat surgawi-nya hanya terdiri dari penghapusan dosa, tetapi kami sudah menjabarkan sepuluh hal kehormatan yang dikaruniakannya! Untuk alasan ini kami membaptis bahkan bayi- bayi, meskipun mereka tidak dirusakkan oleh dosa-dosa pribadi, sehingga mereka dapat memperoleh kekudusan, kebenaran, pengangkatan sebagai anak-anak Allah, sebagai ahli waris, saudara- saudara Kristus, dan bahwa mereka dapat menjadi anggota- anggota Kristus”

(Baptismal Catecheses in Augustine, Against Julian 1:6:21 [A.D. 388]).

St. Agustinus dari Hippo (354-430 AD) dalam The City of God (Book XXII)

“Cyprian tidak mengeluarkan dekrit yang baru tetapi mempertahankan kepercayaan Gereja yang paling kuat untuk mengkoreksi beberapa orang yang berpikir bahwa bayi- bayi tidak harus dibaptis sebelum hari kedelapan setelah kelahiran mereka …. Ia setuju dengan para sesama uskup bahwa seorang anak dapat dibaptis dengan layak/ tepat segera setelah ia lahir.” (Letters 166:8:23 [A.D. 412]).

St. Agustinus dari Hippo (354-430 AD) dalam Tractate 6 (John 1:32-33)

“Dengan rahmat ini bayi- bayi yang dibaptis juga digabungkan ke dalam tubuh-Nya [Kristus] bayi- bayi yang tentu saja belum dapat meniru siapapun. Kristus, yang di dalam-Nya semua orang memperoleh hidup … memberikan juga rahmat yang paling tersembunyi dari Roh-Nya, rahmat yang dengan rahasia Ia alirkan bahkan kepada bayi- bayi …. Ini adalah hal yang istimewa sehingga kaum Kristen Punik (Afrika Utara) menyebut Baptisan keselamatan dan sakramen Tubuh Kristus sebagai bukan yang lain selain kehidupan. Darimanakah hal ini diperoleh, kalau bukan dari … tradisi apostolik, yang olehnya Gereja Kristus meneruskan dengan teguh bahwa tanpa Baptisan dan partisipasi pada meja altar Tuhan, adalah tidak mungkin bagi seorangpun untuk memperoleh Kerajaan Allah atau kepada keselamatan dan kehidupan kekal? Ini adalah kesaksian Kitab Suci juga …. Jika ada orang yang mempertanyakan mengapa anak- anak yang dilahirkan dari mereka yang sudah dibaptis juga harus dibaptis, biarlah mereka memperhatikan hal ini…. Sakramen Pembaptisan adalah paling pasti sakramen kelahiran kembali (Forgiveness and the Just Deserts of Sin, and the Baptism of Infants 1:9:10; 1:24:34; 2:27:43 [A.D. 412]).

St. Agustinus dari Hippo (354-430 AD) dalam Tractate 15 (John 4:1-42)

“Kebiasaan Bunda Gereja dalam hal pembaptisan bayi tentu tidak boleh dicaci/ dicemooh, atau dianggap sebagai sesuatu yang berlebihan, atau dipercaya bahwa tradisi tersebut adalah sesuatu yang bukan apostolik.” (The Literal Interpretation of Genesis 10:23:39 [A.D. 408]).

Dasar Magisterium Gereja:

Katekismus Gereja Katolik (KGK, 403, 1231, 1250, 1251, 1252, 1282)

Konsili Chalcedon (451)

“Siapapun yang mengatakan bahwa bayi- bayi yang baru lahir tidak harus dibaptis, atau mengatakan bahwa mereka memang dibaptis untuk menerima penghapusan dosa namun mereka tidak menerima apapun dari dosa asal Adam, yang dihapus di dalam permandian kelahiran kembali … biarlah ia menjadi anathema [diekskomunikasikan]. Sebab apa yang yang dikatakan oleh rasul Paulus, “Melalui satu orang, dosa masuk ke dunia, dan kematian melalui dosa, dan demikian diteruskan kepada semua manusia, di dalamnya semua telah berdosa’ (Rom 5:12), tidak dapat dimengerti dengan pemahaman yang lain daripada yang diajarkan dan disebarluaskan oleh Gereja Katolik. Sebab berkenaan dengan ketentuan iman bahkan bayi- bayi, yang di dalam diri mereka sendiri belum dapat melakukan dosa apapun, sungguh- sungguh dibaptis ke dalam penghapusan dosa, sehingga apa yang mereka terima dari kelahiran dapat dibersihkan oleh kelahiran kembali.” (Canon 3 [A.D. 416]).

Posted in Keselamatan | Leave a comment

Mengapa Bunda Maria disebut Ratu surga?

Gelar Bunda Maria sebagai Ratu surga berhubungan dengan gelar Bunda Maria yang lainnya, yaitu bahwa Bunda Maria adalah Bunda Kristus yang adalah Sang Raja di atas segala raja di bumi ini (lih. Why 1:5).

1. Kitab Suci mengajarkan bahwa para kudus di surga akan menerima mahkota kehidupan, terlebih Bunda Maria yang adalah orang kudus yang terbesar.

