TENTANG LEKTOR, PEMAZMUR, KOMENTATOR

Ketentuan tentang Lektor, pemazmur, pembaca doa umat, dan komentator menurut Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR):

Ketentuan tentang Lektor:

194. Dalam perarakan menuju altar, bila tidak ada diakon, lektor dapat membawa Kitab Injil (Evangeliarium) yang sedikit diangkat. Dalam hal seperti ini, lektor berjalan di depan imam, kalau tidak membawa Kitab Injil, ia berjalan bersama para pelayan yang lain.

195. Sesampai di depan altar, lektor membungkuk khidmat bersama para pelayan yang lain. Seorang lektor yang membawa Kitab Injil langsung menuju altar dan meletakkan Kitab Injil di atasnya. Lalu ia pergi ke tempat duduknya di panti imam bersama para pelayan yang lain.

128. Sesudah doa pembuka (kolekta), semua duduk. Imam dapat menyampaikan pengantar singkat agar umat mendengarkan sabda Tuhan dengan baik. Kemudian, lektor pergi ke mimbar dan mewartakan bacaan pertama dari Buku Misa yang sudah tersedia di sana sejak sebelum misa. Umat mendengarkannya. Sesudah bacaan lektor berseru: Demikianlah sabda Tuhan, dan umat menjawab dengan seruan: Syukur kepada Allah.

Tepat sekali bila sesudah bacaan diadakan saat hening sejenak, supaya umat dapat merenungkan sebentar apa yang telah mereka dengar.

129. Sesudah bacaan, pemazmur atau lektor sendiri membawakan ayat-ayat mazmur tanggapan. Umat menanggapi dengan menyerukan/ melagukan ulangan.

196. Lektor memaklumkan bacaan-bacaan sebelum Injil dari mimbar. Kalau tidak ada pemazmur, lektor boleh juga membawakan mazmur tanggapan sesudah saat hening yang menyusul bacaan pertama.

130. Kalau sebelum Injil masih ada bacaan kedua, lektor mewartakannya dari mimbar. Umat mendengarkannya dan, sesudah bacaan, memberi tanggapan dengan seruan seperti di atas (no. 128). Tepat sekali bila sesudah bacaan diadakan saat hening sejenak.

197. Kalau tidak ada diakon, lektor boleh membawakan ujud-ujud doa umat, sesudah imam membukanya.

Ketentuan tentang Lektor yang dilantik:

99. Lektor dilantik untuk membawakan bacaan-bacaan dari Alkitab, kecuali Injil. Dapat juga ia membawakan ujud-ujud doa umat dan, kalau tidak ada pemazmur, ia dapat juga membawakan mazmur tanggapan. Dalam perayaan Ekaristi, ia harus menjalankan sendiri tugas khusus itu (bdk. no. 194-198), biarpun pada saat itu hadir juga pelayan-pelayan tertahbis.

Ketentuan tentang Pemazmur:

61. Sesudah bacaan pertama menyusul mazmur tanggapan yang merupakan unsur pokok dalam Liturgi Sabda. Mazmur Tanggapan memiliki makna liturgis serta pastoral yang penting karena menopang permenungan atas sabda Allah.

Mazmur tanggapan hendaknya diambil sesuai dengan bacaan yang bersangkutan dan biasanya diambil dari Buku Bacaan Misa (Lectionarium).

Dianjurkan bahwa mazmur tanggapan dilagukan, sekurang-kurangnya bagian ulangan yang dibawakan oleh umat. Pemazmur melagukan ayat-ayat mazmur dari mimbar atau tempat lain yang cocok….

102. Pemazmur bertugas membawakan mazmur atau kidung-kidung dari Alkitab di antara bacaan-bacaan. Supaya dapat menunaikan tugasnya dengan baik, ia harus menguasai cara melagukan mazmur, dan harus mempunyai suara yang lantang serta ucapan yang jelas.

Ketentuan tentang Komentator:

105, b. Komentator yang, kalau diperlukan, memberikan penjelasan dan petunjuk singkat kepada umat beriman, supaya mereka lebih siap merayakan Ekaristi dan memahaminya dengan lebih baik. Petunjuk-petunjuk itu harus disiapkan dengan baik, dirumuskan dengan singkat dan jelas. Dalam menjalankan tugas itu komentator berdiri di depan umat, di tempat yang kelihatan, tetapi tidak di mimbar.

Ketentuan tentang Busana Lektor dan pelayan awam yang lain:

339. Akolit, lektor, dan pelayan awam lain boleh menggunakan alba, atau busana lain yang disahkan oleh Konferensi Uskup untuk wilayah gerejawi yang bersangkutan.

Ketentuan tentang Mimbar:

309. … Sebaiknya tempat pewartaan sabda berupa mimbar (ambo) yang tetap, bukannya ‘standar’ yang dapat dipindah-pindahkan. Sesuai dengan bentuk dan ruang gereja masing-masing, hendaknya membar itu ditempatkan sedemikian rupa, sehingga pembaca dapat dilihat dan didengar dengan mudah oleh umat beriman.

Mimbar adalah tempat untuk membawakan bacaan-bacaan dan mazmur tanggapan serta Pujian Paskah. Juga homili dan doa umat dapat dibawakan di mimbar. Untuk menjaga keagungan mimbar, hendaknya hanya pelayan sabda yang melaksanakan tugas di sana….

Ketentuan tentang Doa Umat:

71. Imam selebranlah yang memimpin doa umat dari tempat duduknya. Secara singkat ia sendiri membukanya dengan mengajak umat berdoa, dan menutupnya dengan doa. Ujud-ujud yang dimaklumkan hendaknya dipertimbangkan dengan matang, digubah secara bebas tetapi sungguh cermat, singkat dan mengungkapkan doa seluruh jemaat.

Menurut ketentuan, ujud-ujud doa umat dibawakan dari mimbar atau tempat lain yang serasi, entah oleh diakon, solis, lektor, entah oleh seorang beriman awam lainnya…

138. … Doa umat yang dipimpin oleh imam dari tempat duduknya. Dengan tangan terkatup, imam mengajak umat mengambil bagian di dalamnya. Ujud-ujud doa umat dimaklumkan oleh diakon, solis, lektor, atau pelayan yang lain, dari mimbar atau dari tempat lain yang cocok. Umat berpartisipasi dalam doa dengan aklamasi sesudah tiap-tiap ujud. Sambil merentangkan tangan, imam mengakhiri rangkaian ujud-ujud itu dengan doa.

Posted in Liturgi | Leave a comment

BAGAIMANAKAH KEHIDUPAN SUAMI-ISTRI DI SYURGA?

Apa yang terjadi pada pasangan suami istri setelah mereka meninggal? Dua ribu tahun yang lalu, orang Saduki mempertanyakan hal yang sama, seperti yang tertulis di Mrk 12:19-25 dan Mat 22:23-30. Orang Saduki bertanya kalau seorang istri menikah dengan tujuh suami, karena suami-suami yang sebelumnya telah meninggal, maka siapakah yang menjadi suami dari istri tersebut pada hari kebangkitan? Yesus menjawab “Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan, melainkan hidup seperti malaikat di Sorga” (Mt 22:30; Mk 12:25). Dari sini, kita melihat bahwa pada waktu di Sorga, pasangan suami-istri tidaklah seperti pasangan suami-istri yang kita tahu di dunia ini.

1) Kita juga mengingat, dalam janji yang dilakukan pada waktu menerima Sakramen Perkawinan, suami istri berjanji untuk sehidup semati sampai maut memisahkan mereka. Maka secara prinsip, sakramen – termasuk Sakramen Perkawinan – membantu kita untuk lebih dekat dan bersatu dengan Kristus. Dalam Sakramen Perkawinan, suami istri berusaha untuk menguduskan satu sama lain, sehingga mereka dapat mencapai Surga. Mereka juga dipanggil untuk mendidik anak-anak, sehingga anak-anak mereka juga dapat masuk dalam Kerajaan Sorga. Sakramen Perkawinan menjadi gambaran dari persatuan antara Kristus dengan Gereja-Nya (lih. Ef. 5). Dengan demikian, pada waktu kita semua masuk dalam Kerajaan Surga, kita tidak lagi memerlukan Sakramen, karena kita telah berjumpa dan bersatu dengan Kristus sendiri, dalam persatuan yang lebih sempurna dan abadi. Sakramen sebagai cara (means) tidak diperlukan lagi pada waktu kita mencapai tujuan (end), yaitu Kerajaan Sorga. Dengan demikian, pasangan suami istri tidak lagi memerlukan Sakramen Perkawinan di Surga. Bagaimana bentuk hubungan suami istri di Surga, kita tidak pernah tahu secara persis, dan Yesus hanya mengatakan bahwa mereka tidak kawin dan tidak dikawinkan, namun hidup sebagaimana layaknya para malaikat. Ini berarti, suami istri tidak lagi melakukan hubungan jasmani, karena persatuan dan kebahagiaan jiwa adalah lebih utama daripada kebahagiaan badani.