Rasul Paulus mengajarkan bahwa Tuhan memberikan mahkota kebenaran kepada orang- orang yang telah mengakhiri pertandingan dalam kehidupan ini dengan baik dengan memelihara iman (lih 2 Tim 4:8). Jika ini berlaku untuk Rasul Paulus, hal ini pastilah lebih lagi berlaku untuk Bunda Maria, yang ketaatan imannya terus terpelihara sejak mengandung Tuhan Yesus sampai mendampingi-Nya di kaki salib-Nya. Kesetiaan Bunda Maria yang bertahan sampai akhir, mendatangkan mahkota kehidupan yang dijanjikan Tuhan (lih. Yak 1:12, 1 Pet 5:4, Why 2:10). Janji mahkota kehidupan bagi orang beriman ini digenapi secara istimewa dalam diri Bunda Maria, seorang yang sungguh beriman dan telah lebih dahulu dipilih Allah untuk melahirkan Kristus Putera-Nya. Di dalam Maria dipenuhi janji Tuhan yang memberikan, “kerajaan yang mulia dan mahkota yang indah dari tangan Tuhan” kepada orang-orang yang benar (Keb 5:16).

2. Sabda Tuhan menggambarkan Bunda Maria sebagai Perempuan yang bermahkota dua belas bintang

 Kitab Wahyu 12 menyebutkan penglihatan Rasul Yohanes akan surga di mana terlihat Sang Tabut Perjanjian, yaitu seorang perempuan yang berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan bermahkotakan dua belas bintang” (lih. Why 11: 19- Why 12: 1). Tanda besar di langit itu, yaitu perempuan tersebut, adalah Bunda Maria, sebab Anak laki- laki yang dilahirkannya dan yang akan menggembalakan semua bangsa itu adalah Kristus.

3. Dalam Kitab Suci, disebutkan bahwa ratu kerajaan yang duduk di sebelah kanan raja adalah bunda sang raja

Dalam Perjanjian Lama, ratu kerajaan bukanlah istri sang raja, namun adalah ibu sang raja, yang disebut geb?iyra?h (ibu suri). Sebab di masa itu raja dapat mempunyai lebih dari satu istri, sedang ia hanya mempunyai satu ibu. Geb?iyra?h ini dihormati bersama raja (lih. Yer 13:18), dan namanya dicantumkan bersama dengan setiap raja Yehuda (1 Raj 14:21, 15:9-10, 22:42; 2 Raj 12:2; 14:2; 15:2; 15:33; dst), yang merupakan keturunan Raja Daud.

Dalam kitab Raja- raja yang pertama, dikatakan bahwa Ratu Batsyeba menghadap Raja Salomo dan Raja memberikan tempat duduk/ tahta kepada bundanya di sebelah kanan-Nya (lih. 1 Raj 2:19). Kitab Mazmur juga mengisahkan adanya permaisuri yang berpakaian emas, berada di sebelah kanan sang Raja, yang mengacu kepada Kristus (lih. Mzm 45:10), yang tahtanya tetap untuk selama- lamanya (Mzm 45:7; lih. Luk 1:32-33). Dengan demikian gelar Bunda Maria sebagai Ratu Surga berhubungan dengan perannya yang istimewa dalam sejarah keselamatan, yaitu sebagai Bunda yang melahirkan Kristus Sang Raja Penyelamat umat manusia (lih. Luk 1:31-32).

Maka gelar ‘Ratu Surga’ (gebirah) yang mengacu kepada Bunda Maria tidak sama dengan istilah ratu surga (melek?et?:) yang disebut dalam Yer 7:18, 44:17. Sebab, gebirah mengacu kepada ibu sang raja dari keturunan Yehuda, sedangkan melek?et?: mengacu kepada dewi kesuburan bangsa-bangsa Semit, yaitu Astoret atau Astarte.

Dasar Kitab Suci

Why 12:1: Seorang perempuan berselubungkan matahari dan bermahkotakan dua belas bintang.

1 Raj 2:19: Raja Salomo memberikan tempat kepada Batsyeba, ibu-Nya, di sebelah kanannya; demikian pula Kristus, kepada Bunda-Nya.

Neh 2:6: Bunda Sang Raja sebagai Ratu, duduk di sisi Raja.

Mzm 45:10: Permaisuri berpakaian emas dari Ofir berdiri di sebelah kanan Sang Raja- [yang adalah Kristus]

2 Tim 4:7-8: Rasul Paulus mengatakan bahwa baginya telah tersedia mahkota kebenaran, karena telah memelihara iman.

Yak 1:12: Mereka yang bertahan sampai kesudahannya akan menerima mahkota kehidupan.

1 Pet 5:4: Gembala Agung akan memberikan kamu mahkota yang tidak dapat layu.

Why 2:10: Yesus akan memberikan mahkota kehidupan kepada umat beriman.

Keb 5:16: Orang- orang benar akan menerima mahkota yang indah dari tangan Allah.