2) Apa yang dipersatukan Allah memang tidak boleh diceraikan oleh manusia (lih. Mt 19:6). Namun, kalau kita melihat kodrat dari Sakramen Perkawinan yang menggambarkan Perkawinan Kudus antara Kristus dengan Gereja-Nya, maka hubungan suami istri di dunia yang terikat di dunia, tidaklah diceraikan oleh Allah, namun justru diangkat derajatnya, sehingga setiap individu mengalami persatuan abadi dengan Allah; dan dengan persatuan di dalam Allah ini, maka persatuan antara suami dan istri di Surga mencapai kesempurnaannya. Persatuan abadi dengan Allah di Sorga ini adalah sempurna dan abadi, jauh lebih indah dari persatuan suami istri di dunia ini.

3) Bagaimana jika salah pasangan tersebut terpisah, di mana yang satu masuk Sorga dan yang lain masuk neraka? Manusia mempunyai kodrat sebagai manusia, karena dia mempunyai jiwa dan tubuh di mana jiwanya bersifat spiritual (silakan melihat diskusi ini – silakan klik dan artikel ini – silakan klik). Persatuan jiwa dan badan tidaklah bersifat sementara, namun persatuan tersebut adalah kodrat manusia. Dengan demikian, manusia A hanya dapat menjadi manusia A kalau dia mempunyai persatuan antara badan A dan jiwa A. Pada waktu kedatangan Kristus yang kedua, maka seluruh jiwa-jiwa akan mendapatkan badannya kembali, sehingga terjadi persatuan antara badan dan jiwa, yang membentuk kodrat manusia seutuhnya, di mana setiap individu adalah unik dan berbeda dengan individu yang lain.

Dengan demikian, kalau pasangan suami istri yang terpisah selamanya [yang satu di Sorga dan yang lain di neraka], maka mereka tidak dapat bersatu lagi. Setelah Kebangkitan Badan di akhir zaman, bagi yang berada di neraka, ia berada di neraka jiwa dan badannya. Bagi yang berada di Surga, ia juga berada di surga jiwa dan badannya. Jiwa mereka tidak akan tertukar satu sama lain maupun bersatu di satu tubuh, mengingat persatuan jiwa dan badan adalah telah menjadi kodrat manusia yang unik, yang tidak dapat ditukar ataupun digabungkan. Karena neraka adalah keterpisahan abadi dengan Tuhan dan Surga adalah persatuan abadi dengan Tuhan, maka neraka dan Surga tidaklah mungkin terseberangi. Dengan demikian, jiwa dan badan dari manusia A tidak akan mungkin bersatu dengan jiwa dan badan dari manusia B, jika yang satu berada di surga dan yang lain di neraka.

Posted in Perkahwinan | Leave a comment

BOLEHKAH HOMILI DIGANTIKAN DENGAN DRAMA?

Jika kita berpegang kepada Redemptionis Sacramentum, jawabannya adalah tidak. Homili yang menjelaskan bacaan-bacaan Kitab Suci dan Injil, merupakan satu kesatuan dengan bacaan-bacaan tersebut dalam Liturgi Sabda, di mana melalui pembacaan Sabda itu, Tuhan Yesus hadir (lih. KGK 1088).

Atas dasar pemahaman ini, umumnya homili dibawakan oleh imam perayaan yang berperan sebagai Kristus (in persona Christi), yang juga menyatakan kehadiran Kristus dalam Sabda-Nya. Maka tidak pada tempatnya homili digantikan dengan drama, apalagi dengan tari-tarian yang melompat-lompat, karena maksud homili adalah menjelaskan misteri iman dan norma-norma hidup Kristiani berkaitan dengan ayat-ayat Kitab Suci yang baru saja dibacakan.

Ketentuannya dalam Redemptionis Sacramentum tentang homili adalah demikian:

RS 64 Homili yang diberikan dalam rangka perayaan Misa Kudus, dan yang merupakan bagian utuh dari liturgi itu “pada umumnya dibawakan oleh Imam perayaan. Ia dapat menyerahkan tugas ini kepada salah seorang imam konselebran, atau kadang-kadang, tergantung situasi, kepada diakon, tetapi tidak pernah kepada seorang awam. Dalam kesempatan-kesempatan tertentu atau karena alasan khusus, tugas homili bahkan dapat diberikan kepada seorang Uskup atau Imam yang hadir dalam perayaan Ekaristi tetapi tidak ikut berkonselebrasi.

RS 65 Perlulah diingat bahwa norma apapun yang di masa lalu mengizinkan orang beriman tak tertahbis membawakan homili dalam perayaan Ekaristi, harus dipandang sebagai batal berdasarkan norma kanon 767, §1. Praktek ini sudah dibatalkan dan karenanya tidak bisa mendapat pembenaran berdasarkan kebiasaan.