Dasar Tradisi Suci

St. Athanasius (296-373): “Jika Sang Anak adalah Raja, maka ibu yang melahirkan-Nya adalah layak dan sungguh pantas disebut sebagai Ratu dan yang berkuasa.” (seperti dikutip oleh St. Alfonsus Liguori, dalam The Glories of Mary, ch. 1.i)

St. Ephraim (306-373 AD): “Wanita Mulia dan Surgawi, Majikan, Ratu, lindungi dan jagalah saya di bawah sayapmu, supaya jangan Setan, penabur kehancuran, berkuasa atasku, supaya jangan musuh jahatku berjaya atasku.” (Diterjemahkan dari St. Ephraim, Oratio ad Ssmam Dei Matrem; Opera omnia, Ed. Assemani, t. III (graece), Romae, 1747, p. 546.)

St. Andreas dari Krete (abad ke 7): “Bunda-Nya yang tetap perawan yang dari rahimnya, Tuhan mengambil rupa manusia, kini dipindahkan oleh-Nya dari tempat tinggalnya di dunia menjadi Ratu umat manusia.” (St. Andrew of Crete, Homily 2 on the Dormition of the Blessed Mother of God, PG 97,1079b, dikutip oleh Paus Pius XII dalam Ad Caeli Reginam.) Selanjutnya ia berkata, “Ratu dari segenap umat manusia, setia terhadap arti dari namanya itu, yang ditinggikan di atas segalanya, walau tidak menjadi di atas Tuhan sendiri.” (Homily 3 on the Dormition, Ibid.)

St. Bernardinus dari Siena (1380-1444): “Ketika Maria setuju untuk menjadi Bunda dari Sabda Ilahi, maka oleh persetujuannya ia memperoleh gelar Ratu bagi dunia dan semua ciptaan.” (seperti dikutip oleh St. Alfonsus Liguori, dalam The Glories of Mary, ch. 1.i)

St. Louis de Montfort (1673-1716): “Tuhan menjadikan Maria ratu surga dan bumi; pemimpin pasukan-Nya …. pembagi rahmat-Nya, pekerja mukjizat-mukjizat-Nya, penghancur musuh-Nya dan penolong yang setia di dalam pekerjaan- pekerjaan-Nya dan kemenangan-Nya.”…. “Betapa tepatnya, ketika St. Albertus Agung menghubungkan sejarah Ratu Ester dari Kitab Ester sebagai gambaran Ratu Maria kita!…. Ia [Ester] berdiri di hadapan Raja Ahasuerus dan memohon bagi bangsanya: “Jika engkau berkenan kepadaku, O Raja, kabulkanlah permohonanku demi bangsaku.” Lalu, karena kasihnya kepada Ester, Ahasuerus mengabulkan permohonannya dan mendekritkan keselamatan bagi bangsa Yahudi. Maka, bagaimana Tuhan dapat menolak Bunda Maria, yang dikasihi-Nya dengan limpah, ketika ia memohon bagi bangsanya, yaitu para pendosa yang mempercayakan diri mereka kepadanya?” (St. Alfonsus Liguori, The Glories of Mary, ed. Msgr Charles Dollen, (New York: Alba house, 1988) p. 4-5)

Dasar Magisterium

Paus Pius XII (1876- 1958) dalam Ad Caeli Reginam:

“Ia, Sang Putera Allah, memantulkan kemuliaan, keagungan dan kekuasaan kerajaan-Nya kepada Bunda Surgawi-Nya, sebab setelah dihubungkan dengan Sang Raja dari para Martir di dalam karya Penebusan umat manusia sebagai Bunda dan kawan sekerja (Co- operatix), ia [Bunda Maria] tetap selamanya diasosiasikan dengan Dia, dengan kuasa yang hampir tak terbatas, di dalam pembagian rahmat Allah yang mengalir dari Penebusan Kristus. Yesus adalah Raja sepanjang kekekalan, oleh karena kodratnya maupun haknya sebagai Pemenang: melalui Dia, dengan Dia dan di bawah Dia, Maria adalah Ratu oleh karena rahmat Tuhan, oleh hubungan ilahi, oleh haknya sebagai pemenang dan oleh pemilihan yang sifatnya khusus…. (Homily 2 on the Dormition of the Blessed Mother of God, PG 97,1079b, quoted by Pius XII in Ad Caeli Reginam ).

Paus Pius XII dalam Konstitusi Apostolik, Munificentissimus Deus (1950)

“Sering ada teolog dan pengkhotbah yang mengikuti jejak Bapa Gereja yang suci (lih. St. John Damascene, op. cit., Hom. II, n. 11; St. Modestus, the Encomium) telah dengan bebas menggunakan kejadian dan ekspresi yang diambil dari Kitab Suci untuk menjelaskan iman mereka tentang diangkatnya Maria ke surga…. beberapa menggunakan perkataan dari Kitab Mazmur: “Bangunlah O Tuhan ke tempat peristirahatan-Mu, Engkau dan tabut yang telah kau kuduskan (lih. Mzm 131:8); dan telah melihat Tabut Perjanjian yang dibangun atas kayu yang tidak rusak dan ditempatkan di Bait Allah, sebagai gambaran dari tubuh Perawan Maria yang termurni, yang dijaga dan dibebaskan dari segala kerusakan kubur dan diangkat kepada kemuliaan surgawi…. mereka juga menjabarkan ia [Maria] sebagai Sang Ratu yang masuk dengan kemuliaan ke dalam ruang- ruang surga dan duduk di sisi kanan Sang Penebus Ilahi…. (MD 26)