RS 66 Larangan terhadap orang awam untuk berkhotbah dalam Misa, berlaku juga untuk para seminaris, untuk mahasiswa teologi dan untuk orang yang telah diangkat dan dikenal sebagai “asisten pastoral”; tidak boleh ada kekecualian untuk orang awam lain, atau kelompok, komunitas atau perkumpulan apa pun.

Demikianlah ketentuan dari Kitab Hukum Kanonik tentang homili:

KHK kan 767

§ 1 Di antara bentuk-bentuk khotbah, homililah yang paling unggul, yang adalah bagian dari liturgi itu sendiri dan direservasi bagi imam atau diakon; dalam homili itu hendaknya dijelaskan misteri- misteri iman dan norma-norma hidup kristiani, dari teks suci sepanjang tahun liturgi.

§ 2 Dalam semua Misa pada hari-hari Minggu dan hari-hari raya wajib yang dirayakan oleh kumpulan umat, homili harus diadakan dan tak dapat ditiadakan, kecuali ada alasan yang berat.

§ 3 Jika cukup banyak umat berkumpul, sangat dianjurkan agar diadakan homili, juga pada perayaan Misa harian, terutama pada masa adven dan prapaskah atau pula pada kesempatan suatu pesta atau peristiwa duka.

§ 4 Pastor paroki atau rektor gereja wajib mengusahakan agar ketentuan-ketentuan ini ditepati dengan seksama.

Posted in Liturgi | Leave a comment

APA ITU KONVALIDASI PERKAHWINAN?

1. Definisi Konvalidasi Perkawinan

Konvalidasi perkawinan (marriage convalidation) artinya adalah menjadikan suatu perkawinan yang sudah ada, diakui (diberkati) oleh Gereja Katolik. Pasangan yang memohon diberikannya konvalidasi perkawinan adalah karena pasangan itu Katolik (minimal salah satu Katolik) namun menikah di luar Gereja Katolik. Ketentuan Gereja Katolik adalah agar sebuah perkawinan diakui oleh Gereja Katolik, perkawinan itu harus dilakukan di Gereja (kecuali jika sudah diberikan dispensasi ataupun izin) agar perkawinan dapat dikatakan sebagai sah dan sesuai dengan ketentuan (licit) menurut hukum Gereja Katolik.

2. Apa maksudnya diadakan Konvalidasi Perkawinan?

Di mata Gereja Katolik, jika minimal salah satu dari pasangan adalah Katolik, namun perkawinan dilakukan di luar Gereja Katolik, maka perkawinan tersebut tidak memenuhi syarat untuk dikatakan sebagai perkawinan yang sah secara kanonik. Untuk memperbaiki keadaan ini, pasangan perlu menghadap pastor paroki. Pasangan perlu membuktikan bahwa mereka memasuki perkawinan yang non-kanonik itu tanpa maksud mengelabui/ mengakali. Kedua pihak perlu menunjukkan kesungguhan hati/ pertobatannya atas kesalahpahamannya dan perbuatannya yang keliru dan bahwa mereka menghendaki agar ikatan perkawinan tersebut “berlaku selamanya dan eksklusif (hanya melibatkan pasangan suami dan istri itu saja)” dan yang melaluinya mereka “dikuatkan dan sebagaimana seharusnya, dikuduskan bagi tugas- tugas dan martabat status mereka [sebagai pasangan suami istri]oleh sakramen yang khusus” (KHK Kan. 1134). Inilah maksud diadakannya konvalidasi perkawinan.

Konvalidasi perkawinan ini ada, karena Gereja Katolik sangat menjunjung tinggi makna perkawinan yang merupakan penggambaran kasih Kristus kepada Gereja-Nya. Karena itu, pasangan yang menikah selayaknya mengesahkan perkawinan mereka menurut ketentuan Gereja yang digambarkannya, agar mereka sungguh mengambil bagian dalam memberikan kesaksian kepada dunia akan ikatan kasih Kristus kepada Gereja, yang sifatnya monogam dan tak terceraikan. Dengan disahkannya perkawinan menurut ketentuan Gereja Katolik, maka pihak yang Katolik dapat kembali menerima sakramen-sakramen Gereja.

3. Di hadapan siapa konvalidasi perkawinan diadakan?

Di hadapan imam, sebagai wakil Gereja. Jika imam (pastor paroki) mempercayai maksud pasangan dan jika tidak ada halangan lain yang belum dibereskan, maka ia mempunyai hak dan dapat memberikan dispensasi dan mengesahkan perkawinan tersebut, sehingga perkawinan dapat dikatakan sebagai sah dan memenuhi ketentuan (licit).