“..Keserupaan antara Bunda Allah dan Putera Ilahinya, dalam hal kemuliaan dan martabat tubuh dan jiwanya – keserupaan yang mencegah kita untuk berpikir bahwa sang Ratu surga terpisah dari Sang Raja surga- membuat suatu keharusan bahwa Maria “harus berada hanya di mana Kristus berada”. (St. Bernardine of Siena, In Assumptione B. Mariae Virginis, Sermo 11.) Lagipula, adalah suatu yang masuk akal dan layak bahwa tidak hanya jiwa dan tubuh laki- laki saja, tetapi juga jiwa dan tubuh perempuan harus memperoleh kemuliaan surgawi….” (MD 33)

“Oleh karena itu, Bunda Tuhan yang terhormat, dari segala kekekalan digabungkan secara tersembunyi dengan Yesus Kristus …. akhirnya memperoleh sebagai puncak tertinggi dari segala haknya yang istimewa, bahwa ia harus dijaga agar bebas dari kerusakan kubur dan bahwa seperti Puteranya, setelah mengalahkan maut, ia dapat diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surga, di mana sebagai Ratu, ia duduk di dalam kemegahan di sisi kanan Putera-Nya, Raja segala masa yang kekal (lih. 1 Tim 1:17, MD 40)

Konsili Vatikan II, Konstitusi tentang Gereja, Lumen Gentium:

“Akhirnya Perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat melalui kemuliaan di Sorga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan (lih. Why 19:16), yang telah mengalahkan dosa dan maut.” (LG 59)

Katekismus Gereja Katolik 966:

KGK 966 “Akhirnya Perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat memasuki kemuliaan di surga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan, yang telah mengalahkan dosa dan maut” (LG 59) Bdk. Pengumuman dogma mengenai Maria diangkat ke surga oleh Paus Pius XII, 1950: DS 3903). Terangkatnya Perawan tersuci adalah satu keikutsertaan yang istimewa pada kebangkitan Puteranya dan satu antisipasi dari kebangkitan warga-warga Kristen yang lain.

Posted in Bunda Maria | Leave a comment

BIJAK MEMILIH YANG TERBAIK

RENUNGAN HARI MINGGU BIASA KE – 17 ( A )

1raj 3:5.7-12; Rom 8:28-30; Mat 14:13-52

Adalah konon seorang ahli politik mengadakan suatu jamuan malam di kediamannya sempena menyambut kemenangannya dalam pilihan raya. Beliau menghiburkan tetamunya dengan mendeklamasikan beberapa buah sajak tentang kemenangan dan kegemilangan. Kemudian dia bertanya kepada para tetamunya sajak yang mana satu yang ingin mereka dengarkan kembali. Oleh kerana tidak ada yang meminta, maka beliau menunjukkan jarinya secara rambang agar orang yang ditunjuk itu harus memintanya bersajak kembali. Kebetulan yang terkena telunjuknya adalah seorang sister yang tersipu-sipu duduk jauh dipojok ruang jamuan tersebut, bertanya padanya sama ada dia tahu Mz 23. “Ya, saya tahu,” katanya, sambil berbisik pada isterinya agar segara mengambil Kitab Sucinya, “Dengan syarat apabila saya selesai, engkau pula mendeklamasikannya untuk kami.”

Apabila sister tersebut menerima permintaan beliau, maka beliau mendeklamasikan Mazmur tersebut dengan nada dan intonasi yang sangat menarik: “Tuhan adalah Gembalaku, takkan kekurangan aku …” Para tetamu memberi tepukan gemuruh setelah ahli politik tersebut selesai mendeklamasikannya.

Kemudian tibalah giliran sister tersebut. Dia maju ke hadapan dan mendeklamasikan Mazmur yang sama. Kali ini tidak ada tepukan yang kedengaran, hanya keheningan dan kelihatan ramai yang mengesat air mata tanda terharu. Setelah hening beberapa lama, ahli politik tersebut berdiri dan berkata, “Para hadirin sekalian, saya harap anda sekalian faham apa yang terjadi pada ketika ini. Saya memang tahu dan biasa dengar Mazmur 23 ini, tetapi sister ini lebih tahu dan dekat dengan Sang Gembala tersebut.”

Kisah sister tersebut tadi adalah tentang seseorang yang telah menemukan mutiara yang indah seperti kisah dalam Injil hari ini, iaitu kerajaan Yesus di dalam hatinya. Untuk itulah dia meninggalkan segala sesuatu dan menerima Yesus Kristus sebagai hartanya yang termahal.