4. Konvalidasi Perkawinan menurut Kitab Hukum Kanonik 1983:

Kitab Hukum Kanonik menyebutkan tentang konvalidasi sebagai berikut:

KHK Kan. 1156

§ 1 Untuk konvalidasi perkawinan yang tidak sah karena suatu halangan yang bersifat menggagalkan, dituntut bahwa halangan itu telah berhenti atau diberikan dispensasi dari padanya, serta diperbarui kesepakatan nikah, sekurang-kurangnya oleh pihak yang sadar akan adanya halangan.

§ 2 Pembaruan kesepakatan itu dituntut oleh hukum gerejawi demi sahnya konvalidasi itu, juga jika pada mulanya kedua pihak telah menyatakan kesepakatannya dan tidak menariknya kembali kemudian.

Kan 1157

Pembaruan kesepakatan itu harus merupakan suatu tindakan kehendak baru terhadap perkawinan, yang oleh pihak yang memperbarui diketahui atau dikira sebagai tidak sah sejak semula.

Kan 1158

§ 1 Jika halangan itu publik, kesepakatan harus diperbarui oleh kedua pihak dalam tata peneguhan kanonik, dengan tetap berlaku ketentuan Kanon 1127 § 2.

§ 2 Jika halangan itu tidak dapat dibuktikan, cukuplah bahwa kesepakatan diperbarui secara pribadi dan rahasia, dan itu oleh pihak yang sadar akan adanya halangan, asalkan pihak yang lain masih bertahan dalam kesepakatan yang pernah dinyatakannya, atau oleh kedua pihak, jika halangan itu diketahui oleh keduanya.

Kan 1159

§ 1 Perkawinan yang tidak sah karena cacat kesepakatannya, menjadi sah jika pihak yang tidak sepakat sekarang telah memberikannya, asalkan kesepakatan yang diberikan oleh pihak lain masih berlangsung.

§ 2 Jika cacat kesepakatan itu tidak dapat dibuktikan, cukuplah kalau pihak yang tidak memberikan kesepakatan itu secara pribadi dan rahasia menyatakan kesepakatannya.

§ 3 Jika cacat kesepakatan itu dapat dibuktikan, perlulah bahwa kesepakatan itu dinyatakan dalam tata peneguhan kanonik.

Kan 1160

Perkawinan yang tidak sah karena cacat tata peneguhannya, agar menjadi sah haruslah dilangsungkan kembali dengan tata peneguhan kanonik, dengan tetap berlaku ketentuan Kanon 1127 § 2.

Kan 1161

§ 1 Penyembuhan pada akar suatu perkawinan yang tidak sah ialah konvalidasi perkawinan itu, tanpa pembaruan kesepakatan, yang diberikan oleh otoritas yang berwenang; hal itu mencakup dispensasi dari halangan, jika ada, dan dispensasi dari tata peneguhan kanonik, jika hal itu dulu tidak ditepati, dan juga daya surut efek kanonik ke masa lampau.

§ 2 Konvalidasi terjadi sejak saat kemurahan itu diberikan; sedangkan daya surut dihitung sejak saat perayaan perkawinan, kecuali bila secara jelas dinyatakan lain.

§ 3 Penyembuhan pada akar jangan diberikan, kecuali besar kemungkinannya bahwa pihak-pihak yang bersangkutan mau bertekun dalam hidup perkawinan.

Kan. 1127

§ 2 Jika terdapat kesulitan-kesulitan besar untuk menaati tata peneguhan kanonik, Ordinaris wilayah dari pihak katolik berhak untuk memberikan dispensasi dari tata peneguhan kanonik itu dalam tiap-tiap kasus, tetapi setelah minta pendapat Ordinaris wilayah tempat perkawinan dirayakan, dan demi sahnya harus ada suatu bentuk publik perayaan; Konferensi para Uskup berhak menetapkan norma-norma, agar dispensasi tersebut diberikan dengan alasan yang disepakati bersama.

Posted in Perkahwinan | Leave a comment

Mengapa Bunda Maria disebut sebagai Hawa yang baru?

Bunda Maria disebut sebagai Hawa yang baru, sebab seperti halnya Hawa, Bunda Maria memainkan peran yang penting dalam sejarah keselamatan manusia. Hawa, adalah manusia perempuan pertama yang oleh ketidaktaatannya membawa maut ke dunia, sedangkan Bunda Maria, oleh ketaatannya melahirkan Sang Hidup ke dunia. Perbandingan antara Hawa dengan Bunda Maria sebagai ‘Hawa yang Baru’- tidak berdiri sendiri, melainkan sebagai kesatuan dengan perbandingan antara Adam dengan Kristus yang disebut sebagai ‘Adam yang baru’ (lih. Rom 5:12-21, 1 Kor 15:21). Jadi sama seperti bahwa ada keterlibatan Hawa, sehingga Adam jatuh ke dalam dosa, dan menurunkan dosa asal tersebut kepada semua umat manusia, maka demikian pula, ada keterlibatan Hawa yang baru yaitu Bunda Maria, sehingga Adam yang baru (Kristus) dapat lahir ke dunia untuk menghapus dosa manusia. Maka tepat jika dikatakan bahwa oleh Hawa, umat manusia jatuh dalam dosa, dan karena itu dalam kuasa maut; sedangkan oleh Maria, umat manusia menerima penghapusan dosa, dan karena itu menerima kehidupan kekal.