Perkara inilah yang ingin diajarkan Yesus kepada kita apabila Dia menyampaikan perumpamaan tentang harta terpendam dan mutiara yang berharga pada hari ini dengan soalan, “Mengertikah kamu semua ini?” (ay 51). Dia mahu kita melakukan perkara yang sama mencari ‘harta’ tersebut untuk menjadi milik kita sama seperti sister dalam kisah tadi. Sebab, jika tidak demikian, maka besar kemungkinan kita tidak akan dapat memperolehinya kerana diganggu oleh keinginan-keinginan yang sifatnya sementara belaka. Maka nampaknya Yesus pada hari ini mengajarkan kita untuk tahu apa yang diperlukan dalam hidup ini dan mencarinya daripada sumber atau orang yang berkenaan. Dalam hal ini pengalaman Salomo dalam petikan pertama tadi memberi kita banyak nasihat.

Allah menampakkan diri-Nya kepada Salomo di dalam mimpi dengan suatu tawaran yang sukar dilepaskannya: “Mintalah apa saja dan Aku akan memberikannya kepadamu” (1Raj 3:5). Mungkin jika ahli politik itu tadi diberi tawaran sedemikian pasti dia meminta cek kosong yang boleh ditulisnya dengan jumlah wang mengikut kemahuannya. Kemudian, sebagai seorang ahli politik, dia pasti meminta supaya diberi jawatan tertinggi – menjadi Ketua Menteri atau menjadi Perdana Menteri pula. Tetapi Salomo tidak mahu itu semua. Jawapannya sangat menentukan hidupnya yang seterusnya: “… aku masih muda dan belum berpengalaman” (1Raj 3:7). Salomo tahu kelemahannya. Sikap yang demikian inilah yang telah membuat dia meminta Tuhan sesuatu yang sungguh menjadi keperluan hidupnya walaupun Salomo masih muda, dan tahu bahawa akan menggantikan raja Daud, namun dia tahu apa yang sungguh dia perlukan: “Berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membezakan antara yang baik dan yang jahat” (1Raj 3:9).

Salomo sebenarnya menghadapi keadaan yang sama dengan kita. Dia harus memilih antara keperluan yang sebenar dan keinginan-keinginan daging yang silih berganti mengganggu fikirannya. Bukankah perkara ini merupakan aspek kehidupan kita – memilih antara keperluan dan sekadar keinginan belaka? Setiap masa kita didedahkan dengan iklan-iklan yang menggoda kita untuk memuaskan keinginan-keinginan kita. Kita sering dipaksa secara halus untuk membeli produk-produk tertentu yang kononnya pasti membawa kebahagiaan. “Belilah kereta ini, maka engkau kelihatan kaya, muda dan ceria!” “Pakailah pakaian jenama ini agar engkau kelihatan ayu, anggun, muda!”

Sayangnya kita mendapati diri kita dalam keadaan yang sama dengan pedagang yang mencari mutiara dalam Injil tadi. Nampaknya sudah menjadi kebiasaan terutama kaum muda terlibat dalam pelbagai kegiatan yang merosakkan keperibadian sendiri. Kita banyak dipengaruhi oleh fikiran bahawa jalan ke kebahagiaan adalah dengan memperolehi seberapa banyak harta milik tanpa mempedulikan sama ada ianya dimilki secara halal atau sebaliknya.

Tetapi jika segi-segi kerohanian dilupakan, maka akhirnya hidup ini terasa kosong. Hidup moden nampaknya lebih terarah kepada ‘mencari harta yang terpendam di ladang.’ Sebab kerajaan Allah itu bagi orang yang terikat pada harta duniwai bagaikan sesuatu yang terkubur jauh di dalam tanah sehingga mereka puas hanya pada apa yang boleh dimiliki sementara sahaja. Tetapi Yesus menjanjikan kita kehidupan kekal.

Setiap hari Tuhan bertanya pada kita masing-masing: “Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu.” Marilah berdoa dan saling mendoakan agar kita mendapat kebijaksanaan untuk mengetahui apa yang sungguh kita perlukan dalam hidup ini, “Sebab Yesus pernah berjanji: “Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mt 6:33). (JL)

Cadangan soalan untuk refleksi peribadi dan perkongsian KKD.

1. Apakah harta yang paling berharga yang sentiasa ada di dekat dan di dalam diri sekarang ini?

2. Untuk mendapatkan harta yang ‘kekal,’ maka kita perlu bijaksana memilih. Mengapakah kita perlu memohon kebijaksanaan daripada Allah?

Cadangan aktiviti mimggu ini.

Mulai minggu ini mulakan hari anda dengan memohon kebijaksanaan daripada Roh Kudus agar dapat memilih yang baik. Berdoalah kepada Roh Kudus setiap kali anda membuat pilihan atau apa-apa keputusan yang harus anda putuskan.

 

Posted in Spiritual Food | Leave a comment

TENTANG PENCUCIAN KAKI PADA KHAMIS PUTIH

Belakangan ini ada banyak orang bertanya, mengapa dalam dua tahun ini, di perayaan Ekaristi hari Kamis Putih, Paus melakukan hal yang di luar kebiasaan: tahun lalu Paus membasuh kaki 12 orang penghuni penjara remaja, di antaranya 2 orang remaja putri, dan salah satunya bahkan non-Katolik. Lalu tahun ini, Paus juga membasuh kaki 12 orang di panti jompo dan cacat, beberapa di antaranya non-Katolik dan seorang wanita.

Lalu orang bertanya, apakah sebenarnya Paus boleh melakukan hal itu, adakah ketentuannya?

Untuk membahas tentang hal ini, pertama- tama perlu kita sadari terlebih dahulu bahwa kunjungan ke penjara dan ke panti jompo merupakan perbuatan yang baik dan diajarkan oleh Tuhan Yesus (lih. Mat 25:36-40). Maka di sini Paus nampaknya ingin menekankan misinya sebagai pelayan dan pembawa Kabar Gembira kepada segala bangsa. Namun tidak bisa dipungkiri, tindakan ini menimbulkan beberapa pertanyaan. Beberapa pertanyaan dan pembahasan di bawah ini, kami sarikan dari beberapa sumber, yaitu dari penjelasan apologist Katolik, Jimmy Akin, yang selengkapnya dapat dibaca di link ini, silakan klik, dan juga dari sumber lainnya, yaitu penjelasan ayat-ayat tentang pembasuhan kaki :

1. Apakah yang dikatakan dalam dokumen Gereja tentang pencucian kaki?

Terdapat dua dokumen kunci yang menyebutkan tentang pencucian kaki, demikian:

1. Dokumen yang menuliskan ketentuan perayaan yang terkait dengan Paskah, yang disebut Paschales Solemnitatis, yang dikeluarkan oleh Congregation of Divine Worship (Kongregasi Penyembahan Ilahi), 1988:

“51. Pencucian kaki dari para laki-laki dewasa yang terpilih, menurut tradisi, dilakukan pada hari ini [Kamis Putih], untuk menyatakan pelayanan dan cinta kasih Kristus, yang telah datang “bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani.”

Tradisi ini harus dipertahankan, dan pentingnya maknanya dijelaskan secara sepantasnya.”

2. Dokumen Roman Missal/ Missale Romawi:

10. Setelah Homili, ketika alasan pastoral menyarankan, pencucian kaki dilangsungkan.

Para laki-laki dewasa yang telah dipilih, diarahkan oleh para pelayan untuk duduk di kursi yang telah dipersiapkan di tempat yang layak. Lalu Imam (menanggalkan kasula jika perlu) mendatangi satu persatu, dan dengan bantuan para pelayan, menuangkan air kepada setiap kaki mereka dan mengeringkannya.

Sementara itu sejumlah antifon berikut ini atau lagu-lagu lain yang sesuai dinyanyikan. [...]

13. Setelah Pencucian Kaki, Imam mencuci dan mengeringkan tangannya, mengenakan kasulanya kembali dan kembali ke kursinya dan ia melanjutkan dengan Doa Umat.

Maka di sini dapat dilihat bahwa:

1. Teks memang mengatakan bahwa yang dibasuh/ dicuci kakinya adalah laki-laki. Istilah Latin yang digunakan adalah “viri“, yang artinya adalah laki-laki dewasa.

2. Ritus ini adalah optional , bukan keharusan melainkan disarankan (ketika alasan pastoral menyarankan).

3. Tidak disebutkan berapa banyak jumlah orang yang dicuci kakinya. Tidak dikatakan harus 12 orang.

4. Antifon yang disertakan di sana tidak menyebutkan “rasul”. Antifon tersebut menggunakan istilah yang lebih umum, yaitu “murid”, atau kalau tidak, tidak menyebutkan istilah apapun, hanya menunjukkan teladan Yesus untuk kita ataupun perintah-Nya untuk mengasihi satu sama lain.

2. Bagaimana keputusan Paus Fransiskus terkait dengan dokumen ini?

Keputusan Paus Fransiskus dalam hal ini memang tidak sesuai dengan apa yang ditentukan oleh teks dokumen. Dalam kunjungannya ke penjara remaja, Paus memutuskan untuk tidak membasuh laki-laki dewasa, namun remaja putra dan termasuk dua orang remaja putri. Namun fakta bahwa salah satu dari mereka adalah muslim, tidak bersangkutan dengan teks, sebab teks tidak menyebutkan apakah yang dibasuh kakinya harus Katolik. Adalah wajar jika orang menyimpulkan bahwa yang dibasuh kakinya semestinya Katolik, namun secara eksplisit memang tidak disebutkan.

Juga, dari point 1, kita ketahui bahwa hal pembasuhan kaki bukanlah merupakan bagian yang mutlak harus ada dalam liturgi perayaan Kamis Putih. Dikatakan di sana, adalah bilamana/ ketika alasan pastoral menyarankan (“where a pastoral reason suggest it“). Nampaknya, Paus Fransiskus memutuskan untuk melakukannya dengan cara yang berbeda dari para Paus pendahulunya, demi menyampaikan maksud pastoral untuk menjangkau kaum muda yang tersisih di penjara dan juga kaum manula, tanpa membeda-bedakan agamanya. Pada akhirnya Paus, sebagai wakil Kristus, berhak untuk menginterpretasikan teks dokumen ketentuan Gereja, sesuai dengan maksud utamanya.