Hawa, terpedaya oleh bujukan Iblis, sehingga ia tidak taat kepada kehendak Tuhan, sedangkan Bunda Maria percaya oleh pemberitaan Malaikat, sehingga ia taat akan kehendak Tuhan. Maka St. Irenaeus mengatakan bahwa ikatan ketidaktaatan Hawa, yaitu belenggu dosa yang mengikat manusia karena ketidaktaatannya kepada Allah, diuraikan oleh ketaatan Bunda Maria. Harus diakui, bahwa pada awal mula, meskipun Adam juga berdosa, namun dosanya dilakukan setelah Hawa terlebih dahulu jatuh dalam dosa ketidaktaatan kepada kehendak Allah. Oleh karena itu, pada saat penebusan dosa, “obat penawar”nya adalah kondisi lawannya, yaitu diawali dengan ketaatan Maria, sang Hawa yang baru, kepada kehendak Allah (lih. Luk 1: 38) maka Kristus sebagai Adam yang baru dapat datang ke dunia oleh ketaatan-Nya kepada kehendak Allah Bapa (lih. Ibr 10:5-7).

Cara menginterpretasikan Kitab Suci dengan cara tipologis seperti ini, yaitu membandingkan penggambaran Perjanjian Lama dengan penggenapannya di dalam Perjanjian Baru, diajarkan oleh Kristus sendiri. Contohnya adalah Kristus mengatakan bahwa Ia merupakan penggenapan dari tanda Yunus (lih. Luk 11:30); pengorbananNya di kayu salib merupakan penggenapan akan gambaran ular tembaga yang ditinggikan di tiang oleh Musa (Yoh 3:14; Bil 21:8-9); dan penjelasan-Nya kepada kedua murid-Nya di perjalanan ke Emaus tentang penggenapan Kitab Suci Perjanjian Lama di dalam diri-Nya (lih. Luk 24:13-35). Penggenapan Perjanjian Lama dalam Perjanjian Baru ini juga diajarkan oleh para murid, seperti Rasul Petrus menghubungkan bahtera Nuh dengan Baptisan (lih. 1 Pet 3:18-22); Rasul Paulus menghubungkan perjamuan Paskah dengan kurban Kristus (lih. 1 Kor 5:7), dan Adam (manusia pertama) dengan Kristus sebagai Adam yang baru (lih. Rom 5:12-21). Maka tak mengherankan bahwa Tradisi Suci para Rasul dan para Bapa Gereja juga mengajarkan bahwa Bunda Maria adalah Hawa yang baru. Dengan demikian, penggambaran rencana keselamatan Allah yang samar-samar dinyatakan di dalam Perjanjian Lama, kemudian digenapi di dalam Perjanjian Baru.

Dasar Kitab Suci

Rom 5:12-21, 1 Kor 15:21: Kristus sebagai Adam yang baru:

Luk 1:38: Ketaatan Maria membuka jalan bagi ketaatan Yesus. Oleh perkataan Maria, “Jadilah padaku menurut perkataanmu.” Kristus masuk ke dunia melakukan kehendak Bapa (lih. Ibr 10:5-7)

Dasar Tradisi Suci

St. Yustinus Martir (155): “Ia menjadi manusia melalui Sang Perawan, agar ketidaktaatan yang terjadi dari sang ular dapat dihancurkan dengan cara yang sama seperti pada awalnya. Sebab Hawa, yang adalah seorang perawan dan tidak bernoda, yang percaya pada perkataan sang ular, membawa ketidaktaatan dan maut. Tetapi Perawan Maria menerima dengan iman dan suka cita, ketika Malaikat Gabriel memberitakan Kabar Gembira kepadanya bahwa Roh Kudus Tuhan akan turun atasnya dan kuasa yang Maha Tinggi akan menaungi dia: sehingga Yang Kudus yang dilahirkannya adalah Putera Allah; dan ia menjawab, “Jadilah padaku menurut perkataan-mu.” Dan melaluinya[Maria] Yesus telah lahir…” (St. Justin Martyr, Dialogue with Trypho, 100).