3. Apakah Paus melakukan hal itu karena mengembalikan tradisi “Mandatum Pauperam?”

Gereja abad-abad awal telah mempunyai kebiasaan membasuh kaki pada perayaan Kamis Putih. Caremoniale episcoporum (ii, 24) menyerahkan kepada Uskup keputusan untuk membasuh kaki 13 orang miskin -yang kemudian dikenal sebagai tradisi Mandatum Pauperam- atau membasuh 13 orang yang ada di bawah kepemimpinannya, menurut kebiasaan Gereja setempat yang dipimpinnya. Tahun 694 di Sinoda Toledo semua uskup dan imam superior diharuskan melakukan pembasuhan kaki, orang-orang yang ada di bawah kepemimpinan mereka. Di abad ke-12, dimulai kebiasaan membasuh kaki 12 orang sub-diakon (Mandatum Fratrum) oleh Paus dalam perayaan Misa yang dipimpinnya, dan kemudian Paus membasuh kaki 13 orang miskin (Mandatum Frateram) setelah makan malam. Nampaknya di zaman itu terdapat dua jenis pembasuhan kaki pada hari Kamis Putih tersebut, untuk penjabaran selanjutnya, silakan klik di link ini.

Mungkinkah tradisi membasuh kaki kaum miskin/ tersisih ini yang ingin dilakukan oleh Paus? Mungkin saja. Hanya saja karena Paus memasukkan upacara pembasuhan kaki kaum tersisih ini ke dalam liturgi Kamis Putih, maka banyak orang mempertanyakannya. Namun di sini kita melihat secara obyektif, bahwa hal mencuci kaki para kaum tersisih itu bukan ide Paus yang baru ada saat ini. Hal itu sudah dilakukan sejak lama, hanya saja, dulu memang tidak dilakukan di dalam perayaan Ekaristi.

4. Jika Paus melakukan hal yang melampaui apa yang dikatakan oleh Missale Romawi, apakah boleh?

Ya, boleh saja. Paus tidak butuh meminta izin untuk membuat kekecualian tentang bagaimana suatu ketentuan gerejawi itu dipenuhi. Sebab Paus adalah pembuat hukum Gereja, maka ia merangkap sebagai legislator, interpreter dan executor/ pelaksana hukum tersebut, yang dapat memutuskan untuk melakukan sesuatu sesuai dengan pertimbangan kebijaksanaannya sendiri untuk menyampaikan pesan utama Injil, sesuai dengan keadaan Gereja pada saat tertentu.

Juru bicara kepausan, Fr. Thomas Rosica, mengatakan bahwa maksud Paus Fransiskus merayakan Misa Kamis Putih di penjara Roma (tahun 2013) adalah untuk menekankan esensi makna Injil di hari Kamis Putih, dan suatu tanda sederhana dan indah dari seorang bapa yang ingin merangkul semua yang terpinggirkan di masyarakat…. Itu hendaknya dipandang sebagai tanda sederhana dan spontan dari seorang Uskup Roma, untuk maksud menunjukkan kasih, pengampunan dan belas kasih.

Adalah hak Paus untuk memutuskan sesuai dengan keadaan Gereja di Roma, bagaimana ia hendak menyampaikan maksud utama pesan Injil di hari Kamis Putih tersebut.

5. Kalau Paus dapat melakukan hal itu, dapatkah imam yang lain melakukannya?

Secara teknis, tidak. Jika seorang Paus menilai bahwa sesuai dengan keadaan khusus dari perayaan yang dipimpinnya maka sebuah kekecualian dibuat, namun hal itu tidak menciptakan pola hukum yang memperbolehkan semua Uskup dan imam yang lain untuk melakukan hal yang sama.

Sebab tidak semua orang memiliki keadaan seperti Paus. Mereka tidak mempunyai keadaan pastoral dan otoritas hukum yang sama dengan Paus, maka wewenang merekapun berbeda dengan wewenang Paus dalam hal ini.

6. Bagaimana kita memahami ritus ini?

Umumnya orang berpandangan bahwa ritus pembasuhan kaki berhubungan dengan peringatan Yesus membasuh kaki ke-12 murid-Nya, dan karena itu, disebutkan sebagai alasan mengapa yang dibasuh kakinya adalah hanya laki-laki. Namun teks dokumen di atas (lihat no.1) memang tidak menyebutkan angka 12 orang. Kisah pencucian kaki diambil dari Injil Yohanes dan di perikop itu disebutkan istilah “murid-murid” dan bukan “rasul-rasul”, namun kalau Injil tersebut dibaca dalam kesatuan dengan ketiga Injil lainnya, dapat dimengerti bahwa peristiwa pembasuhan kaki pada saat Perjamuan Terakhir itu, memang dilakukan Yesus dengan ke 12 rasul-Nya. Sebab Injil Matius dan Markus menyebut bahwa di Perjamuan Terakhir itu Yesus makan bersama dengan ke-12 murid-Nya (lih. Mat 26:20; Mrk 14:17); dan Injil Lukas menyebutkan bahwa Yesus makan bersama dengan rasul-rasul-Nya (lih. Luk 22:14). Namun adalah fakta bahwa Yohanes memilih kata “murid-murid”, bukan “rasul-rasul” untuk mengisahkan peristiwa pembasuhan kaki dalam Injilnya; dan memang hanya Injil Yohanes yang mengisahkan tentang pembasuhan kaki ini. Maka kemudian Gereja melestarikannya upacara pembasuhan kaki untuk maksud yang lebih luas, dan tidak terbatas kepada para rasul. Sebagaimana dicatat dalam sejarah, ada pembasuhan kaki juga dilakukan kepada sejumlah kaum miskin. Bahkan upacara ini dilestarikan juga di zaman Abad Pertengahan oleh para raja dan ratu Katolik -seperti yang dilakukan oleh para Raja Inggris dan Ratu Isabella II dari Spanyol[1]- yang mencuci kaki para bawahannya/ para kaum miskin di kerajaan mereka. Namun tentu tidak pada saat perayaan Misa kudus.

Dengan demikian, nampaknya pembasuhan kaki memang memiliki arti yang lebih luas daripada mandat Kristus kepada para Rasul untuk mengenangkan peristiwa kurban Tubuh dan Darah Kristus dengan mengucap syukur/ berkat, memecah-mecah roti dan membagi-bagikan roti tersebut, yang terjadi oleh perkataan konsekrasi dalam perayaan Ekaristi. Sebab untuk hal yang kedua ini, Injil jelas menyebutkan “keduabelas murid” atau “rasul-rasul”, dan dengan demikian, meng-institusikan Ekaristi kepada kedua belas Rasul-Nya, yang kemudian diteruskan oleh mereka kepada para penerus mereka, yaitu para Uskup dan imam melalui tahbisan. Kepada merekalah Tuhan Yesus memberikan kuasa untuk menghadirkan kembali kurban Tubuh dan Darah-Nya (lih. Luk. 22:19).

Sedangkan tentang pembasuhan kaki penekanannya tidak untuk menghadirkan kembali peristiwa itu, tetapi untuk memberikan teladan pelayanan dan kasih Kristus.

Maka tak mengherankan, jika Paschale Solemnitatis kemudian mengatakan:

“51. Pencucian kaki dari para laki-laki dewasa yang terpilih, menurut tradisi, dilakukan pada hari ini [Kamis Putih], untuk menyatakan pelayanan dan cinta kasih Kristus, yang telah datang “bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani.”

Tradisi ini harus dipertahankan, dan pentingnya maknanya dijelaskan secara sepantasnya.”

Karena maksud pencucian kaki ini adalah untuk menyatakan pelayanan dan cinta kasih Kristus, maka tidak ada kaitan langsung antara upacara pembasuhan kaki ini dengan tahbisan imam. Maka sekalipun dari 12 orang yang dibasuh oleh Paus itu ada wanitanya, tidak dapat dikatakan bahwa Paus setuju untuk menahbiskan wanita. Ketika ditanya perihal tahbisan wanita, Paus Fransiskus menjawab, “Sehubungan dengan tahbisan wanita, Gereja telah memutuskan dan mengatakan tidak. Paus Yohanes Paulus II telah mengatakan demikian, dengan rumusan yang definitif. Pintu itu sudah tertutup.” Paus Fransiskus mengacu kepada dokumen yang dituliskan oleh Paus Yohanes Paulus II, Ordinatio Sacerdotalis. Di sana Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa Gereja tidak berhak menahbiskan wanita, dan pandangan ini harus dipegang oleh semua, sebagai sesuatu yang definitif.

7. Kesimpulan

Pada akhirnya baik diingat bahwa ritus pembasuhan kaki adalah ritus optional, dan baru dimasukkan ke dalam bagian Misa pada tahun 1955 oleh Paus Pius XII. Maka walaupun memiliki sejarah yang panjang, namun detail pelaksanaannya memang mengalami perubahan dari masa ke masa. Namun karena tidak menjadi ritus yang mutlak, maka hal tersebut memungkinkan untuk disesuaikan oleh pihak Tahta Suci, jika kelak memang diputuskan demikian.

Jika hal pencucian kaki ini menimbulkan banyak pertanyaan baik dari kalangan umat maupun imam, tentunya ini akan ditanyakan kepada Kongregasi Penyembahan Ilahi, yang berwewenang untuk menjelaskannya lebih lanjut. Namun sejauh ini, sepanjang pengetahuan kami, belum ada pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh Kongregasi tersebut, selain dari ketentuan Paschales Solemnitatis, 51, seperti telah disebutkan di atas. Maka sebelum dikeluarkan penjelasan lebih lanjut, sebaiknya kita berpegang kepada ketentuan tersebut, namun tetap menghormati keputusan Paus yang pasti mempunyai pertimbangan tersendiri, jika ia memutuskan untuk melakukan kekecualian ataupun penyesuaian dari ketentuan itu.

Posted in Liturgi | Leave a comment