St. Irenaeus (180): “Sesuai dengan rencana ini, Perawan Maria taat, dengan berkata, “Aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu.” Tetapi Hawa tidak taat; sebab ia tidak taat ketika ia masih perawan. Dan bahkan ketika ia, yang memang telah bersuami, namun masih perawan …., yang menjadi tidak taat, menjadi sebab kematian, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi seluruh umat manusia. Juga Maria, yang telah bertunangan, meskipun ia perawan; dengan ketaatan, menjadi sebab keselamatan, baik bagi dirinya maupun seluruh umat manusia…. Juga Lukas, memulai silsilah dari Tuhan Yesus, sampai kembali ke Adam, menunjukkan bahwa hanya Dia [Tuhan Yesus] yang melahirkan mereka kembali ke dalam Injil kehidupan, dan bukan mereka yang melahirkan-Nya. Dan dengan demikian, ikatan ketidaktaatan Hawa telah dilepaskan dengan ketaatan Maria. Sebab apa yang telah diikat kuat oleh perawan Hawa melalui ketidakpercayaannya, telah diuraikan oleh Perawan Maria melalui iman.” (St. Irenaeus, Against Heresy, 3:22)

Tertullian (212): ” Sebab ketika Hawa masih perawan, perangkap kata-kata telah masuk ke dalam telinganya yang membangun kematian. Maka serupa dengan itu, ke dalam jiwa seorang perawan, harus diperkenalkan kata-kata Sabda Allah yang membangun jalinan kehidupan; sehingga apa yang telah dihancurkan oleh jenis kelamin ini dapat, oleh jenis kelamin yang sama, dipulihkan kepada keselamatan. Seperti Hawa telah percaya kepada sang ular, Maria percaya kepada sang Malaikat. Pelanggaran yang terjadi karena seorang telah percaya [kepada sang ular], oleh seorang yang lain dihapuskan karena percaya [kepada malaikat]. (Tertullian, Flesh of Christ, 17)

Dasar Magisterium

Konsili Vatikan II, Konstitusi tentang Gereja, Lumen Gentium:

“Atas titah Allah ia[Maria] diberi salam oleh Malaikat pembawa Warta dan disebut “penuh rahmat” (Luk 1:38). Demikianlah Maria Puteri Adam menyetujui sabda ilahi, dan menjadi Bunda Yesus. Dengan sepenuh hati yang tak terhambat oleh dosa mana pun ia memeluk kehendak Allah yang menyelamatkan, dan membaktikan diri seutuhnya sebagai hamba Tuhan kepada pribadi serta karya Putera-Nya, untuk di bawah Dia dan beserta Dia, berkat rahmat Allah yang mahakuasa, mengabdikan diri kepada misteri penebusan. Maka memang tepatlah pandangan para Bapa suci, bahwa Maria tidak secara pasif belaka digunakan oleh Allah, melainkan bekerja sama dengan penyelamatan umat manusia dengan iman serta kepatuhannya yang bebas. Sebab, seperti dikatakan oleh St. Ireneus, “dengan taat Maria menyebabkan keselamatan bagi dirinya maupun bagi segenap umat manusia.”[1]. Maka tidak sedikitlah para Bapa zaman kuno, yang dalam pewartaan mereka dengan rela hati menyatakan bersama Ireneus: “Ikatan yang disebabkan oleh ketidak-taatan Hawa telah diuraikan karena ketaatan Maria; apa yang diikat oleh perawan Hawa karena ia tidak percaya, telah dilepaskan oleh perawan Maria karena imannya.”[2] Sambil membandingkannya dengan Hawa, mereka menyebut Maria “bunda mereka yang hidup”[3]. Sering pula mereka menyatakan: “maut melalui Hawa, hidup melalui Maria.”[4]. (LG 56)

“Sebab dalam iman dan ketaatan ia melahirkan Putera Bapa sendiri di dunia, dan itu tanpa mengenal pria, dalam naungan Roh Kudus, sebagai Hawa yang baru, bukan karena mempercayai ular yang kuno itu, melainkan karena percaya akan utusan Allah, dengan iman yang tak tercemar oleh kebimbangan. Ia telah melahirkan Putera, yang oleh Allah dijadikan yang sulung di antara banyak saudara (Rom 8:29), yakni Umat beriman. Maria bekerja sama dengan cinta kasih keibuannya untuk melahirkan dan mendidik mereka.” (LG 62)

Katekismus Gereja Katolik: 411, 726, 2618, 2853, 129.

KGK 411 Tradisi Kristen melihat dalam teks ini pengumuman tentang “Adam baru” (Bdk. 1 Kor 15:21-22.45) yang oleh “ketaatan-Nya sampai mati di salib” (Flp 2:8) berbuat lebih daripada hanya memulihkan ketidak-taatan Adam (Bdk. Rm 5:19-20). Selanjutnya banyak Bapa Gereja dan pujangga Gereja melihat wanita Yang dinyatakan dalam “protoevangelium” adalah Bunda Kristus, Maria, sebagai “Hawa baru”. Kemenangan yang diperoleh Kristus atas dosa diperuntukkan bagi Maria sebagai yang pertama dan atas cara yang luar biasa: ia dibebaskan secara utuh dari tiap noda dosa asal (Bdk. Pius IX: DS 2803). dan oleh rahmat Allah yang khusus ia tidak melakukan dosa apa pun selama seluruh kehidupan duniawinya (Bdk. Konsili Trente: DS 1573).

KGK 726 Pada akhir perutusan Roh, Maria menjadi “wanita”; Hawa baru, “bunda orang-orang hidup”, bunda “Kristus paripurna ” (Bdk. Yoh 19:25-27). Dalam kedudukan itu ia bersama dengan keduabelasan “sehati bertekun dalam doa” (Kis 1:14), ketika Roh Kudus pada pagi hari Pentekosta menyatakan awal “zaman terakhir” dengan memunculkan Gereja.

KGK 2618 Injil menyatakan kepada kita, bagaimana Maria berdoa dan menjadi perantara dalam iman: di Kana (Bdk. Yoh 2:1-12) ibu Yesus meminta apa yang dibutuhkan untuk perjamuan perkawinan. Perjamuan ini adalah tanda bagi satu perjamuan lain: yakni perjamuan perkawinan Anak Domba, di mana Kristus, atas permohonan Gereja sebagai mempelai-Nya, menyerahkan tubuh dan darah-Nya. Pada saat Perjanjian Baru, Maria didengarkan pada kaki salib. Karena ia adalah wanita, Hawa baru, “ibu semua orang hidup”, yang benar.

KGK 2853 Pada saat Yesus menerima kematian dengan sukarela guna memberikan kehidupan-Nya kepada kita, kemenangan diperoleh atas “penguasa dunia” (Yoh 14:30) satu kali untuk selama-lamanya. Itulah pengadilan atas dunia ini, dan penguasa dunia ini “dilemparkan ke luar” (Yoh 12:31, Bdk. Why 12:11). Ia “memburu wanita itu” (Bdk. Why 12:13-16), tetapi ia tidak berkuasa atasnya; Hawa baru yang “terberkati” oleh Roh Kudus, dibebaskan dari dosa dan dari kebusukan kematian (karena dikandung tanpa noda dosa dan karena sebagai Bunda Allah yang selalu perawan, Maria diangkat ke dalam surga). “Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain” (Why 12:17). Karena itu Roh dan Gereja berdoa: “Datanglah, ya Tuhan Yesus” (Why 22:20, Bdk. Why 22:17), karena kedatangan-Nya akan membebaskan kita dari yang jahat.

KGK 129 Jadi umat Kristen membaca Perjanjian Lama dalam terang Kristus yang telah wafat dan bangkit. Pembacaan tipologis ini menyingkapkan kekayaan Perjanjian Lama yang tidak terbatas. Tetapi tidak boleh dilupakan, bahwa Perjanjian Lama memiliki nilai wahyu tersendiri yang Tuhan kita sendiri telah nyatakan tentangnya (Bdk. Mrk 12:29-31). Selain itu Perjanjian Baru juga perlu dibaca dalam cahaya Perjanjian Lama. Katekese perdana Kristen selalu menggunakan Perjanjian Lama (Bdk. 1 Kor 5:6- 8; 10:1-11.) Sesuai dengan sebuah semboyan lama Perjanjian Baru terselubung dalam Perjanjian Lama, sedangkan Perjanjian Lama tersingkap dalam Perjanjian Baru: “Novum in Vetere latet et in Novo Vetus patet.” (Agustinus, Hept. 2,73, Bdk. Dei Verbum 16)

CATATAN KAKI:

Lih. St. Ireneus, Melawan bidaah-bidaah III, 22,4: PG 7,959A; HARVEY 2,123 [?]

St. Ireneus, Ibid., : Harvey 2,124. [?]

St. Epifanus, Melawan bidaah, 78,18: PG 42,728CD-729AB [?]

St. Hieronimus, Surat 22,21: PL 22,408. Lih. St. Agustinus, Kotbah 51,2,3: PL 38,335; Kotbah 232,2: kolom 1108. St. Sirilus dari Yerusalem, Katekese 12,15: PG 33,741 AB. St. Yohanes dari Damsyik, Homili 2 pada Hari Raya Meninggalnya St. Perawan Maria, 3: PG 96,728 [?]

Posted in Bunda Maria | Leave a comment